Puisi-puisi Nizar Qabbani dan Terjemahannya yang Meragukan

Oleh: Dea Anugrah - 11 Juni 2017
Dibaca Normal 7 menit
Ada tiga buku yang menampilkan puisi-puisi Nizar Qabbani dalam bahasa Indonesia: Puisi Arab Modern, Surat dari Bawah Air, dan Yerusalem, Setiap Aku Menciummu. Dari segi kualitas maupun kuantitas, penerbitan terjemahan puisi-puisi Nizar Qabbani di Indonesia masih jauh dari cukup.
tirto.id - Jauh sebelum kemunculan agama Islam, lama sebelum organisasi-organisasi politik nasional lahir di Timur Tengah, bangsa Arab telah mengembangkan seni puisi. Di Mekah pada zaman praislam, misalnya, puisi-puisi terbaik digantungkan di Kabah, seakan-akan situs suci itu merupakan majalah dinding.

Berbeda dari manusia-manusia penghuni Nusantara yang gemar membangun candi-candi megah, bangsa Arab mempercayakan kisah-kisah mereka kepada kata-kata, kepada puisi. Sebab puisi, menurut Arieh Loya dalam "Poetry as a Social Document" yang diterbitkan International Journal of Middle East Study (1975), adalah satu-satunya monumen penanda kehidupan sosial dan kultural bangsa Arab. Lebih dari sekadar ekspresi artistik individual, puisi adalah cara mereka untuk menjelaskan diri secara kolektif.

Zaman berganti, negara-negara berdiri dan bubar, batas-batas pada peta bergeser, tetapi peran puisi sebagai dokumen sosial yang penting bagi orang-orang Arab tetap bertahan.

Salah satu penyair Arab modern terbesar adalah Nizar Qabbani: orang yang mendapat julukan “Raja Penyair Arab”, yang karya-karyanya diangggap “begitu penting bagi hidup kami, seperti udara”, dan yang pemakamannya diiringi oleh segenap laki-laki dan perempuan di Damaskus, kota kelahirannya.

Nizar lahir pada 21 Maret 1923, di tengah keluarga pedagang kelas menengah-atas. Kakeknya dari pihak ayah, Abu-Khalil, adalah seorang penyair, komposer, dan aktor teater. Maka, menurut Z. Gabay dalam “Nizar Qabbani, The Poet and His Poetry” (Middle Eastern Studies, 1973), dunia yang menyambut dan mula-mula dikenal Nizar adalah dunia yang dilingkupi atmosfer kesenian.

Damaskus pada masa itu adalah pusat kehidupan ekonomi, politik, dan kultural Suriah. Dan sebagaimana umumnya kota besar, kesenjangan sosial tampak mencolok di Damaskus. Muhyi al-Din Subhi dalam Nizar Qabbani: shi'dran wa insanan (1958) merangkum kehidupan Nizar dalam satu kalimat: “Ia tumbuh sebagai bocah kaya di lingkungan kere, pemuda berpendidikan di antara orang-orang bodoh, dan menjadi laki-laki progresif di tengah kaum reaksioner.”

Ada dua situasi sosial besar di Suriah pada masa muda Nizar Qabbani. Yang pertama ialah kemenangan kaum nasionalis terhadap penjajah Prancis; kedua, jurang antar generasi. Anak-anak muda yang terlahir semasa Mandat Prancis (nama lain bagi pendudukan negara-negara Barat pemenang Perang Dunia I terhadap bekas wilayah Kekaisaran Utsmani) dan mendapat pendidikan Barat memberontak terhadap nilai-nilai tradisional masyarakat Suriah.

Secara tradisional, ada pemisahan ruang berdasarkan jenis kelamin di Suriah. Pemuda dan pemudi tidak bergaul, tidak berpacaran, dan bahkan tak mengenal calon pasangan masing-masing sampai mereka dikawinkan (praktik itu tak hanya dijalankan oleh keluarga-keluarga muslim, tetapi juga para pemeluk agama lain). Korban terburuk situasi ini tentu perempuan.

“Ruang gerak para gadis benar-benar dibatasi dengan pingitan dan keharusan mengenakan pakaian serba tertutup. Keperawanan dianggap amat penting. Perempuan dijadikan 'ird, kehormatan laki-laki,” tulis Gabay.

Ketika Nizar berumur 15 tahun, kakak perempuannya, Wisal, 25 tahun, bunuh diri untuk menolak perjodohan yang diatur oleh orangtua mereka. Kejadian tragis itu memantik kemarahan dalam diri Nizar. Ia mengerti: keluarganya mungkin terdidik, beradab, dan tak pernah kelaparan, tetapi mereka tetap merupakan bagian dari masyarakat yang terbiasa mengorbankan perempuan.

Maka, ia mulai menulis puisi-puisi yang simpatik tentang hasrat perempuan, tentang nasib mereka yang mengenaskan.
Pada 1942, Nizar menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya, Qolat ly assamaro (The Brunette Told Me). Puisi-puisi cinta yang bertolak dari situasi sosial itu ditanggapi secara berbeda oleh golongan tua dan anak-anak muda Suriah.

Seorang kritikus bernama Syekh Ali al-Tantowi menulis sebuah artikel yang menyerang Nizar sekaligus puisi-puisinya, pilihan tema sekaligus gaya penulisannya (berbeda dari penyair-penyair sebelumnya, Nizar menulis dalam bahasa Arab sehari-hari dan bahkan sesekali ia menggunakan dialek lokal, bukan bahasa formal alias fushka), di majalah Al-Risalah edisi 661 (1964).

“Di Damaskus ada satu buku kecil yang baru terbit. Sampulnya elok dan halus, dan buku itu berhias pita, sebagaimana pinggang gadis-gadis penari dan penyanyi semasa penjajahan Prancis … di dalamnya tercetak kata-kata semacam puisi yang mengandung gambaran-gambaran tolol, busuk, dan mengesankan kekafiran … Sebuah buku sonder imajinasi karena penulisnya berotak tumpul dan tak berpendidikan,” tulis al-Tantowi.

Sebaliknya, anak-anak muda menyambut gembira puisi-puisi Nizar Qabbani. Bagi mereka, puisi-puisi itu menggemakan protes dan pengalaman mereka hidup di bawah aturan-aturan kolot yang membikin sengsara.

Tiga buku kumpulan puisi Nizar yang berikutnya: Tufulat nahd atau Childhood of a Breast (1948), Anti li atau You are Mine (1950), dan Samba (1951), adalah pengembangan proyek Nizar dalam buku pertamanya. Dengan berbagai cara, dalam buku-buku itu ia menulis tentang perempuan dan ketidakadilan yang mereka alami.

Namun, Nizar Qabbani tak berhenti di situ. Menyusul kekalahan negara-negara Arab dalam perang melawan Israel, Suriah mengalami banyak kekacauan. Ia merespons situasi tersebut dengan menulis puisi-puisi politik yang lebih keras dan terang-terangan. Salah satunya ialah “Khubz wa hashish wa qamar” atau “Roti, Hasis, dan Bulan” (1954) yang meratapi kebangkrutan bangsa Arab berkat korupsi, kebodohan, dan keyakinan mereka terhadap takhayul:

Jutaan orang berjalan tanpa sepatu,
percaya pada empat istri dan hari kiamat.
Jutaan orang berhadapan dengan roti
hanya dalam mimpi.
Merekalah orang-orang
yang menghabiskan malam
terbatuk-batuk di rumah.
...
Timur kita mengunyah sejarahnya sendiri,
mimpi-mimpinya yang lelah,
dan legenda-legendanya yang kosong.

“Roti, Hasis, dan Bulan” membikin kehebohan. Para anggota parlemen Suriah bahkan sempat berdebat apakah Nizar sepatutnya dipenjara karena menuliskan puisi tersebut. Pada 1955, dalam pengantar bukunya Qasaid atau Puisi-puisi, Nizar membela diri: “Saya menerbitkan puisi itu untuk orang-orang yang tak paham bahwa tugas seni adalah menyoroti masalah dan menyingkap tudung yang menutupi tragedi, bukan menyediakan solusi. Puisi itu saya tulis demi Timur yang lebih indah dan baik, Timur yang mengembalikan dupa, jimat, dan lampu-lampu ajaib kepada iblis.”

Nizar Qabbani memang mengawali kariernya dengan puisi-puisi cinta. Namun, alih-alih membikin pembaca kesemutan atau kena muntaber akibat keracunan kata-kata gombal, puisi-puisi cinta Nizar menjadi sangat menarik karena keberhasilannya menghubungkan perkara personal dan urusan-urusan umum. Atau, dalam bahasanya sendiri, “Aku tak hanya menulis kesedihan seorang perempuan, namun sejarah seluruh perempuan.”

Berikut potongan puisi Nizar yang berjudul “Ketika Aku Mencintaimu”:

Ketika aku mencintaimu
kedua payudaramu bergoyang
karena malu
dan berubah menjadi kilat dan guruh,
menjadi pedang, badai pasir.

Ketika aku mencintaimu
kota-kota Arab bangkit
dan menyerukan perlawanan
terhadap penindasan,
penguasa-penguasa jahat,
dan hukum-hukum adat
yang pilih kasih.

Sebaliknya, puisi-puisi politik yang banyak ditulis Nizar Qabbani di kemudian hari tak terasa kering atau sloganistik karena di dalamnya ia bicara dengan nada yang personal. Politik menyediakan konteks bagi puisi-puisi cintanya dan cinta menjadi bahan bakar dalam puisi-puisi politiknya. Dalam “Pelajaran Menggambar”, Nizar menulis:

Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku
dan memintaku menggambar tangkai gandum
Aku meraih pensil
dan menggambar sepucuk senapan

Anakku mencelaku,
ia berseru dengan gaya seorang ahli:
Tidakkah kau tahu, Ayah, beda antara
tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan kepadanya,
Anakku, kita pernah tahu
bentuk tangkai gandum
bentuk sekerat roti
dan mawar-mawar.
Tapi pada masa segenting ini
pohon-pohon hutan telah bergabung
dengan para tentara
sedangkan mawar-mawar
mengenakan seragam yang kusam.

Ketika tangkai gandum telah jadi senjata
ketika burung-burung bersenjata
budaya bersenjata
dan agama bersenjata
kau tak bisa membeli roti
tanpa menemukan peluru di dalamnya
kau tak bisa memetik mawar
tanpa durinya melukai wajahmu
kau tak bisa membeli sebuah buku
yang tak akan meledak di antara jari-jarimu.”

“Menulis adalah seni keterlibatan,” ujar Nizar Qabbani dalam esainya “Poetry Buses.” “Di luar keterlibatan, tak ada kerja menulis yang sungguh-sungguh. Tulisan bukanlah karpet Persia buat diinjak oleh penulisnya—seperti kata Jean Cocteau—dan bukan pula kursi berlapir aubusson atau bantal bulu burung buat menyandarkan kepala, atau kapal pesiar pribadi tempat kita berjemur dan menenggak bir dingin.”

“Menulis,” Nizar melanjutkan, “adalah beradu tangkas dengan maut setiap hari. Demikianlah sastra yang dipahami oleh Hemingway, Kafka, Lorca, Camus, Mayakovski, dan penulis-penulis lain yang menjalani hidup serta kerja menulis mereka di daerah perbatasan antara hidup dan mati.”

infografik nizar qabbani pujangga damaskus

Terjemahan bahasa Indonesia


Menimbang kedudukan penting puisi sebagai dokumen sosial bangsa Arab dan kenyataan bahwa Nizar Qabbani adalah salah satu penyair modern terbaik dan paling representatif dari tradisi kesusastraan Arab, sudah sepatutnya jika puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain di seluruh dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Sejumlah kecil terjemahan puisi Nizar Qabbani dalam bahasa Indonesia kadang tampil di rubrik budaya surat kabar dan majalah, dan ada pula yang beredar di blog-blog pribadi dan media sosial, namun, hingga kini agaknya hanya ada tiga buku yang menampung puisi-puisi Nizar dalam bahasa Indonesia: Puisi Arab Modern (Pustaka Jaya, 1983) oleh Hartojo Andangdjaja, Surat dari Bawah Air (Perpustakaan Mutamakkin Press, September 2016) oleh Usman Arrumy, dan Yerusalem, Setiap Aku Menciummu (Akar Indonesia, November 2016) oleh Irfan Zakki Ibrahim.

Buku pertama, sebagaimana terbaca dari judulnya, adalah bunga rampai yang memperkenalkan puisi-puisi Arab modern secara umum. Selain tiga puisi Nizar Qabbani, buku itu juga menampilkan terjemahan Hartojo atas puisi-puisi sejumlah penyair lain dari Timur Tengah, mulai dari Ibrahim al-Arid (Bahrain) yang relatif tak dikenal di Indonesia hingga Khalil Gibran (Libanon) yang amat termahsyur—terutama di kalangan pembaca remaja dan paruh baya. Pada bagian pengantar buku ini, Hartojo menyatakan bahwa ia menerjemahkan puisi-puisi itu dari buku-buku berbahasa Inggris dan menggunakan keterampilan berbahasa Arab-nya yang terbatas hanya untuk mencocokkan terjemahannya dengan teks asli.

Berbeda dari Hartojo, Usman dan Irfan mengaku menerjemahkan puisi-puisi Nizar Qabbani dari bahasa Arab. Jenis kedua buku yang mereka susun juga sama, yaitu himpunan puisi-puisi terpilih, bukan terjemahan utuh atas satu atau lebih buku puisi Nizar Qabbani.

Perbedaan keduanya: dalam Surat dari Bawah Air, Usman menyandingkan terjemahannya dengan teks Arab yang ia rujuk, sementara Irfan dalam Yerusalem, Setiap Aku Menciummu hanya menampilkan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Kemudian, yang lebih penting, Usman menyatakan secara jelas sumber puisi-puisi yang ia terjemahkan (3 jilid A'mal Kamilah atau Karya-karya Lengkap Nizar Qabbani) sedangkan Irfan tidak (ia menyebutkan sejumlah judul buku puisi Nizar Qabbani di bagian pengantar untuk memperkenalkan kiprah sang penyair, tetapi tak menyatakan secara spesifik teks-teks sumber terjemahannya).

Hal itu menjadi persoalan karena Usman dan Irfan menerjemahkan beberapa puisi yang sama, di antaranya, “Ketika Aku Mencintaimu”, “Kasidah Kesedihan”, dan “Pelajaran Menggambar”, tetapi hasil kerja keduanya sangat berbeda.

Dengan membandingkan terjemahan Usman dan teks Arab yang mendampinginya, segera ketahuan bahwa ia menerjemahkan dengan setia—meskipun sering kali kurang kreatif. Di sisi lain, pada terjemahan Irfan, sejumlah kalimat dan bait yang ada dalam teks Arab hilang, atau berbeda susunannya. Selain itu, terjemahan Irfan juga memuat sejumlah kata tambahan yang tak ada dalam teks asli.

Dalam puisi “Kasidah Kesedihan”, misalnya, bait pertama terjemahan Usman dan Irfan relatif sama, tetapi kata “burung” dalam teks berbahasa Arab diterjemahkan oleh Irfan sebagai “burung pipit.” Dan mulai dari bait kedua, perbedaan kedua versi terjemahan itu semakin tajam.

Berikut terjemahan Usman:

Cintamu, kekasih, mengenalkanku pada
kebiasaan buruk
Mengajariku menenggak ribuan kopi
sepanjang malam
Mengajariku keluar rumah untuk menyisir
ruas jalan
Mengusut wajahmu dalam hujan
dan
sorot lampu kendaraan
Dan jutaan bintang meliuk-liuk dari
sepasang matamu.

Dan inilah terjemahan Irfan:

Cintamu, perempuanku,
mengajarkan seluruh hal buruk
ia mengajariku
membaca cangkir-cangkir kopiku
ribuan kali dalam semalam,
melakukan eksperimen kimiawi,
dan mengajakku mengunjungi para peramal

Pertama, Usman menggunakan kata “menenggak” sedangkan Irfan memilih “membaca.” Mengacu kepada teks Arab, terjemahan yang tepat adalah “meminum” atau “menenggak.” Kedua, “melakukan eksperimen kimiawi” tak ada dalam terjemahan Usman. Ketiga, kalimat “mengusut wajahmu dalam hujan...” baru muncul dalam terjemahan Irfan pada bait ketiga.

Sampai di sini, jelas bahwa keduanya tidak menerjemahkan puisi itu dari sumber yang sama. Sumber pilihan Usman, kumpulan karya lengkap Nizar Qabbani dalam bahasa Arab, tentu layak dianggap otoritatif. Tetapi bagaimana dengan rujukan Irfan?

Tidak, Irfan tak menambahkan puisi karangannya sendiri dalam terjemahan tersebut. Ia menerjemahkan “Kasidah Kesedihan” dari “Epic of Sadness” yang terpacak di situs Poemhunter.com. Berikut ini bait pertama dan kedua “Kasidah Kesedihan” versi situs tersebut, lengkap dengan kata “sparrow” yang diterjemahkan Irfan menjadi “burung pipit”:

Your love taught me to grieve
and I have been in need, for centuries
a woman to make me grieve
for a woman, to cry upon her arms
like a sparrow
for a woman to gather my pieces
like shards of broken crystal

Your love has taught me, my lady, the worst habits
it has taught me to read my coffee cups
thousands of times a night
to experiment with alchemy,
to visit fortune tellers.

Kesalahan Irfan tentu tak terletak pada pilihannya untuk menerjemahkan dari bahasa sekunder, melainkan 1) “Epic of Sadness” versi situs Poemhunter.com tak sepatutnya dirujuk sebab ia tak dilengkapi keterangan siapa yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan 2) klaim bahwa puisi-puisi Nizar Qabbani dalam Yerusalem, Setiap Aku Menciummu diterjemahkan dari bahasa Arab (penerbit Akar Indonesia menulis: “Kami beruntung mendapatkan karya terjemahan Nizar Qabbani dari seorang peminat dan penekun sastra Arab, Irfan Zakki Ibrahim. Ia menerjemahkan langsung dari bahasa Arab yang ia pilih dari sumber-sumber yang ia sebutkan di dalam catatannya.”)

Dalam Yerusalem, Setiap Aku Menciummu, ada puisi-puisi pendek berjudul “Pertanyaan”, “Setiap Aku Menciummu”, “Cahaya Lebih Penting daripada Lentera,” dan “Dialog.” Sila bandingkan dengan “My Lover Asks Me”, “Everytime I Kiss You”, “Light is More Important than the Lantern”, dan “Dialogue.”

Dalam versi Arab yang diterjemahkan Usman, puisi “Pertanyaan” bukanlah puisi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari puisi panjang berjudul “Kitab Cinta”; demikian pula “Setiap Aku Menciummu” dan “Cahaya Lebih Penting daripada Lentera” adalah bagian dari puisi panjang lain yang berjudul “Surat Cinta”. Susunan itu pun terlihat dalam Arabian Love Poems (1998), kumpulan puisi terpilih Nizar Qabbani dalam bahasa Inggris terjemahan Bassam K. Frangieh dan Clementina R. Brown.

Dan lain dari keterangan situs Poemhunter.com, “Dialog” dalam buku Puisi Arab Modern bukanlah karya Nizar Qabbani, melainkan penyair Suriah-Libanon Adonis. Mengingat bahwa Hartojo Andangdjaja punya rujukan yang jelas: An Anthology of Modern Arabic Poetry oleh A. Khouri dan Hamid Algar (1974) serta Modern Arabic Poetry: An Anthology with English Verse Translations oleh Arthur J. Arberry (1950), buku itu tentu lebih dapat dipercaya.

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti