tirto.id - Salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan umat Islam setelah Hari Raya Idul Fitri ialah puasa Syawal. Puasa Syawal dapat dimulai pada tanggal 2 Syawal dengan jumlah pengerjaan selama enam hari.
Puasa Syawal telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah Riwayat hadis dijelaskan bahwa mengerjakan puasa Syawal selama enam hari, pahalanya setara dengan mengerjakan puasa selama setahun.
Puasa Syawal dapat dikerjakan secara berurutan mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal maupun tetrpisah. Puasa Syawal juga dapat dikerjakan mengikuti puasa Senin-Kamis.
Puasa Syawal 2025 Mulai Kapan?
Puasa Syawal dapat dikerjakan mulai tanggal 2 Syawal. Berdasarkan penetapan 1 Ramadhan 2025 oleh pemerintah yang jatuh pada 1 Maret 2025, maka tanggal 2 Syawal bertepatan dengan 1 April 2025.
Meskipun demikian, tanggal ini masih bersifat prediksi dan dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri melaksanakan puasa Syawal. Perlu diketahui, puasa Syawal tidak dimulai pada 1 Syawal atau bertepatan dengan Idul Fitri. Karena puasa saat 1 Syawal hukumnya tidak diperbolehkan atau haram.
Lebih lanjut, puasa Syawal memiliki beberapa keuatamaan. Orang yang mengerjakan puasa Ramadhan kemudian dilanjut dengan puasa Syawal, maka akan mendapat pahala seperti puasa sepanjang tahun.
Hal ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Kedua, pahala puasa Syawal berlipat ganda. Dalam sebuah riwayat dari Tsauban, Rasulullah Saw bersabda:
"Siapa yang berpuasa Ramadan, maka pahala puasa sebulan Ramadan itu [dilipatkan sama] dengan puasa 10 bulan, dan berpuasa 6 hari setelah Idulfitri [dilipatkan 10 menjadi 60], maka semuanya [Ramadan dan 6 hari bulan Syawal] genap setahun," (H.R. Ahmad).
Dalam pengerjaannya, puasa Syawal dapat dikerjakan secara berurutan maupun terpisah. Meskipun demikian, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menerangkan pengerjaan paling utama untuk puasa Syawal sebagai berikut:
“Menjalankan puasa [6 hari pada Syawal] secara berturut-turut lebih utama [dalam Islam daripada tidak berurutan].”
Pendapat lain datang dari Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj berpendapat bahwa puasa Syawal dapat dilakukan secara terpisah, tidak harus berturut-turut. Menurut pendapat ini, umat Islam memilih enam hari yang sesuai kenyamanan dan kesempatan dalam bulan Syawal.
Seseorang yang berniat puasa Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidl (13,14, 15 setiap bulan hijriah), ia tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal.
Tata Cara Shalat Sunnah Syawal setelah Lebaran
Selain disunnahkan mengerjakan puasa Syawal, umat Islam juga disunnahkan untuk melaksanakan shalat Syawal. Shalat sunnah Syawal disebut juga dengan shalat Utaqa atau shalat pembebasan. Salah satu keutamaan mengerjakan shalat Utaqa ialah diampuni dosa-dosa bagi yang mengerjakan. Shalat sunnah Syawal adalah shalat sunnah mutlak sebanyak delapan rakaat.
Dilansir dari laman NU Lampung, Syekh Abdul Qadir al-Jailani berdasarkan pada hadits dalam kitabnya Al-Ghunyah.menjelaskan, muslim yang mendirikan shalat Syawal sesuai tata caranya, maka akan diampuni dosa-dosanya sebelum ia mengangkat kepala setelah sujudnya, dan andaikan dia mati, maka dia mati dalam keadaan syahid yang dosanya telah diampuni.
Tak hanya itu, Syekh Abdul Qadir juga menyatakan seorang muslim yang mendirikan shalat sunnah Syawal dalam keadaan bepergian, maka Allah mudahkan baginya perjalanannya hingga tempat yang dituju. Andaikan ia memiliki utang, maka utangnya akan terbayar; dan seandainya ia memiliki kebutuhan, Allah akan memenuhi kebutuhannya.
Berikut tata cara shalat sunnah Syawal yang dapat dijadikan rujukan saat mengerjakannya:
- Shalat sunnah dilakukan delapan rakaat, bisa dilaksanakan pada siang ataupun malam hari.
- Dilaksanakan dengan empat kali salam, artinya masing-masing dua rakaat.
- Pada setiap rakaat membaca al-Fatihah dan surat al-Ikhlas sebanyak 15 kali.
- Setelah delapan rakaat selesai dilakukan, lanjut dengan membaca tasbih (subhanallah wa bi hamdihi, subhanallahil adhim) 70 kali, dan shalawat (allahumma shallli ‘ala sayyidina Muhammad) 70 kali.
- Dilanjutkan dengan membaca doa.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo