Menuju konten utama

Plan Indonesia Salurkan Bantuan ke Anak Terdampak Bencana Aceh

Bantuan berupa peket kebersihan dan kebutuhan shelter (selimut, terpal, dan tikar) disalurkan ke Bireuen dan Pidie Jaya.

Plan Indonesia Salurkan Bantuan ke Anak Terdampak Bencana Aceh
Yayasan Plan Internasional Indonesia menyalurkan paket kebersihan untuk korban anak banjir Aceh. tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Yayasan Plan Internasional Indonesia menyalurkan puluhan paket bantuan kepada anak-anak korban banjir Aceh. Bantuan tersebut didistribusikan ke Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya.

Perinciannya, di Kecamatan Peusangan, Bireuen, Plan Indonesia menyalurkan paket kebersihan, termasuk kebersihan menstruasi 17 buah. Kemudian, paket shelter seperti selimut, terpal, dan tikar 35 buah.

Lalu, bantuan juga didistribusikan ke Kecamatan Juli, Bireuen. Di lokasi ini berupa paket kebersihan, termasuk kebersihan menstruasi 17 buah serta shelter seperti terpal, selimut, tikar sebanyak 12 buah. Adapun ke Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Plan Indonesia menyalurkan 17 paket kebersihan dan shelter 59 buah.

Plan Indonesia mengerahkan Tim Tanggap Darurat Plan Indonesia sejak 29 November. Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, mengatakan pihaknya menyaksikan langsung kondisi masyarakat yang merasa kehilangan akibat banjir bandang.

“Keluarga tidur di lantai tanpa alas maupun selimut. Anak-anak tinggal di ruang pengungsian tanpa sanitasi layak atau air bersih. Kondisinya sangat berat dan risiko bagi perempuan dan anak perempuan sangat mengkhawatirkan,” kata Dini di Pidie Jaya, Aceh.

Dini berkata Tim Plan Indonesia menemukan hanya satu sumber air yang digunakan seluruh warga sekaligus untuk mandi, mencuci, dan buang air oleh laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Menurut Dini, minimnya privasi dan fasilitas layak telah menyebabkan anak-anak mengalami ruam kulit, infeksi luka akibat evakuasi, serta tanda-tanda awal infeksi saluran pernapasan.

Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya penerangan pada malam hari yang meningkatkan risiko perlindungan bagi perempuan dan anak perempuan.

Selain itu, sumber penghidupan masyarakat juga terdampak berat.

"Banyak keluarga di Aceh bergantung pada sektor pertanian, namun ladang mereka tersapu banjir atau terkubur longsoran," tukas Dini.

Dini mengungkapkan tanpa lahan untuk digarap, rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan yang akan menghambat pemulihan jauh setelah air surut. Dia juga menegaskan akses bantuan kemanusiaan menjadi tantangan paling mendesak.

Tim Plan Indonesia menyaksikan langsung sedikitnya 48 desa masih terisolasi, sepenuhnya bergantung pada cara-cara berbahaya untuk menyeberangi sungai berarus deras. Tanpa jembatan yang berfungsi, warga menggunakan perahu kayu kecil atau kereta besi rakitan dengan sistem katrol manual yang ditarik warga hanya untuk membawa barang kebutuhan pokok, mencari pertolongan medis, atau mencapai titik evakuasi.

"Hambatan ekstrem ini memperlambat secara signifikan pengiriman bantuan, terutama bagi anak-anak, remaja perempuan, ibu hamil, serta lansia yang tidak dapat menyeberang dengan aman. Selama jalur ini tetap terputus, kelompok rentan akan terus menghadapi risiko kesehatan dan perlindungan yang meningkat," pungkas Dini.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Flash News
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fadrik Aziz Firdausi