Al-Ilmu Nuurun

Puisi dan Hidup Muhammad Iqbal, Penyair-Filsuf Pembuka Zaman Baru

Sir Muhammad Iqbal. tirto.id/Quita
Oleh: Zacky Khairul Umam - 23 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Muhammad Iqbal dihormati dan dikenang sebagai bapak spiritual Pakistan. Gairah intelektualnya berakar dari puisi.
L’art pour l’art. Seni untuk seni. Slogan Perancis dari abad ke-19 ini adalah pandangan filsafat yang melepaskan nilai intrinsik seni dari fungsinya; entah moral, politik, maupun lainnya. Karena itu nilai seni, apapun bentuknya, tetap lestari.

Penyair-filsuf dan bapak spiritual Pakistan, Muhammad Iqbal, membenci gagasan yang menyebar luas itu. Baginya, seni, dalam hal ini puisi, adalah energi psikis untuk membangunkan muslim yang lama tertidur. Puisi ialah kendaraan bagi gerak pikirnya. Tak ada Iqbal jika tak ada puisi. Puisi adalah Iqbal. Ia memberikan khotbah, berdakwah, menyuarakan kebenaran, dan memberi penilaian melalui puisi. Ia menulis puisi dalam bahasa Urdu dan Farsi dan menulis prosa dalam bahasa Inggris.

“Aku mengembara untuk mengejar diriku sendiri; akulah sang pengembara, dan akulah tujuan,” tulisnya.

Bait sajak di atas menjadi salah satu buah pikiran dalam diarinya yang menandakan perubahan spiritualnya pada 1910. Diari tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Stray Reflections (1961).

Tak lama setelah menulis bait itu, gaya kepenyairan Iqbal menjadi lebih bertenaga. Dalam sajak berjudul "Shikwa" (Pengaduan), ia membuat berang sebagian muslim karena isinya menyebut Tuhan meninggalkan mereka. Iqbal kemudian menjawab dalam puisi berikutnya, "Jawab-e shikwa": Tuhanlah yang justru menyalahkan muslim karena mereka tak tahu diri. Umat Islam, ungkap Iqbal dengan liris, hanya membawa takdir kemalangan pada diri mereka sendiri.


Menghayati Puisi Lama Persia

Sejak belia Iqbal tekun membaca puisi-puisi Persia. India pada periode akhir kolonial Inggris tidak mematikan semangat puitis itu. Budaya ini terus hidup hingga Pakistan berpisah dari India, bahkan sampai kini. Afganistan, Pakistan, dan negeri-negeri istan (secara harfiah berarti tanah atau tempat) lainnya menjadi nukleus budaya Farsi, yang sejak ratusan tahun sebelumnya berpusat di Iran.

Dari rahim budaya ini, Muhammad Iqbal lahir dan berkembang. Penyair Persia kuno seperti Rudaki, Ferdowsi, Rumi, Sa'di, dan Hafez mewarnai masa tumbuhnya. Salah satu adegan dalam film puitis Sokut (1998) karya Mohsen Makhmalbaf, sutradara Iran, menggambarkan dua gadis kecil yang riang gembira menghafal puisi Persia klasik di bus sekolah. Mereka dikoreksi dan dituntun oleh seorang lelaki kecil buta yang peka. Ini gambaran umum di negeri yang terpengaruh syair Persia. Puisi menjadi keseharian di mana-mana dan bagi siapa saja.

Tak semua penyair Persia disukai Iqbal. Hafez, penyair Persia klasik yang menurut Shahab Ahmed dalam What is Islam? The Importance of Being Islamic (2015) memengaruhi bacaan muslim dari Balkan hingga Bengal, dikritik habis-habisan oleh Iqbal dalam buku puisi berbahasa Persia pertamanya, Asrar-e khodi (Rahasia Diri). Karya yang diterbitkan pada 1915 itu terpengaruh oleh metrum Mathnavi, mahakarya Rumi.

Dalam karya tersebut, Iqbal menyerukan manusia untuk menguatkan daya tenaga diri dan mengaktifkan potensi melalui keberanian—tema kebajikan yang umum dalam pemikiran Yunani dan Islam. Romuz-e bikhodi (Misteri Pengorbanan Diri) terbit tak lama kemudian yang menyerukan tanggung jawab pribadi dalam lingkup komunitas muslim dan peran mereka di dunia. Terinspirasi dari surah al-Anbiya ayat 107, Iqbal menyerukan kaum muslim, sebagai umat penutup, harus meneladani Rasulullah sebagai nabi penyebar rahmat bagi semesta alam.

Selain pernah meniru metrum Rumi dan menyindir Hafez, Iqbal juga menjawab puisi Persia abad ke-14 berjudul "Golshan-e raz" karangan Mahmud Shabestari. Di dalam jawaban puisinya, "Golshan-e raz-e jadid", Iqbal membahas tentang Tuhan, manusia, dan dunia. Sajak ini terdapat dalam koleksi puisinya yang berjudul Zabur-e 'ajam (Zabur Persia).

Sementara itu Iqbal juga menjawab buku puisi Goethe, yang terinspirasi dari Divan karya Hafez, berjudul West-Östlicher Divan (1819). Karyanya berjudul Payam-e mashreq (Pesan dari Timur) yang diterbitkan pada 1923 dan ditulis dengan gaya klasik berformat sajak empat baris. Di sini, Iqbal banyak menyinggung filsuf dan politikus Eropa.


Ke Angkasa Bersama Rumi

Sepanjang hayat kariernya ia bangun sebagai pengacara, terutama setelah belajar di Universitas Cambridge, Inggris. Selain hukum, ia belajar filsafat Neo-Hegel di kampus itu. Pada musim panas 1907 ia pergi ke Heidelberg untuk mempelajari bahasa Jerman, kemudan meraih gelar doktor di Universitas Ludwig Maximillian, München. Risalah doktoralnya mengulik seputar perkembangan metafisika dalam tradisi Persia dari zaman Zoroaster purba hingga lahirnya agama Baha’i yang dituding sesat pada abad ke-19.

Ia mengajar filsafat sepulang ke Lahore, namun tak bertahan lama. Seperti Mahatma Gandhi, pengacara adalah profesi yang mentereng bagi Iqbal.

Pemikiran-pemikiran filosofis Iqbal tak ditulisanya dalam traktat, kendati ia mengantongi ijazah dua kampus besar Eropa. Puisi dan filsafatnya saling terkait. Karena itu para peneliti Iqbal mesti bersabar lantaran mereka harus bersusah payah mencari makna dari kata-kata puitisnya.

Pada 1932 karya terpentingnya, Javid-nama, diterbitkan. Buku ini didedikasikan untuk Javid, putra belianya. “Jika penciptaan manusia ialah tujuan puisi, maka puisi ialah pewaris kenabian,” tulis Iqbal dalam buku itu.

Annemarie Schimmel dalam laman Encyclopedia Iranica menilai karya tersebut sebagai ensiklopedia pemikiran Iqbal yang melukiskan perjalan sang penyair ke angkasa ditemani Maulana Rumi. Di angkasa, demikian diimajinasikan Iqbal, Rumi mengenalkannya pada berbagai bentuk puisi, filsafat, dan politik hingga ia mencapai singgasana jamal ilahi (keindahan ilahiah).





Gambaran perjalanan tersebut sangat dekat dengan metafora dalam peristiwa Isra Mikraj. Seperti manuskrip Persia yang secara indah menggambarkan perjalanan suci Nabi Muhammad di malam hari itu, Iqbal menyukainya dalam puisi.

Dengan gamblang ia bahkan menafsirkan efek dinamis dan kreatif dari perjalanan spiritual sekaligus puitis itu dalam bukunya yang diangkat dari enam kali kuliah filsafat Islam, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam. Judulnya jelas terinspirasi dari Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali.

Rekonstruksi mengajak kaum muslim untuk menggali spirit kebudayaan dinamis dalam Islam. Islam tidak pernah statis dan selalu menggelorakan perubahan. Saya teringat masa remaja ketika membaca buku berwarna hijau itu dari Buya Syafi’i Maarif. Ia senang sekali menjelaskan pemikiran Iqbal tentang potensi diri dan perubahan.

Pada dasarnya, Rekonstruksi merupakan interpretasi atas puisi Iqbal sendiri yang mewakili semangat esoteris dari puisi dan estetikanya. Jika dulu muslim maju karena, salah satunya, membaca Al-Qur'an dengan terang cahaya pemikiran Yunani, Iqbal ingin pula memanfaatkan fondasi tauhid Quranik sesuai semangat pengetahuan zaman. Dalam buku itu, ada sejumlah rujukan kepada pemikir Jerman seperti Immanuel Kant, G.W.F. Hegel, Johann Goethe, dan Arthur Schopenhauer, juga pemikir Perancis semacam Rene Descartes dan Henri Bergson.

Iqbal pernah menemui Bergson dan orientalis Louis Massignon secara langsung di Paris sepulang dari Konferensi Meja Bundar kedua kalinya di London pada 1932. Rangkaian konferensi itu membahas reformasi konstitusi di India yang juga dihadiri tokoh ternama lainnya seperti B.R. Ambedkar, M. Ali Jinnah, dan Gandhi. Iqbal melancong ke beberapa negara, termasuk mengunjungi Masjid Kordoba yang kemudian menginspirasi salah satu puisi agungnya.


Pada 1930, delapan tahun sebelum Iqbal meninggal, ia diminta memimpin sesi tahunan Liga Muslim di Allahabad. Dalam forum ini, ia pertama kali menyuarakan gagasan sebuah bangsa muslim yang terpisah dari India kolonial. Gagasan inilah yang kemudian menjadi ide pembentukan Pakistan pada 1947. Sikap dan pandangan politik ini berubah dari sikap Iqbal di masa muda sebelum Perang Dunia I. Saat itu ia lebih menghargai antinasionalisme dan internasionalisme dengan Imperium Inggris sebagai model kerja demokrasi.

Visi spiritual dan kemanusiaan Iqbal pada 1930 itu kemudian menjadi pembahasan canggih, menarik, sekaligus provokatif oleh Faisal Devji. Dalam buku bertajuk Muslim Zion: Pakistan as a Political Idea (2013), Devji, sejarawan dan intelektual Islam Kanada, menyebut gagasan politik Pakistan sebangun dengan lahirnya Israel tahun 1947.

==========
Redaksi Tirto kembali menampilkan rubrik khusus Ramadan "Al-Ilmu Nuurun". Tema tahun ini adalah para cendekiawan muslim global abad ke-20 dan ke-21. Kami memilih 33 tokoh untuk diulas pemikiran dan kontribusi mereka terhadap peradaban Islam kontemporer. Rubrik ini diampu kontributor Zacky Khairul Umam selama satu bulan penuh.

Zacky Khairul Umam adalah alumnus Program Studi Arab FIB UI dan kandidat doktor sejarah Islam di Freie Universität Berlin. Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang pemikiran Islam di Madinah abad ke-17. Ia pernah bekerja sebagai peneliti tamu pada École française d'Extrême-Orient (EFEO) Jakarta 2019-2020.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Zacky Khairul Umam
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Zacky Khairul Umam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight