Piala Presiden Telah Gagal sebagai Turnamen Pramusim

Oleh: Bulky Rangga Permana - 15 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Bali United dan Persija Jakarta menjadi "korban" gelaran Piala Presiden 2018.
tirto.id - Lewat akun instagram, pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, mengkritik penyelenggaraan Piala Presiden. Menurut pelatih asal Belanda ini, Piala Presiden dinilainya terlalu kompetitif padahal sebenarnya hanya turnamen pramusim untuk mempersiapkan diri menuju kompetisi sesungguhnya.

“Karena jumlah hadiahnya besar, saya lihat banyak pelatih yang berada di bawah tekanan,” katanya. “Tim-tim mau menang dan para suporter punya harapan besar. Namun, perlu kita ketahui ini hanya pramusim. Di dunia ini, tidak ada kompetisi pramusim sebelum liga utama yang melibatkan tim-tim yang sama.”

Robert menambahkan bila ingin meningkatkan sepakbola Indonesia, kompetisi pramusim harus dirancang untuk membangun tim sebelum liga dimulai.

“Tahun lalu, di Piala Presiden, bahkan banyak pelatih yang dipecat. Tentu saja, ini tekanan yang tidak perlu [dialami para pelatih] pada saat dia membangun tim. Mereka tidak siap untuk kompetisi pramusim. Jadi saya berharap sekali, kita pertimbangkan lagi Piala Presiden untuk berubah,” katanya.

Apa yang diungkapkan Robert dalam video tersebut merupakan perpanjangan dari kritik dia sekitar seminggu sebelumnya (27/1). Diwartakan Antara, saat itu pelatih berusia 63 tahun ini meminta agar waktu penyelenggaraan Piala Presiden sebagai turnamen pramusim dievaluasi agar tidak “seperti ada kompetisi sebelum kompetisi”. Ia menyarankan agar penyelenggaraan kompetisi dapat digelar di sela-sela liga utama.

Rene Alberts tidak sendirian dalam hal ini. Antony Sutton, orang Inggris yang menulis buku Sepakbola: The Indonesian Way of Life, juga mengkritik hal serupa. Melalui salah satu blog-nya, Jakarta Casual, ia mengatakan bahwa ini gejala yang umum di Indonesia: berkelindan dengan kebiasaan PSSI yang tak pernah pasti memberikan jadwal liga. Belum lagi pembuatan jadwal yang tidak mendukung bagi tim Indonesia yang tengah berlaga di turnamen regional seperti AFC Cup.

Sutton memberi contoh jadwal yang harus dilakoni Bali United yang praktis bertanding tiap dua atau tiga hari sekali. “Bali United kemungkinan akan bermain hampir 20 pertandingan sebelum Liga 1 dimulai, dan itu gila!” tulisnya.

Rawan Cedera

Kritikan-kritikan di atas bisa dimafhumi mengingat rawannya para pemain mengalami cedera saat gelaran Piala Presiden berlangsung. Turnamen yang sebetulnya diperuntukkan sebagai ajang pemanasan dan persiapan berubah menjadi pertandingan serius mengejar kemenangan. Tak aneh jika kemudian banyak pemain yang berjatuhan mengalami cedera.

Michael Essien dan Victor Igbonefo dari tim Persib Bandung, misalnya, menjadi korban sengitnya turnamen ini. Michael Essien mengalami cedera lutut sehari sebelum pertandingan kedua babak penyisihan Grup A Piala Presiden 2018 melawan PSMS Medan, sedangkan Victor Igbonefo harus ditarik keluar lapangan ketika menjalani laga terakhir melawan PSM Makasar.

Dari tim Mitra Kukar, ada Danny Guthrie yang terkapar. Pemain yang pernah membela Liverpool ini harus ditandu keluar lapangan ketika pertandingan baru berjalan 7 menit karena masalah otot saat timnya mengalahkan Kalteng Putra 1-0 di babak penyisihan Grup B. Sedangkan dari tim Sriwijaya FC, dua pemain belakangnya, Mamadou Ndiaye dan Novan Sasongko, mengalami cedera saat bertemu PSMS Medan di laga pamungkas Grup A.

Selain nama-nama di atas masih banyak lagi pemain yang masuk daftar cedera gara-gara Piala Presiden 2018 ini. Beberapa di antaranya adalah Ivan Carlos, pemain Persija asal Brasil; Robertino Pugliara, pemain Persebaya asal Argentina; dan Antoni Putro Nugroho, pemain sayap PSMS Medan.

Di Piala Presiden 2017 pun keadaannya tidak jauh berbeda. Di antara beberapa nama yang mengalami cedera cukup serius saat itu adalah Sergio Van Dijk (Persib Bandung), Yanto Basna (Sriwijaya FC), Engelberd Sani (Madura United), Dedi Gusmawan (Mitra Kukar), dan Bayu Pradana (Mitra Kukar). Van Dijk bahkan tidak sepenuhnya pulih hingga musim 2017 berakhir.

Infografik Piala Presiden


Lahirnya Piala Presiden

Piala Presiden pertama kali digelar pada 30 Agustus 2015. Saat itu sepakbola Indonesia sedang berada pada masa vakum menyusul sanksi FIFA yang diterima PSSI pada Mei sebelumnya. Kompetisi domestik sudah terhenti di tengah jalan dari sejak April. Melihat celah itu Mahaka Sports and Entertainment kepunyaan Eric Thohir pun menggagas turnamen Piala Presiden sebagai pengganti Liga Super Indonesia. Tim Persib Bandung tampil sebagai juara setelah menaklukan Sriwijaya FC 2-0 di Stadion Gelora Bung Karno.

Setelah Piala Presiden 2015 bermunculan turnamen-turnamen serupa seperti Piala Jenderal Sudirman dan Piala Bhayangkara. Pada 2016, saat masih terjerat sanksi FIFA, PSSI tidak bisa menggelar kompetisi resmi. Sempat muncul wacana untuk menggelar kembali Piala Presiden. Namun hal itu tidak terwujud. Pada tahun itu giliran Gelora Trisula Semesta yang mencoba menggagas turnamen nasional. Kali ini mengambil konsep liga yang diberi nama Indonesia Soccer Championship.

Piala Presiden baru bisa digelar kembali pada 2017. Tahun kemarin PSSI yang sudah terbebas dari sanksi FIFA mengambil alih penyelenggaraan Piala Presiden sebagai turnamen pramusim menjelang bergulirnya Liga 1 Indonesia. Gelar Juara Piala Presiden 2017, direbut oleh Arema FC setelah pada partai final mengalahkan Pusamania Borneo FC dengan skor 1-5 di Stadion Pakansari, Bogor.

Pada Piala Presiden 2018 kali ini pun, seperti tahun sebelumnya, PSSI menjadikan penyelenggaraan ini sebagai ajang pramusim. Namun, ada satu hal yang membuat penyelenggaraan Piala Presiden 2017 dan 2018 gagal dalam perannya sebagai pramusim: semua tim berlomba menjadi juara, dengan keseriusan selayaknya kompetisi resmi.

Salah satu indikator kegagalan itu adalah Bali United.



Bali United (dan Persija Jakarta) bukan hanya lolos semifinal Piala Presiden melainkan juga sudah harus bertanding di AFC Cup mewakili Indonesia. Jadwal leg pertama dan kedua semifinal Piala Presiden 2018 akan dihelat pada 10 Februari dan 13 Februari. Sementara itu pertandingan pertama Piala AFC 2018 akan berlangsung pada 13-14 Februari.

Sehari setelah menjalani semifinal leg pertama Piala Presiden di Palembang menghadapi Sriwijaya FC, Bali United sudah harus berhadapan dengan Yangoon United. Tim yang dilatih oleh Widodo Cahyono Putro itu keok 1-3. Sedangkan Persija tumbang dengan skor 0-3 dari Johor Darul Ta'zim, Malaysia.

Turnamen seserius AFC Cup pun harus "mengalah" dari turnamen pramusim — dan itulah bukti terkuat betapa Piala Presiden telah gagal sebagai pramusim.

Pramusim di Eropa

Namun, bisa pula kecenderungan turnamen pramusim yang kompetitif ini berkaitan erat dengan perputaran uang yang dihasilkannya. Lihat contohnya turnamen pramusim raksasa International Champions Cup (ICC) yang biasa mempertemukan klub-klub besar Eropa. Sebagaimana dilansir BBC, Charlie Stillitano, direktur Relevent Sport yang mendirikan ICC, mengatakan turnamen yang diadakannya itu “merepresentasikan pendekatan baru dalam persiapan pramusim oleh klub-klub elit Eropa.

Pada 2017 lalu, masih mengutip BBC, turnamen ICC tak tanggung-tanggung menghadirkan Manchester City, Manchester United, Tottenham, Real Madrid, Barcelona, Paris St-Germain, Juventus and Roma di Amerika. Diperkirakan klub mendapat pemasukan sekitar £9 sampai £15 juta hanya ikut berlaga di turnamen tersebut pada 2016.


Meski begitu, jika kita melihat pertandingan pramusim itu tidak ada “dorongan” yang biasa kita saksikan ketika klub-klub tersebut bertanding di pertandingan sesungguhnya. Pertandingan pramusim di antara klub-klub elit tersebut tampak santai dan lepas. Tak lebih dari sekadar pemanasan: mencoba pemain-pemain baru, menjajal formasi-formasi baru, mencoba komposisi pemain baru.

Tidak aneh jika kemudian, seperti ditulis Daniel Curtis dalam Newstatesman, kemenangan Inter dalam ICC yang digelar di Singapura jadi tampak hampa. Bahkan Christiano Ronaldo tak ikut berpartisipasi ketika Real Madrid bertemu dengan Barcelona, yang menunjukkan “betapa kecil artinya pertandingan klasik itu bagi Real Madrid,” tulisnya.

Baca juga artikel terkait PIALA PRESIDEN 2018 atau tulisan menarik lainnya Bulky Rangga Permana
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Bulky Rangga Permana
Penulis: Bulky Rangga Permana
Editor: Zen RS
a