Pujian Adik BTP ke Prabowo: Pengaruhi Elektabilitas & Hapus Stigma?

Oleh: Felix Nathaniel - 16 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
Meski merupakan adik kandung BTP dan pernah menjadi pengacara BTP dalam kasus penodaan agama, namun pujian Fifi kepada Prabowo dinilai tak signifikan kerek elektabilitas capres 02.
tirto.id - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bertemu dengan adik perempuan Basuki Tjahaja Purnama (BTP), Fifi Lety Tjahaja Purnama, Sabtu (13/4/2019). Foto pertemuan diunggah Fifi melalui akun Instagramnya, Senin (15/4/2019).

Foto itu viral. Dalam keterangan foto, Fifi memuji Prabowo yang ia klaim menghargai minoritas.

"Bagi saya beliau ada pemimpin pilihan terbaik," tulis Fifi. "Beliau sudah membuktikan kecintaannya pada Indonesia, NKRI, dan Pancasila dengan tidak membedakan dan merangkul semua anak bangsa."

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade menjelaskan, pertemuan itu hanyalah silaturahmi biasa. Bukan untuk meraih suara pendukung setia BTP demi kemenangan Prabowo-Sandiaga.

"Yang jelas Pak Prabowo didukung seluruh masyarakat Hindu, Budha, Kristen, Islam, semuanya kok," tegas Andre kepada reporter Tirto, Selasa (16/4/2019).

Upaya Sia-sia


Koalisi politik pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang terdiri dari Gerindra, PKS, PAN, dan Partai Bekarya kerap distigmatisasi sebagai aliansi pendukung khilafah yang anti Pancasila. Gambaran ini misalnya secara tegas disampaikan oleh mantan kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Hendro Priyono yang berada di barisan pendukung Jokowi-Ma'ruf.

Pertemuan Fifi sebagai lingkaran dalam pendukung BTP baik sebagai adik maupun pengacara yang terus membela sang kakak dari tuduhan penodaan agama tentu menjadi menarik. Pertanyaan mendasarnya mampukah pujian Fifi kepada Prabowo menghapus tuduhan negatif ke kubu 02 dan memberi insentif elektoral dari kalangan minoritas?

Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Usman Kansong mengaku tidak khawatir ada migrasi pemilih Jokowi yang menyeberang ke Prabowo.
Sebab Fifi tak bisa menggerakan basis massa pendukung BTP.

"Enggak ada pengaruhnya. Dia bukan Ahok. Dan ini kan di ujung [pilpres]. Enggak ada pengaruhnya, terlalu mepet," kata Usman.

Dari survei belakangan, Usman mengklaim, Jokowi unggul. Jokowi dianggap sebagai tokoh lebih pluralis daripada Prabowo. Di sisi lain ada kelompok di belakang Prabowo yang menolak BTP di Pilkada Jakarta 2017.

Koordinator Ahoker Sedunia KP Norman Hadinegoro menegaskan dia tidak akan terpengaruh dengan pertemuan Fifi dengan Prabowo tersebut. Alasannya persis dengan yang diucapkan Usman: Ahoker tidak melihat sosok keluarga BTP, tetapi BTP itu sendiri.

"Mau satu kampung dukung Prabowo juga, kami tidak akan berpengaruh," tegas Norman yang menganggap Fifi berusaha membantu Prabowo kepada reporter Tirto.


Bumerang Untuk Antipati ke Fifi

Direktur Indonesia Political Review Ujang Komarudin menganggap usaha Prabowo sia-sia belaka. Fifi tidak memiliki ketokohan yang kuat untuk bisa menggaet kelompok minoritas.

"Tidak akan mengubah image Prabowo," ujar Ujang kepada reporter Tirto. "Fifi kan bukan tokoh."

Apa yang dilakukan kubu Prabowo ketika berusaha menggulingkan BTP saat Pilkada DKI Jakarta 2017, terlalu membekas. Untuk merangkul undecided voter, kata Ujang, upaya itu tidak efektif. Di belakang Prabowo-Sandiaga, masih ada tokoh seperti Rizieq Shihab yang bertentangan dengan BTP.

"Undecided voter juga tidak akan berubah hanya karena itu," katanya lagi.

Hal serupa disampaikan Direktur Populi Center Usep S Ahyar. Menurutnya pertemuan Fifi tak akan berdampak penting secara elektoral.

Prabowo harusnya bertemu lebih banyak orang jika ingin menguatkan citra mendukung pluralisme dan minoritas. Pertemuan itu, kata Usep, justru bisa menjadi bumerang bagi Fifi di media sosial. Dia mengatakan, ada banyak yang kecewa atas Fifi yang berseberangan dengan kakaknya sendiri.

"Pasti susah juga jika [pertemuan itu] tidak dipandang sebagai aktivitas politik," kata Usep kepada reporter Tirto.

"Ya akan lebih banyak antipati kepada Fifi atau Prabowo. Bisa saja keduanya."

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Current Issue)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Dieqy Hasbi Widhana