Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Peta Dukungan Bakal Capres, Koalisi Anies Baswedan Terkucilkan?

Koalisi Perubahan tetap optimistis dan masih membuka diri bagi parpol yang mau bergabung dukung Anies Baswedan.

Peta Dukungan Bakal Capres, Koalisi Anies Baswedan Terkucilkan?
Header News Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. tirto.id/Tino

tirto.id - Nasib Koalisi Perubahan untuk Persatuan yang berisikan tiga partai pendukung Anies Baswedan terlihat semakin dikucilkan. Setidaknya oleh partai-partai lain, baik yang berada di parlemen maupun nonparlemen. Satu demi satu petinggi partai mengeluarkan pernyataan tidak akan mendukung Anies, walaupun tidak juga mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto.

Pernyataan pertama, keluar dari Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto yang dengan tegas menyatakan tidak akan mendukung Anies Baswedan, sosok bakal capres dengan citra antitesa Jokowi. “Itu sangat benar,” kata Airlangga pada awal Agustus 2023.

Hal yang sama juga ungkapkan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie. Dia menegaskan tidak akan mendukung Anies karena tidak memiliki visi dan misi yang sejalan dengan keinginan Jokowi. PSI melihat Anies adalah sosok antitesa Jokowi.

“Karena buat apa kita mendukung orang yang tidak mau berkomitmen untuk mau melanjutkan kerja Pak Jokowi," kata Grace Natalie usai mengunjungi Kantor DPP Projo pada Kamis (10/8/2023).

Di sisi lain, satu demi satu partai politik mulai melakukan pertemuan baik secara terbuka maupun tertutup. Pertemuan dilakukan dengan koalisi yang ada di Ganjar Pranowo maupun Prabowo Subianto. Di antara pertemuan yang menghasilkan kesepakatan adalah rencana dukungan Golkar kepada Prabowo.

Hal itu diungkap oleh Wakil Ketua Dewan Pembina Partai sekaligus adik kandung Prabowo, Hashim Djojohadikusumo. Dia menyebut Airlangga dan Sekjennya, Lodewijk Freidrich Paulus beberapa waktu lalu telah bertemu dengan Prabowo dan sepakat untuk mendukung Prabowo, meski belum ada deklarasi.

Kedatangan Golkar menambah kekuatan bagi Prabowo untuk maju pilpres. Saat ini Prabowo telah menghimpun Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya bersama PKB dan PBB. Selain ada Golkar yang memberikan sinyal hendak merapat mendukung Prabowo, PAN dan PSI oleh Hashim juga melakukan hal yang sama.

“Dari Golkar, saya bisa katakan secara tidak resmi, Pak Airlangga, Pak Lodewijk dan Pak Dito datang ke Pak Prabowo minggu lalu. Saya hadir, dan saya tidak ikut diskusi yang rinci, karena waktu itu saya ikut rapat di ruangan lain. Tapi yang datang dan saya jabat tangan waktu keluar sinyal semuanya senyum-senyum. Pak Prabowo, Pak Muzani, Pak Airlangga, Pak Lodewijk, dan Pak Dito juga senyum," kata Hashim dalam pertemuan daring relawan Prabowo pada Kamis (10/8/2023).

Selain koalisi Prabowo yang aktif bergerilya meyakinkan partai-partai untuk bergabung dalam koalisi, koalisi pendukung Ganjar juga melakukan hal yang sama. Bahkan PDIP, kerap melakukan manuver pendekatan kepada partai-partai yang telah memiliki koalisi. Seperti ke Partai Demokrat yang telah tergabung dalam Koalisi Perubahan dan ke PKB yang tergabung dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya.

"Ya kami welcome, karena kerja sama itu kan menjadi suatu keharusan, menjadi bagian dari kultur bangsa," kata Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto di sela acara pelatihan Juru Kampanye Partai di Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada Sabtu (5/8/2023).

Kunjungan DPP PSI ke Kantor DPP Projo

Kunjungan DPP PSI ke Kantor DPP Projo dalam rangka penyatuan gerbong politik untuk Pilpres 2024, Kamis (10/8/2023). (Tirto.id/M. Irfan Al Amin)

Koalisi Prabowo & Ganjar Sibuk Mencari Mitra, Kenapa Anies Berdiam Diri?

Menanggapi sepinya partai yang berminat untuk ikut mendukung Anies, partai-partai yang ada dalam barisan Koalisi Perubahan tetap optimistis. Mereka masih membuka diri dan percaya akan tetap ada partai lain yang mau ikut bergabung.

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani mengungkapkan, pihaknya menerima setiap partai yang mau bergabung. Dengan syarat bisa ikut membangun komitmen dan sepakat dengan platform perjuangan bersama dalam membuat perubahan dan perbaikan.

“Berada dalam barisan yang sama untuk saling menguatkan, bukan sebaliknya," kata Kamhar saat dihubungi reporter Tirto pada Jumat (11/8/2023).

Dia optimistis dengan persentase Koalisi Perubahan yang ada saat ini. Karena menurutnya, gabungan partai dalam Koalisi Perubahan telah menguasai nyaris sepertiga suara keseluruhan di parlemen. Sehingga secara kekuatan kemenangan cukup besar.

“Dari 9 partai yang memiliki kursi di parlemen, 3 partai atau sepertiganya tergabung di koalisi perubahan. Secara persentase pun cukup besar terdiri dari 163 kursi atau 28,4%. Ini besar," ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Juru Bicara PKS, Ahmad Mabruri. Dia mengungkapkan bahwa sulitnya mengajak partai untuk ikut mendukung Anies adalah suatu hal yang telah diperhitungkan. Sehingga dia tak ambil pusing dan memilih untuk menjalaninya sebagai bagian dari dinamika politik.

“Kita jalan saja. Sambil lihat dinamika politik yang akan terjadi," terangnya.

Ketua DPP Partai Nasdem, Effendi Choirie juga memiliki prinsip yang sama. Kekuatan gabungan Koalisi Perubahan sudah cukup sehingga hanya perlu diperkuat dengan doa.

“Doa,” kata Effendi Choirie singkat.

Apel Siaga Perubahan Partai Nasdem

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kedua tengah), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kedua kanan), Presiden PKS Ahmad Syaikhu (kedua kiri), Bakal calon Presiden dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan (kiri) bergandeng tangan pada Apel Siaga Perubahan di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (16/7/2023). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/nz

Jokowi Ikut Berperan?

Peneliti senior dari Populi Center, Usep S. Ahyar menyebut, faktor Jokowi ikut menjadi peran di balik sepinya dukungan partai politik ke Anies Baswedan. Karena saat ini, partai politik dapat dipastikan akan mendukung bakal capres yang mendapat endorse atau dukungan dari Jokowi.

“Faktor Pak Jokowi sangat dominan. Partai mulai berhitung siapa yang di-endorse Jokowi dan tidak," kata Usep saat dihubungi reporter Tirto.

Usep menilai faktor approval rating Jokowi hingga jelang akhir masa jabatannya yang mencapai lebih dari 75 persen membuat pilihannya semakin diperhitungkan. Oleh karenanya, partai politik akan berpikiran pragmatis dan berusaha memperoleh suara Jokowi tersebut dan beralih ke mereka.

Endorsement Pak Jokowi punya dukungan politik yang bagus dan sampai 75 persen dan itu ceruk yang besar," ungkapnya.

Selain itu, Usep menilai, ada kekhawatiran dari para petinggi partai apabila mendukung Anies akan mengalami sejumlah hukuman secara politik. Salah satu bentuknya adalah dikucilkan dari lingkaran Jokowi, karena saat ini hampir semua partai bergabung ke dalam Kabinet Indonesia Maju, kecuali Demokrat dan PKS.

“Pasti ada ketakutan psikologis dan partai politik berusaha mengikuti yang menang, dan tentu akan memilih partai politik yang punya kepastian untuk menang," terangnya.

Akibatnya, kata dia, saat ini keterbelahan dari pendukung capres mulai terlihat. Fragmentasi tersebut dapat diamati dari Koalisi Perubahan yang mulai dianggap seperti oposisi walau ada Nasdem di dalamnya. Kemudian partai politik pendukung Prabowo dan Ganjar dianggap sesuai dengan jalan pikiran dan pilihan Jokowi.

“Dari situ terlihat cawe-cawenya Pak Jokowi," ungkapnya.

Ganjar dan Gibran bertemu Prabowo dan Erick

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) dan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka (kanan) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (dua kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir di Bandara Adi Soemarmo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (24/7/2023). ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Politik
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Abdul Aziz