tirto.id - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026) seiring ekspektasi meningkatnya pasokan dari Rusia. Sentimen ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Ukraina dan Rusia sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi satu sama lain, menyusul kesepakatan pasokan diesel antara Washington dan Moskow.
Harga minyak mentah Brent turun US$1,54 atau 1,47 persen menjadi US$103,18 per barel pada pukul 01.54 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di level US$90,31 per barel, turun US$1,54 atau 1,68 persen.
Kontrak berjangka gasoil ICE juga turun 3 persen menjadi US$1.436 per barel setelah Trump pada Jumat (9/10/2026) mengatakan bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 metrik ton atau sekitar 2,25 juta barel diesel ke pasar AS dan global.
Trump juga menyampaikan Rusia akan memasok tambahan 500.000 ton diesel pada November dan 1 juta ton lagi “segera setelah itu”. Menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), konsumsi diesel global diperkirakan mendekati 29 juta barel per hari.
Trump juga secara tak terduga mengumumkan pada Minggu (11/10/2026) bahwa Ukraina dan Rusia telah sepakat melakukan gencatan senjata di sektor energi. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pihaknya masih menunggu rincian kesepakatan tersebut. Sementara itu, Rusia belum memberikan komentar.
Analis utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pengumuman tersebut meredakan sebagian tekanan pasokan dalam jangka pendek.
“Namun, masih ada pertanyaan mengenai keabsahan dan keberlangsungan gencatan senjata tersebut. Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan itu benar-benar akan bertahan, penurunan harga minyak kemungkinan tetap terbatas,” ujar Waterer dikutip Reuters.
Terpisah, Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, pada Minggu mengatakan seluruh negara anggota perlu mengevaluasi apakah pelepasan tambahan stok diesel diperlukan. Negara-negara yang belum sepenuhnya menyalurkan volume pasokan yang telah dijanjikan juga diminta mempercepat penyaluran sisanya dengan memprioritaskan diesel.
Meski demikian, konflik di Timur Tengah masih membuat harga minyak mentah Brent di atas US$100 per barel.
Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu terhadap bandara internasional di Riyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Otoritas Arab Saudi juga melaporkan adanya korban luka dalam serangan baru terhadap bandara tersebut pada Minggu.
Sementara itu, pada Sabtu, Trump mengatakan AS tengah mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Konflik tersebut merupakan dampak meluas dari perang yang lebih besar dengan Iran yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari.
Selain itu, sejumlah serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan terjadi sepanjang bulan ini. Situasi tersebut mengancam pemulihan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada September.
Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), sebuah kapal tanker dihantam pesawat nirawak atau drone di sekitar area labuh Sohar, Oman. Kapal tanker lainnya mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz. Kedua insiden tersebut dilaporkan selama akhir pekan.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent untuk Desember menjadi US$90 per barel, dari perkiraan sebelumnya sebesar US$85 per barel. Hal tersebut disampaikan para analis yang dipimpin Daan Struyven dalam sebuah catatan riset.
“Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan dari Timur Tengah yang terus berlangsung pada akhirnya akan menurunkan harga minyak mentah. Namun, potensi eskalasi konflik kembali tetap menimbulkan risiko kenaikan harga yang signifikan,” tulis para analis tersebut.
Mereka memperkirakan premi risiko yang terkandung dalam harga minyak mencapai sedikit di atas US$20 per barel.
“Kami memperkirakan harga WTI, yang saat ini berada pada level tidak biasa rendah dibandingkan Brent akibat tingginya biaya pengiriman antara AS dan Eropa, akan rata-rata mencapai US$81 per barel pada Desember 2026 dan US$73 per barel pada 2027,” tambah mereka.
Di Teluk Meksiko, sejumlah perusahaan energi besar, yakni Shell, Chevron, dan BP, berupaya mengerahkan kembali personel serta memulihkan produksi di anjungan lepas pantai mereka setelah Badai Isaias menerjang wilayah tersebut pada Sabtu dini hari.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






































