Menuju konten utama

Sumsel Masuki Masa Puncak Suhu Maksimum Utama

Dalam situasi ini, semua pihak diimbau tidak melakukan aktivitas membakar lahan, kebun, maupun sampah.

Sumsel Masuki Masa Puncak Suhu Maksimum Utama
Personel Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan, Kamis (3/9/2026). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Provinsi Sumatra Selatan mulai memasuki masa puncak suhu maksimum utama. Yang patut diwaspadai, suhu udara tertinggi (mencapai 37 derajat celsius) tercatat terjadi di beberapa daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), suhu tertinggi di Sumsel terjadi di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Banyuasin yang berkisar 35-37 derajat celsius. Sementara suhu udara daerah lainnya, seperti Musi Banyuasin, Ogan Ilir, Muara Enim, dan Palembang, berkisar 25-35 derajat celsius.

Lalu, suhu udara di daerah dataran tinggi, seperti Pagaralam, berkisar 15-36 derajat celsius.

Saat suhu tinggi, hujan diprediksi terjadi di Musi Rawas Utara pada pagi hari. Memasuki siang hingga sore hari, hujan ringan berpotensi mengguyur Empat Lawang, Pagaralam, Lahat, Muara Enim, Musi Rawas Utara, dan OKU Selatan.

Hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Lahat dan Pagaralam. Pada malam hari, hujan ringan diprakirakan turun di Musi Banyuasin dan Musi Rawas Utara.

"Peningkatan suhu sebagian besar wilayah Sumsel karena pada Oktober 2026 memasuki periode puncak suhu maksimum utama. Rata-rata suhu udara pada periode tersebut dapat mencapai 35-37 derajat celcius," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel. Wandayantolis, Senin (12/10/2026).

Dia menjelaskan fenomena ini berkaitan dengan gerak semu tahunan matahari yang telah melintasi ekuator menuju Belahan Bumi Selatan (BBS). Meski penyinaran matahari terus bergeser ke selatan, suhu maksimum tidak langsung mencapai puncaknya pada saat yang sama.

Menurut dia, permukaan bumi membutuhkan waktu untuk merespons energi matahari yang diterima sehingga puncak suhu dapat terjadi beberapa minggu setelah periode penyinaran maksimum. Jeda ini dikenal sebagai thermal lag. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena musim kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumsel dan asap masih menjadi perhatian.

"Suhu tinggi, kelembapan tanah yang rendah, dan vegetasi yang mengering dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. Jika terjadi penyulutan api, kebakaran dapat lebih mudah berkembang dan memperburuk kondisi asap," kata dia.

Dalam situasi ini, semua pihak diimbau tidak melakukan aktivitas membakar lahan, kebun, maupun sampah. Kemudian menghindari sumber api di area yang kering dan mudah terbakar, serta mengurangi aktivitas fisik berat saat cuaca sangat panas dan mencukupi kebutuhan air minum.

"Mari tingkatkan kewaspadaan, cegah karhutla, kurangi paparan asap, dan lindungi kesehatan bersama," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Reporter: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi