tirto.id - Bayubuana Toleu rela meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mengabdi menjadi guru Sekolah Rakyat di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Pemuda berusia 27 tahun yang akrab disapa Bayu itu kini mengajar sebagai guru Geografi tingkat SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru. Sebelum itu, ia menjadi guru honorer IPS di SMP Satap Negeri Sunbaki Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan S1 Pendidikan Geografi Universitas Nusa Cendana Kupang dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Surabaya membuat Bayu tepat mengisi posisi guru di Sekolah Rakyat. Lebih-lebih dengan latar belakang akademiknya di bidang IPS.
Pada akhir 2024 lalu, Bayu resmi menuntaskan Pendidikan Profesi guru (PPG). Setelah itu, ia mulai mencari peluang kerja di kampung halamannya. Tak lama berselang, kabar baik datang—lamarannya diterima. Sejak Januari 2025, ia resmi mengajar di SMP Satap Negeri Sunbaki, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
Guru muda berambut ikal ini menuturkan, sekolah pertama tempatnya bertugas berada di sebuah desa, sementara kediamannya di pusat kota. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam pulang pergi dengan sepeda motor. Walau jarak yang ditempuh cukup jauh, Bayu tetap mantap menjalani pekerjaannya sebagai guru.
"Karena di sana pas ada formasi guru IPS yang kosong, kalau sekolah-sekolah di kota yang dekat rumah, formasinya sudah penuh semua. Makanya yang ada hanya di sekolah-sekolah jauh," kata Bayu.
Gaji Bayu sebagai guru honorer di NTT hanya Rp250 ribu. Gaji itu dibayarkan setiap tiga bulan sekali (dirapel), meski seharusnya ia menerima gaji setiap bulan. Penghasilan terbatas itu memotivasi Bayu untuk mencari kesempatan lain.
"Soalnya kalau mau harap (gaji) dari honorer kayaknya enggak nutupin uang-uang yang dikeluarkan sehari-hari," ujar dia.
Kesempatan baru datang pada awal 2025, ketika pemerintah meluncurkan Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang digagas oleh presiden untuk menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Saat pendaftaran guru dan tenaga pendidik Sekolah Rakyat dibuka, Bayu segera mendaftar. Salah satu syarat pendaftaran adalah kepemilikan sertifikat PPG, dan Bayu memenuhinya.
Para guru yang lolos seleksi akan diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Jabatan Fungsional (PPPK JF) di bawah Kementerian Sosial. Bayu menganggap itu sebagai kesempatan.
Dia ikut mendaftar bersama ribuan calon guru lain, berharap kehidupannya bisa lebih baik. Lantaran penghasilannya sebagai guru honorer jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, menjadi PPPK JF menjanjikan harapan baru bagi dia.
Setelah melewati serangkaian proses, ia lolos dan ditempatkan di Kalimantan Selatan. Jarak yang begitu jauh dari tanah kelahirannya sempat membuat Bayu bimbang. Namun setelah berdiskusi dengan keluarga dan menimbang berbagai hal, dia mantap menerima penugasan tersebut.
"Orang tua pun kaget dapat di sini. Tapi akhirnya disetujui juga, diperbolehkan untuk jalan," kata dia.
Meskipun harus bertugas di daerah yang jauh dari kampung halaman, semangat Bayu tidak surut. Dia bahkan menerapkan metode belajar kreatif bagi siswa tingkat menengah atas yang diajarnya. Bayu pun memanfaatkan teknologi digital untuk menyampaikan materi pelajaran.
"Cara mengajar saya, saya biasa menggunakan aplikasi-aplikasi yang mana bisa memakai game-game. Itu salah satu strategi yang saya buat supaya pembelajaran di dalam kelas itu tidak monoton, agar anak-anak tidak bosan," kata Bayu.
Di sisi lain, Bayu juga menghadapi tantangan dengan beragamnya karakter siswa. Misalnya, beberapa murid terbiasa merokok sebelum masuk asrama, padahal kebiasaan ini dilarang di lingkungan sekolah. Untuk mengatasi masalah ini, ia memilih pendekatan personal secara verbal.
"Cara mengatasinya kita panggil anak-anak, kita bicara empat mata antara anak dan guru. Kita harus ngomong ke mereka itu dengan pendekatan yang memang lebih ekstra sabar," ujar dia.
Bayu berharap program Sekolah Rakyat terus berlanjut dan membuka akses pendidikan gratis sekaligus bermutu bagi lebih banyak anak dari keluarga prasejahtera.
Dia juga menitipkan pesan agar pemerintah memperhatikan keberlanjutan murid selepas lulus. Pun ke depannya, Bayu berharap pemerintah memerhatikan kebutuhan para lulusan Sekolah Rakyat.
"Mungkin ada yang mau lanjut kuliah, ada yang mau kayak tes-tes (masuk) polisi atau tentara. Itu mungkin pemerintah bisa fasilitasi sehingga cita-cita anak-anak itu bisa tercapai," kata Bayu.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id




























