Menuju konten utama

Estafet Transformasi Garuda Indonesia di Tangan Thomas Oentoro

Thomas Oentoro melanjutkan transformasi Garuda Indonesia warisan Glenny Kairupan, yang berhasil kerek pendapatan dan menekan rugi bersih perusahaan.

Estafet Transformasi Garuda Indonesia di Tangan Thomas Oentoro
Petugas memeriksa kondisi pesawat saat melakukan ramp check di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Selasa (19/12/2023). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepemimpinan baru di tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi dimulai di tengah momentum penting pemulihan maskapai nasional. Di bawah komando Thomas Sugiarto Oentoro agenda transformasi perusahaan dihadapkan pada pekerjaan rumah (PR) untuk memperkuat kesehatan keuangan dan daya saing.

Thomas menyebut bahwa dirinya akan melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh Direktur Utama sebelumnya, Glenny Kairupan, di mana proses pembenahan Garuda Indonesia tidak sekadar berorientasi pada aspek komersial semata.

Mengamini jejak Glenny, Thomas melihat pengelolaan maskapai pelat merah ini mengemban tanggung jawab moral yang jauh lebih luas bagi negara, mencakup reputasi bangsa hingga ekspektasi publik yang harus dijaga.

"Bagi beliau, Garuda Indonesia menyandang tanggung jawab yang melampaui kepentingan bisnis. Ada martabat bangsa yang dibawa, kepercayaan masyarakat yang dijaga, dan masa depan yang harus diperjuangkan," ujar Thomas dikutip dari Instagram pribadinya, Senin (12/10/2026).

Ia menyadari bahwa memimpin kelanjutan transformasi di tengah berbagai tantangan industri penerbangan bukanlah tugas yang ringan. Diperlukan konsistensi tinggi, pengambilan keputusan yang cermat, serta pembenahan fundamental yang berkesinambungan agar progres pemulihan perusahaan tidak terhenti.

Pergantian kepemimpinan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian proses pemulihan yang telah dirintis oleh jajaran pengurus sebelumnya.

Glenny Kairupan

Glenny H. Kairupan (kanan) beralih posisi dari Direktur Utama menjadi Komisaris Utama. Doc: Garuda Indonesia

Thomas mengaku, saat bekerja mendampingi Glenny sebagai Wakil Direktur Utama pada periode sebelumnya memberi Thomas ruang belajar yang mendalam mengenai kepemimpinan strategis.

Pengalaman tersebut menjadi landasan baginya untuk memastikan bahwa estafet ini tidak akan dimulai dari nol, melainkan memperkuat fondasi yang sudah ada.

“Apa yang telah dirintis harus terus diperkuat. Apa yang telah dibangun harus mampu menghasilkan nilai yang melampaui masa jabatan siapa pun,” tulisnya.

Pada Kamis (8/10/2026), dinamika kepemimpinan korporasi mencatat penyesuaian peran. Fadjar Prasetyo mengakhiri masa tugasnya sebagai Komisaris Utama, sementara Glenny H. Kairupan beralih posisi dari Direktur Utama menjadi Komisaris Utama.

Pada periode sebelumnya, Fadjar Prasetyo mengawal penyehatan tata kelola dan penguatan permodalan pascarestrukturisasi, termasuk dukungan program dari BPI Danantara senilai Rp23,67 triliun.

"Bagi saya, komisaris adalah penjaga arah, integritas, dan keberlanjutan perusahaan," ungkap Fadjar dalam keterangannya.

Sementara itu, fase stabilisasi bisnis dan percepatan pemulihan operasional, termasuk pemulihan armada serta kedisiplinan kerja, dipimpin secara langsung oleh Glenny Kairupan sejak Oktober 2025.

Di tangan Glenny, perbaikan kinerja perusahaan penerbangan pelat merah mulai terlihat. Sepanjang semester I-2026 Garuda Indonesia Group mencatatkan pendapatan 1,80 miliar dolar AS atau tumbuh 16 persen secara tahunan.

Laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT meningkat 12,7 persen menjadi 74 juta dolar AS, dan rugi bersih menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS. Perbaikan tersebut berlangsung di tengah tekanan biaya avtur yang meningkat 43,6 persen secara tahunan.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana