Persitara, Anak Tiri yang Marah ke Anies akibat Pembangunan Stadion

Oleh: Riyan Setiawan - 2 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sebagian fasilitas JIS telah diresmikan untuk Persija. Klub sekota, Persitara, minta tidak dianaktirikan oleh Gubernur Anies.
tirto.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan lapangan latih Jakarta Internasional Stadium (JIS), Senin (28/12/3020) pagi. Ia mengibaratkan lapangan ini sebagai 'hidangan pembuka', yang 'hidangan utama'-nya tak lain stadion itu sendiri. Progres pembangunan JIS baru mencapai 40 persen.

"Bukan saja bersyukur bahwa ini tuntas, tapi kita juga bangga karena Jakarta lewat stadion latih ini sudah mulai menunjukkan bisa menghadirkan kualitas global," kata Anies dalam keterangan tertulis, Senin (28/12/2020).

Terdapat beberapa fasilitas dalam lapangan ini, dari mulai lapangan bermain 165x68 meter berstandar FIFA; kualitas rumput setara lapangan utama; durability 2-3 kali lebih kuat; dan sistem penyiraman serta drainase yang juga berstandar FIFA. Dengan kapasitas tribun 600 orang, lapangan latih ini juga dapat menggelar pertandingan resmi tim junior, tim nasional, dan klub.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini lalu mengatakan sepak bola bukan sekadar olahraga, tapi juga alat pemersatu. "sepak bola mempersatukan, stadion ini menjadi wahananya."

Masalahnya, ada pihak yang tak merasa dipersatukan lewat kehadiran stadion ini, bahkan merasa disingkirkan. Mereka adalah suporter Persitara, klub sepak bola profesional yang bermarkas di Jakarta Utara. Persitara adalah tim satu kota Persija. Pertandingan keduanya di lapangan kerap disebut 'derby'.

"Pak Anies jangan fokus ke Persija saja, apalagi JIS sendiri terletak di Jakarta Utara. Persitara dan suporternya NJ Mania merupakan tuan rumah," kata Ketua Umum North Jakarta (NJ) Mania, Farid, kepada reporter Tirto, Selasa (29/12/2020).


Persija Anak emas

Anies memang mempersembahkan lapangan ini untuk Persija. Ini adalah salah satu janji kampanyenya pada Pilgub 2017 lalu. Ketika itu ia berpasangan dengan Sandiaga Uno, kini Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Farid mengatakan selama ini Anies kerap memperlakukan Persija sebagai anak emas, sementara Persitara anak tiri. Ketika peletakan batu pertama stadion pada 2019 lalu, Farid bilang hanya Persija dan The Jakmania saja yang diundang, sementara Persitara dan NJ Mania tak dilibatkan secara penuh. "Kami pada saat itu datang dan menyampaikan kekecewaan."

Ketika itu Anies juga menunjukkan keberpihakannya dengan mengenakan atribut Persija, klub yang punya julukan Macan Kemayoran, kata Farid.

Farid berharap Anies tidak membedakan antara Persija dan Persitara sebab bagaimanapun dia adalah Gubernur Jakarta yang memiliki dua klub profesional. "Kami minta keadilan," ujarnya. Salah satu bentuknya adalah Persitara mendapatkan fasilitas yang sama seperti Persija di JIS, dari mulai penggunaan stadion, lapangan latih, sekretariat, dan sebagainya.

Satu stadion dipakai oleh dua klub profesional bukan hal aneh. Di Milan, Italia, sebuah stadion megah dipakai dua klub profesional, AC Milan dan Inter Milan. Oleh suporter AC Milan, stadion ini dikenal dengan nama San Siro, sementara suporter Inter Milan lebih suka menyebutnya Giuseppe Meazza.

The Jak dan NJ Mania, sebagaimana banyak suporter klub satu kota, kerap terlibat perseteruan. Farid bilang bahkan ada korban tewas, yaitu Dian Rusdiana (16) pada 2008 dan William Wijaya (16) 10 tahun kemudian. Ini belum termasuk korban luka-luka jika dua suporter terlibat bentrok.

Apabila Anies bisa berbuat adil terhadap kedua klub, Farid bilang konflik bisa diredam. "Stadion ini semoga mempersatukan The Jak dan NJ yang selama ini berseteru karena Derby Jakarta."

Sebaliknya, apabila Anies tidak mendengarkan aspirasi NJ Mania dan terus mengasingkan Persitara, dia bilang akan timbul gelombang protes. "Kami minta dilibatkan, diajak diskusi. Kalau enggak ditanggapi, nanti malah bader (bandel, tak mau diatur). Ini warning juga buat Gubernur."


Ketua Umum The Jakmania Diky Budi Ramadhan merasa tak masalah misalnya stadion ini tak hanya dipakai Persija, asal sesuai dengan prosedur dan tidak mengganggu jadwal klub, baik latihan maupun pertandingan. "Selama penggunaannya jelas dan sesuai prosedur, ya pasti bisalah pakai JIS," kata Dicky kepada reporter Tirto, Rabu (30/12/2020).

Terkait kemungkinan stadion sebagai wadah pertemanan antar suporter, Dicky bilang mereka "berteman dengan siapa saja."

Jurnalis senior olahraga Budiarto Shambazy mengatakan JIS memang seharusnya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan Persija. Pasalnya, JIS merupakan milik Pemprov DKI, bukan Persija. Lalu saham Persija sendiri mayoritas dimiliki oleh PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH), bukan Pemprov DKI.

"Jadi klub lain dan acara-acara lainnya juga bisa menggunakan JIS. Sistemnya kerja sama atau sewa yang difasilitasi oleh Pemprov DKI," kata Budiarto kepada reporter Tirto, Rabu.

Senada dengan Farid, Budiarto mengatakan apabila JIS juga dipakai Persitara, maka itu "akan menjadi momentum pertemanan antar kedua suporter."

Baca juga artikel terkait STADION PERSIJA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight