Menuju konten utama
Mozaik

Angin Puting Beliung Telah Menerjang Cekungan Bandung Sejak 1913

Dalam catatan koran-koran era kolonial, angin puting beliung telah menerjang Bandung setidaknya sejak tahun 1913, yakni di kawasan perkebunan Ciumbuleuit.

Angin Puting Beliung Telah Menerjang Cekungan Bandung Sejak 1913
Header Mozaik Angin Puting Beliung Bandung. tirto.id/Ecun

tirto.id - Kawasan Rancaekek dan Jatinangor diterjang angin puting beliung, Rabu, 21 Februari 2024. Angin kencang yang melintasi Jalan Raya Bandung-Garut ini menumbangkan pohon dan sejumlah papan reklame.

Angin yang berputar sangat cepat juga memorak-porandakan pabrik-pabrik, pusat perbelanjaan BORMA, dan ratusan rumah penduduk. Puluhan orang terluka. Sampai tulisan ini dibuat, tidak ada korban jiwa.

Sebagai fenomena yang langka terjadi di Indonesia, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana akan meneliti peristiwa ini.

Dalam unggahannya di X (Twitter), Rabu (21/1), Erma Yulihastin sebagai pakar klimatologi di BRIN, mengatakan amukan angin di Rancaekek ini sudah masuk dalam kategori tornado, dan disebut sebagai tornado pertama di Indonesia.

Berada di dataran tinggi dan dilindungi gunung-gunung, kawasan Cekungan Bandung beberapa kali diterjang angin puting beliung. Masyarakat Sunda menyebut peristiwa alam ini sebagai angin puyuh.

Beberapa kali sejumlah daerah di Bandung diterjang angin yang sangat besar dan sampai menimbulkan korban jiwa, termasuk di Rancaekek.

Kawasan Rancaekek berjarak 16 km arah timur Kota Bandung. Daerah ini memiliki dataran luas yang dekat dengan pergunungan. Di masa lalu, dataran luas ini dimanfaatkan pemerintah kolonial untuk membangun infrastruktur vital.

Pada 1917, militer Belanda membuat lapangan pacu yang dipakai untuk berlatih dan meneliti karakter udara di Bandung dan sekitarnya. Landasan pacu ini hanya berfungsi beberapa bulan karena tanah Rancaekek labil dan sering dilanda banjir.

Warsa 1925, pemerintah membuka kompleks stasiun radio penerima di Rancaekek yang dibuat untuk mendukung keberadaan stasiun pemancar di Gunung Malabar.

Dari Rancaekek sampai Ciumbuleuit

Sebelum peristiwa kemarin, Rancaekek terakhir kali diterjang angin puting pada tahun 2019. Meski tidak memakan korban jiwa, angin yang menyerang Desa Jelegong dan sebagian kompleks perumahan Bumi Rancaekek Kencana ini melukai belasan warga dan membuat ratusan rumah rusak.

Puluhan tahun sebelumnya, tepatnya pada Oktober 1933, berdasarkan laporan sejumlah surat kabar semasa, Rancaekek juga diterjang angin puting beliung. Angin merusak dan menghancurkan puluhan rumah, serta menewaskan seorang warga.

Lima tahun kemudian, peristiwa itu terulang. Kali ini terjadi di kawasan Ciparay yang berjarak sekitar 9 km arah selatan Rancaekek. Peristiwa ini ditulis lebih menghebohkan karena angin besar menerjang pasar.

Menurut laporan koran Algemeen Handelsblad edisi 11 November 1938, peristiwa ini menyebabkan 9 gudang di pasar roboh dan melukai banyak orang. Angin juga menyebabkan sejumlah rumah rusak. Kedatangan angin ini disertai petir yang terus menyambar. Dua orang penduduk dilaporkan tewas tersambar petir.

Jauh sebelum kemunculan angin puting beliung di Rancaekek, fenomena serupa terjadi dekat Kota Bandung. Pada 1913 angin besar ini memorak-porandakan pusat perkebunan di Ciumbuleuit yang berjarak 4 pal atau 6 km di sebelah utara dari pusat Kota Bandung.

Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Februari 1913 menggambarkan peristiwa ini dengan lebih jelas. Beberapa dinding pabrik roboh dan balok kayu yang sangat berat terlempar ke dekat rumah administrator. Sejumlah rumah karyawan rusak, menyisakan beberapa rumah yang masih layak untuk dihuni.

Setelah kemunculannya di Ciumbuleuit, angin puting beliung kembali muncul, kali ini di kawasan sebelah timur Bandung.

Pada awal Januari 1922, koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie melaporkan serangan angin ribut di bagian timur Bandung. Sayangnya, berita ini dibuat sangat pendek sehingga tak banyak informasi yang didapat.

Koran itu hanya menyebut angin puting beliung terjadi di kawasan yang berjarak sekitar 6 mil atau 9,6 km dari pusat kota Bandung. Jika sekarang jaraknya diukur memakai Google Maps, kawasan tersebut kira-kira di sekitar Ujung Berung dan Cibiru.

Pada peristiwa itu tidak ada korban jiwa. Tapi angin puting beliung menghancurkan jaringan telepon, sehingga saluran interlokal dari Bandung menuju arah timur sempat terganggu.

Infografik Mozaik Angin Puting Beliung Bandung

Infografik Mozaik Angin Puting Beliung Bandung. tirto.id/Ecun

Edukasi dan Mitigasi

Meski tak kerap, fenomena angin puting beliung di kawasan Cekungan Bandung tidak boleh diabaikan. Beberapa catatan sejarah di atas memberi informasi bahwa angin besar yang melanda Bandung akan sangat kuat dan menghancurkan jika sudah terbentuk.

Selain kewaspadaan, edukasi tentang mitigasi sangat diperlukan oleh masyarakat saat ini. Pemerintah dapat menggandeng para ilmuwan untuk membuat edukasi tentang apa yang harus mereka siapkan sebelum angin puting beliung datang.

Dalam rilis resmi yang dikeluarkan BRIN, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Albertus Sulaiman, menjelaskan bahwa kerja sama antar disiplin ilmu dan partisipasi masyarakat dapat mempercepat pemahaman masyarakat tentang angin puting beliung sehingga deteksi dini, mitigasi, dan adaptasi dapat dilakukan.

Indonesia sepertinya dapat mencontoh Amerika Serikat dalam menyikapi fenomena tornado. Pemerintah AS melalui The National Weather Service melakukan penelitian terhadap tornado dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat jika tornado terbentuk.

Pemerintah Indonesia misalnya, dapat membuat alat atau metode yang bisa memprediksi kedatangan puting beliung atau angin tornado sehingga warga bersiap jika angin besar ini datang. Alat ini akan membuat penduduk waspada dan memperhatikan skala prioritas saat alat tersebut memberi peringatan dini.

Pemerintah juga dapat memberi edukasi tentang apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba fenomena puting beliung ini datang. Apakah harus keluar rumah, bersembunyi di bawah meja, atau jauh-jauh hari mesti membuat ruangan di bawah rumah. Usaha-usaha ini untuk meminimalisasi kerugian materi dan jatuhnya korban jiwa.

Rancaekek, seperti tempat-tempat di Indonesia lainnya, memiliki potensi bencana alam yang cukup tinggi. Gempa, banjir, longsor, dan kini puting beliung berskala besar tentu akan menjadi ancaman. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyikapi.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan lainnya dari Hevi Riyanto

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi