Prabowo-Sandiaga: Unggul di Dunia Maya, Keok di Quick Count

Oleh: Ahmad Zaenudin - 17 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Militansi di dunia maya bagi Prabowo-Sandiaga, gagal dikonversi di dunia nyata.
tirto.id - Hasil sementara hitung cepat atau quick count pemilihan presiden 2019 menyatakan pasangan calon presiden nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf, menang. Dalam hitung cepat Charta Politica, hingga pukul 16.50, dengan perolehan masuk sementara 81,90 persen, Jokowi menang 54,37 persen suara. Capres nomor urut 02 harus puas dengan 42,63 persen suara.

Namun, di dunia maya, khususnya Twitter, pendukung Prabowo-Sandiaga belum legawa atas hasil hitung cepat sementara tersebut.

Melalui tagar #IniCurang, kubu Prabowo memberikan perlawanan. Hingga Pukul 16.00, satu jam selepas hasil hitung cepat dipublikasikan, tagar itu telah digaungkan lebih dari 5.600 kali, menjadi salah satu topik trending di Indonesia.

Ismail Fahmi, pencipta Drone Emprit, perangkat analisis media sosial, menyebut tagar itu tak ubahnya sebagai alternatif perlawanan pendukung 02. Menurut Ismail, itulah satu-satunya yang bisa diperbuat saat ini.

“Dulu mereka menyalahkan server KPU, kini tidak,” kata Ismail kepada Tirto.

Perlawanan pendukung Prabowo dengan tagar #IniCurang adalah bentuk betapa militan kubu ini dalam gelaran Pilpres 2019. Sebelum tagar #IniCurang digaungkan, menurut penelusuran Drone Emprit, kubu 02 unggul di dunia maya, khususnya Twitter.


Sebelum pencoblosan dimulai, kubu pendukung Prabowo-Sandiaga menggunakan tagar-tagar seperti #BismillahInsyaAllahPrabowo, #GerakanSubuhAkbarIndonesia, #BesokTusukPrabowoSandi, dan #JokowerFitnahKejiUAS. Hasilnya terbilang baik.

Karena pendukung 02 adalah pendukung militan, menurut Ismail, mereka meramaikan dunia maya secara organik. Tagar-tagar yang dikampanyekan “dimakan” dengan baik oleh pengikut mereka, membuat beberapa tagar menjadi paling populer di Indonesia.



#TheVictoryOfPrabowo, misalnya. Paling tidak, ada 18 ribu tweet terkait tagar tersebut di Twitter. Hal itu menjadikan tagar itu lebih awal masuk menjadi topik trending, jauh lebih awal dibandingkan tagar #JokowiWinElection.

“Kalau dari 02, gerakannya banyak retweet. Follower militan memakan tweet-tweet dari influencer atau buzzer,” kata Ismail.

Di lain sisi, kubu Jokowi memanfaatkan lebih banyak buzzer hingga bot untuk meramaikan jagat Twitter. Akibatnya, tagar-tagar seperti #01TheCampion, #PilihOrangBaik, #PilihYgJelasIslamnya, dan #PilihYgBajuPutih memiliki interaksi yang lebih sedikit. Lebih parah, Ismail menyebut kampanye 01 di Twitter sering dianggap spam oleh sistem.


Mengapa Tak Bisa Diwujudkan ke TPS?

Militansi pendukung 02 di media sosial telah ada jauh sebelum pencoblosan dimulai. Tapi, mengapa keunggulan di dunia maya tersebut tidak bisa dikonversi menjadi kemenangan di dunia nyata?

Ismail menegaskan, meskipun media sosial berpengaruh, kekuatannya masih terbilang kecil. Menurutnya, kekuatan kampanye-kampanye via media sosial paling tidak hanya memperoleh 100 ribu engagement per hari.

“Intinya, percakapan di media sosial harapannya bisa menjangkau seluruh Indonesia. Namun, jumlah itu belum mewakili semuanya,” kata Ismail.

Secara fundamental, Ismail menyebut media sosial masih kalah menjangkau masyarakat dibandingkan media konvensional, khususnya televisi.

“Ini bisa dilihat sebagai pertarungan media digital melawan media terestrial (TV),” tegasnya.


Berdasarkan data yang dikumpulkan tim riset Tirto, iklan politik Jokowi lebih unggul dibandingkan Prabowo di televisi.

Dari 24 Maret hingga 12 April, pasangan Jokowi-Ma'ruf mengalokasikan dana Rp89,41 miliar untuk iklan. Di sisi lain, dari 24 Maret hingga 11 April 2019, pasangan Prabowo-Sandiaga mengalokasikan dana Rp75,60 miliar buat iklan.


Namun, Ismail menegaskan, meski media sosial kalah dibandingkan televisi, media gaya baru ini, khususnya Twitter, selalu sukses menciptakan keonaran.

Keonaran-keonaran yang hadir di Twitter sering digiring pula ke media konvensional. Sayangnya, Ismail belum mengetahui dampak elektoral keonaran di dunia Twitter berhubungan langsung dengan dunia nyata.

Sementara itu, Ross Tapsell, peneliti media Indonesia dari Australian National University (ANU), menyebut kedua kubu capres menciptakan polarisasi melalui buzzer, yang mencipta kampanye-kampanye seperti “kampanye hitam” dan “pasukan nasi bungkus” di dunia maya Indonesia.

“Dalam Pilpres 2019, baik Prabowo maupun Jokowi jelas-jelas memiliki tim buzzer yang bertugas menciptakan wacana, menangkal—atau malah memproduksi—bahan “kampanye hitam” di dunia maya. Istilah-istilah perang seringkali digunakan untuk menggambarkan ruang publik digital dewasa ini,” tulis Tapsell.

Melalui polarisasi di dunia maya itu, dunia nyata pun terkena, menurut Tapsell.

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Fahri Salam