Menuju konten utama

Profil Yayoi Kusama, Seniman Ratu Polkadot Asal Jepang Meninggal

Seniman Jepang yang menekuni dunia polkadot, Yayoi Kusama, meninggal dunia. Ia banyak berkarya dengan motif bintik indah di dalam karya-karyanya.

Profil Yayoi Kusama, Seniman Ratu Polkadot Asal Jepang Meninggal
Seniman Jepang Yayoi Kusama melambaikan tangan dalam sesi pemotretan saat pratinjau pers pamerannya yang bertajuk "My Eternal Soul" di National Art Center, Tokyo, pada 21 Februari 2017. Pameran "My Eternal Soul" yang berlangsung selama tiga bulan ini akan dibuka pada 22 Februari 2015. (Foto oleh TOSHIFUMI KITAMURA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Yayoi Kusama, seniman Jepang yang dijuluki Ratu Polkadot, meninggal dunia pada 14 Agustus 2026. Kabar duka atas kematiannya baru diumumkan perusahaan milik Kusama pada Kamis (27/8/2026). Seperti apa jejak seni yang ditinggalkan Kusama dan bagaimana dunia mengenal seniman satu ini?

Seturut BBC, Yayoi Kusama diumumkan meninggal dunia pada usia 97 tahun. Ia dilaporkan meninggal di sebuah rumah sakit di Tokyo, Jepang.

Kusama sendiri selama beberapa dekade terakhir telah tinggal di rumah sakit jiwa. Hal ini dilakukannya secara sukarela karena masalah kesehatan mental yang ia derita imbas pengalaman masa lalunya.

Meski sejak 1977 memilih untuk tinggal di rumah sakit jiwa, ia terus menelurkan karya seni. Lukisan, patung hingga karya instalasi tetap dibuat oleh Kusama selama menjalani perawatan.

Dalam pengumuman kabar duka atasnya, Kusama juga disebut terus melukis hingga saat-saat terakhirnya. Hal ini digambarkan sebagai dedikasi sang seniman atas eksplorasi seni yang terus ia lakukan.

“Ia terus melukis hingga hari-hari terakhirnya, tak pernah melepaskan kuasnya, dan terus mengeksplorasi cinta abadi dan jiwa yang kekal,” tulis keterangan resmi tersebut.

Selama ini, Kusama dikenal sebagai seorang seniman avant-garde. Karya-karyanya diakui sebagai pembawa era tersendiri dalam sejarah seni kontemporer.

Visi seni Kusama merupakan hal yang kemudian membuatnya dikenal di seluruh dunia — selain wig merah terang yang sudah menjadi simbol kehadirannya. Keberanian dalam menciptakan warna, penggunaan motif polkadot yang dominan hingga kegemarannya menggunakan motif jaring merupakan sedikit dari visi artistiknya yang mendunia.

Profil Yayoi Kusama dan Rekam Jejaknya di Dunia Seni Polkadot

Meski tak semua mengenal Yayoi Kusama, namun visi artistiknya telah menjadi pelopor dalam berbagai bentuk imajinasi dalam seni kontemporer. Salah satu yang paling ikonik dari kreasi seniman ini adalah “Infinity Mirror Rooms”.

“Infinity Mirror Rooms” merupakan konsep ruangan dengan kaca di setiap sisinya untuk memunculkan kesan ketidakberhinggaan. Penempatan kaca yang saling memantulkan cahaya pada instalasi ini membuat setiap objek yang ditaruh di dalamnya tampak berada di sebuah ruangan tak berujung.

Konsep penggunaan kaca sebagai sisi ruangan untuk menghasilkan ilusi optik itu dipelopori oleh Kusama pada 1965. Sejak itu, ide artistik ini telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk, fungsi, serta medium.

Akan tetapi, kendati kini dikenal karena berbagai karya yang menembus batas imajinasi generasinya, Kusama memiliki kehidupan yang memilukan. Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mendapatkan pengakuan sebagai seniman di tengah situasi kesenian yang sangat didominasi laki-laki.

Kusama lahir di wilayah pegunungan Matsumoto, Jepang pada 1929. Ia lahir dari keluarga yang bekerja sebagai pembudidaya bibit tanaman.

Sejak kecil hingga remaja, Kusama dididik secara konvensional. Memiliki karier yang dimimpikan merupakan hal yang tampak tak tergapai bagi perempuan muda di Matsumoto kala itu.

Terlebih, Kusama tumbuh di tengah Perang Dunia II. Peristiwa itu membuat Kusama dan anak-anak seusianya terpaksa bekerja 12 jam sehari di pabrik militer.

Akan tetapi, hal itu rupanya tak mengubur mimpi Kusama. Berkat kegigihannya, ia terus memupuk visi artistiknya di tengah situasi yang serba tak nyaman. Ia rajin memamerkan karya-karya masa remajanya di setiap kesempatan yang ada.

Hingga ketika perang berakhir dan tahun menunjukkan angka 1948, Kusama pergi ke Kyoto untuk belajar melukis. Sejak itu, ia berpindah dari satu pusat kesenian ke pusat kesenian lain. Ia melanglang dari Kyoto hingga Kamakura untuk belajar berbagai gaya lukis berbeda.

Yayoi Kusama

Sejumlah awak media mengikuti tur pratinjau pers untuk pameran seniman Jepang Yayoi Kusama yang bertajuk '1945 to Now' di museum seni M+ di Hong Kong pada 9 Oktober 2022. (Foto oleh Peter PARKS / AFP)

Perjalanan itu akhirnya membawa Kusama ke Amerika Serikat pada 1957. Ambisinya pada seni membuatnya memantapkan diri untuk merengkuh pengakuan dari para kritikus seni dunia yang berkumpul di negara itu.

Ia pun aktif menciptakan karya seni di Amerika Serikat. Satu demi satu karyanya dipamerkan dan menyedot atensi publik di sana.

Tak jarang, ia menghasilkan karya yang berbicara sebagai ekspresi kritik terhadap situasi yang terjadi. Seperti yang ia lakukan ketika menentang Perang Vietnam lewat karya seni dan suara yang ia punya.

Akan tetapi, kendati ia aktif memproduksi karya selama di Amerika, pengakuan yang ia harapkan tak kunjung didapatkan. Dunia seni kala itu masih sangat didominasi laki-laki.

Karya demi karya yang dihasilkan Kusama berhasil menarik perhatian dan tak jarang dianggap provokatif untuk zamannya. Namun, seberapa pun karyanya menciptakan dampak, ia tetap saja dipandang sebagai seorang seniman perempuan.

Kekecewaannya kemudian memuncak ketika ide-idenya ditiru oleh seniman-seniman pria, termasuk Andy Warhol, Claes Oldenburg, dan Lucas Samaras. Dengan konsep seni yang mirip, karya-karya seniman laki-laki itu dipamerkan di galeri-galeri yang lebih bergengsi.

Hal itu membuatnya kembali ke Jepang pada dekade 1970-an. Ia pulang dengan kondisi kesehatan mental yang buruk. Hal ini adalah apa yang memicunya secara sukarela memilih tinggal di rumah sakit jiwa.

Seiring waktu, arah gerak peradaban manusia kemudian mendekat ke Kusama. Pada dekade 1990-an, ia mendapatkan pengakuan yang seharusnya ia dapatkan.

Pada 1993, ia menjadi satu-satunya seniman solo asal Jepang yang mewakili negaranya di Biennale Venesia. Pada 2001, ia dianugerahi Penghargaan Asahi sebagai pengakuan atas kontribusinya pada budaya, pengetahuan, dan kesenian yang luar biasa di Jepang.

Sejak itu, ia pun menjadi ikon seni dunia. Dominasi motif polkadot dalam karya-karyanya pada akhirnya membuatnya dijuluki Ratu Polkadot. Pada 2022 lalu, salah satu lukisannya terjual dengan harga USD10,5 juta atau sekitar Rp186 miliar.

Belakangan, persepsi publik terhadap Kusama juga berubah. Ia memulai perjalanan hidup sebagai seniman ketika keadaan dunia tak ramah untuk melakukannya. Kini, ia dirayakan sebagai salah satu seniman yang turut memberi arah pada perkembangan seni itu sendiri.

Hingga akhirnya, visi artistik Kusama terhenti pada 2026. Ia meninggal dunia pada 14 Agustus 2026. Dunia tak lagi bisa melihat karya-karya baru Yayoi Kusama, namun sumbangsihnya pada seni telah menjadi pondasi yang abadi.

Baca juga artikel terkait SENIMAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar