Puting Beliung, Angin Kencang, dan Tornado, Apa Bedanya?

Oleh: Tony Firman - 14 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Puting beliung merupakan sebutan lokal Indonesia untuk menamai tornado berskala kecil.
tirto.id - Angin puting beliung memporakporandakan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Jumat (11/1) pukul 15.15 WIB.

Daerah yang mengalami kerusakan antara lain Perum Rancaekek Kencana, Kampung Jatisari, Kampung Papanggungan, dan Kampung Babakan Linggar Jati Baru di Desa Jelegong. Tampak dalam cuplikan video yang diunggah oleh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada akun Twitternya, bagian material bangunan terangkat ke langit dan berterbangan.

Dalam kronologi menurut rilis BNPB, cuaca pada pagi hari cerah. Beranjak siang, awan-awan mulai terbentuk dan terdapat awan kumulonimbus yang menutup daerah di Rancaekek dan sekitarnya. Langit mulai terlihat mendung dan cuaca menjadi gerah. Menjelang sore, angin mulai bertiup kencang dan makin lama makin kencang disertai hujan berintensitas sedang hingga tinggi, lalu terlihat puting beliung di langit.

Sampai Sabtu (12/1) malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung memastikan 640 rumah penduduk terdampak angin puting beliung di Kecamatan Rancaekek. Jumlah itu merupakan gabungan dari lima desa yakni Jelegong, Rancaekek Wetan, Rancaekek Kulon, Bojong Loa, dan Tegal Sumedang, serta kelurahan Kencana. Selain merusak ratusan rumah, puting beliung juga menyebabkan seorang luka berat, 15 luka ringan.

Sementara itu Humas Basarnas Bandung, Joshua Banjarnahor mengatakan, seluruh korban yang rumahnya rusak, telah mengungsi di beberapa titik lokasi yang dinilai aman. "Korban sudah dievakuasi di tempat lebih aman, ada yang dibawa ke kantor desa dan juga ada yang mengungsi ke rumah keluarganya," katanya.

Akhir bulan lalu, angin puting beliung juga menyambangi Desa Panguragan Kulon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada hari Minggu, 30 Desember 2018 sekitar pukul 14.30 WIB mengakibatkan seorang balita meninggal dunia dan 18 orang lainnya mengalami luka-luka. Selain menelan korban jiwa, puting beliung membuat 165 rumah warga, satu sekolah dan dua musala rusak.

Puting Beliung adalah Tornado?


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, puting beliung merupakan sebutan lokal Indonesia untuk menamai tornado berskala kecil. Tornado maupun puting beliung terjadi di daratan, jika terjadi di perairan lautan maupun danau bernama water spout.


Baik puting beliung, tornado, water spout dan siklon memiliki persamaan, yaitu sebuah pusaran atmosfer. Yang membedakan adalah ukuran diameternya. Tornado, puting beliung, dan water spout berdiameter rata-rata ratusan meter, sedangkan siklon bisa mencapai ratusan kilometer. Kerusakan akibat terjangan tornado diukur dengan sebuah skala bernama Fujita Scale, dengan rentang F0 sampai F5.

Sigit Bayhu Iryanthony dalam "Pengembangan Modul Kesiapsiagaan Bencana Angin Puting Beliung untuk Mahasiswa Pendidikan Geografi UNNES" (2015) menyebut angin puting beliung sebagai angin kencang yang berputar yang keluar dari awan kumulonimbus dengan kecepatan angin lebih dari 34,8 Knot atau 64,4 km per jam) dan terjadi dalam waktu yang singkat. Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan tekanan sangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan kumulonimbus.

Menurut Fazrul Rafsanjani Sadarang dkk berjudul "Sebaran Puting Beliung di Pulau Jawa" (2018) yang meneliti tentang karakteristik sebaran puting beliung di Pulau Jawa dari tahun 2012 sampai 2105 menguraikan, puting beliung umumnya terbentuk pada saat musim pancaroba dan musim hujan serta terjadi pada siang hingga sore hari antara pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB. Kondisi tersebut diakibatkan posisi matahari yang memberi pemanasan cukup maksimal pada saat musim tersebut.

Sinar matahari merupakan energi utama yang digunakan untuk proses konveksi hingga melabilkan udara dan membentuk awan-awan konvektif kumulonimbus. Kejadian puting beliung di suatu lokasi tidak akan berulang pada lokasi yang sama dalam rentang waktu yang singkat. Di beberapa daerah, puting beliung kadang disebut dengan nama angin puyuh, angin ribut, pentil munyer, dan lainnya.

Beda dengan Angin Kencang


Sama seperti tornado, puting beliung punya ciri bentuk berupa corong angin yang berputar kencang dari awan dan menjuntai ke tanah. Ciri tersebut yang membedakan dengan angin kencang yang kadang disertai badai hujan.


Misalnya seperti kejadian angin kencang baru-baru ini yang menerjang Desa Sidorejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang pada Jumat (11/1) sekitar pukul 16.30 WIB. Dilansir Antara, hujan deras yang disertai angin kencang itu merusak sedikitnya 11 rumah warga dan merobohkan satu pohon besar yang menimpa kabel listrik di desa tersebut. Kejadian serupa juga terjadi pada Sabtu (12/1) di Bojonegoro dan Jember. Semuanya sama-sama disertai hujan deras.

Angin kencang juga bisa terjadi di perairan seperti himbauan BMKG pada Kamis (10/1) kepada pelaku maupun pengguna transportasi laut agar mewaspadai potensi angin kencang di perairan Riau.

Menurut National Weather Service (NWS) United States, angin kencang di kala badai hujan adalah angin yang turun dari fenomena hujan badai dan menyebar dengan cepat dan kuat ketika menyentuh tanah. Angin seperti ini dapat menyebabkan kerusakan yang mirip dengan puting beliung atau tornado. Kecepatannya berkisar antara 104 sampai 117 km per jam dan kadang disalahartikan sebagai sebuah puting beliung.

Pada tahap awal pertumbuhan awan hujan badai, ada dorongan udara yang bergerak ke atas secara kuat dan mendominasi. Awan kemudian tumbuh secara vertikal, dan tetesan hujan atau hujan es mulai terbentuk.

Saat badai mulai matang, udara yang bergerak ke atas terus memberi makan awan dengan udara lembab dan tidak stabil. Rintik hujan atau hujan es terakumulasi dan siap jatuh ke tanah. Terkadang, udara yang bergerak ke atas cukup kuat hingga menahan laju air hujan. Di sisi lain, ada aliran udara kering yang menerpa bagian tengah dan bawah badai yang membikin laju udara yang turun ke bawah makin cepat.

Udara yang turun berhembus kencang bersama dengan hujan deras melaju ini menyapu ke segala arah ketika menyentuh daratan. Inilah yang kemudian disebut sebagai fenomena angin kencang atau angin ribut. Dari kejauhan, angin kencang kadang-kadang memang terlihat mirip puting beliung atau tornado karena adanya awan menggumpal hitam.

Infografik Puting beliung
Infografik Puting beliung


Sulit Diprediksi


Puting beliung tergolong dalam bencana hidrometeorologi bersanding dengan banjir dan longsor. Sejauh ini, kedatangannya di suatu daerah sulit diprediksi.


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menerangkan angin puting beliung tidak seperti kakaknya, badai tornado yang radius pergerakannya mencapai radius ratusan kilometer sehingga bisa dipantau. Selain itu, durasi kemunculan angin puting beliung seringkali singkat, hanya lima sampai sepuluh menit. Tornado, sebut Sutopo, bisa diprediksi karena babak kemunculannya bisa sampai satu minggu mulai dari bibit, lintasan hingga selesai.

"Mengapa tidak bisa diprediksi? Karena radius [pergerakan] puting beliung itu hanya kecil, kurang dari 5 km. Sehingga dari satelit tidak kelihatan," kata Sutopo Purwo Nugroho di Kantor Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (31/12/2018).

Namun, bukan berarti puting beliung sama sekali tidak bisa dideteksi. Kemunculan angin puting beliung umumnya didahului oleh cuaca cerah disertai suhu panas yang mendadak berubah menjadi berawan. Kemudian muncul angin yang terasa menyejukkan dengan intensitas biasa dan semakin lama semakin kencang. Jika situasi demikian diikuti kemunculan pusaran di awan, angin puting beliung akan segera muncul.

"Saat terjadi angin kencang tadi seharusnya kita berada di bangunan yang kokoh, jangan justru di luar. Itu yang harus kita antisipasi," ujar Sutopo.

Baca juga artikel terkait PUTING BELIUNG atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Tony Firman
Editor: Maulida Sri Handayani