tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) dibuka menguat pada Senin (12/10/2026). Seturut Bloomberg, per pukul 09.08 WIB, rupiah bergerak menguat 18 poin atau 0,10 persen, membuat nilai 1 dolar AS berada di level Rp17.881.
Di kawasan ASEAN, penguatan serupa juga terjadi pada negara-negara lain pada pembukaan perdagangan hari ini. Peso Filipina juga menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia bergerak menguat 0,13 persen, baht Thailand melemah 0,06 persen, dan dolar Singapura menguat 0,09 persen.
Sementara itu, di Asia Pasifik, perdagangan mata uang lebih fluktuatif. Yen Jepang mengalami penguatan sebesar 0,09 persen, won Korea menguat 0,31 persen, namun yuan Cina justru melemah 0,01 persen.
Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini merupakan sinyal positif di tengah tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut. Sepekan lalu, tekanan terhadap rupiah relatif konstan akibat sejumlah faktor yang memengaruhinya.
Perkiraan bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga mereka masih terus jadi sentimen yang membuat dolar AS menguat dan pada akhirnya menekan rupiah. Terlebih, Gubernur The Fed Christopher Waller pekan lalu menyebut bahwa kenaikan suku bunga diperlukan untuk menurunkan tingkat inflasi di sana.
"Jika data ekonomi terus masuk sesuai perkiraan, saya memperkirakan kenaikan tambahan untuk mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen kita secara lebih tepat waktu,” kata Waller pada Kamis (8/10), dikutip dari Reuters.
Selain itu, perang yang tak kunjung usai di Teluk Persia juga masih membebani harga minyak mentah dunia dan pada akhirnya rupiah. Jalannya pertempuran bahkan kini berpeluang meluas setelah Presiden AS Donald Trump mengindikasikan kemauan AS terlibat dalam pertempuran di Yaman.
Seturut Anadolu, pada Sabtu (10/10), Trump menyebut jika Washington “akan mempertimbangkan” keikutsertaan mereka dalam pertempuran antara pasukan pimpinan Saudi dengan kelompok bersenjata yang didukung Iran, Houthi, di Yaman.
Sementara itu, dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia telah menyampaikan laporan APBN per 30 September 2026 pada Jumat (9/10) lalu. Dalam laporan tersebut, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa APBN mengalami defisit sebesar 1,24 persen terhadap PDB.
Suahasil menyebut bahwa tingkat defisit tersebut masih dalam batas yang wajar. Hal ini, katanya, mengingat pemerintah memang menetapkan APBD yang “didesain untuk defisit” sejak awal.
Nilai IHSG Sesi Pagi 12 Oktober
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan pagi hari ini juga dibuka menguat. Namun, laju indeks sempat tertekan cukup dalam setelah penguatan di awal perdagangan.
Seturut RTI Business, IHSG dibuka menguat pada level 6.109,319. Namun, per pukul 09.33 WIB, IHSG justru berbalik melemah ke level 6.096,779.
Selama periode awal perdagangan sesi pagi ini, IHSG telah bergerak dalam rentang level 6.081,529 hingga 6.128,723. Sepanjang pergerakan itu, terdapat 303 saham yang menguat, 282 saham melemah, dan 182 saham stagnan.
Sejauh ini, IHSG mencatatkan total nilai transaksi mencapai Rp1,88 triliun. Nilai turnover itu didapat dari penjualan 9,82 miliar saham melalui 343.758 kali transaksi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






































