Menuju konten utama

Peringatan Hari Lingkungan & Kisah Mereka Para Peraih Kalpataru

Oday Kodariyah dan Nyoman Sukra, pegiat lingkungan yang menerima penghargaan Kalpataru Lestari 2025. Simak kisah mereka.

Peringatan Hari Lingkungan & Kisah Mereka Para Peraih Kalpataru
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat memberikan penghargaan Kalpataru Lestari kepada Nyoman Sukra pada Hari Lingkungan Hidup di Kuta, Kamis (05/06/2025). tirto.id/sandra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Masyarakat berbondong-bondong turun ke jalan setiap 5 Juni. Beberapa mulai membersihkan sampah yang menggunung di dekat bantaran sungai, ada pula yang menanam bakau di bibir pantai. Tanggal tersebut memanglah momentum untuk berinteraksi dengan lingkungan dan diperingati bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh belahan dunia. Di tanggal tersebut, pertama kali Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadakan konferensi yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan.

Bertepatan dengan hari bersejarah itu, Kementerian Lingkungan Hidup (LH) secara rutin memberikan Penghargaan Kalpataru. Penghargaan tersebut merupakan yang tertinggi oleh Pemerintah Indonesia kepada individu atau kelompok yang telah berkontribusi secara signifikan dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan, dan membina perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Awalnya, penghargaan tersebut dicetuskan oleh Emil Salim pada 1980 yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Semenjak saat itu, Kalpataru menjadi sebuah penghargaan rutin yang mengakui kontribusi masyarakat terhadap pelestarian lingkungan. Maka, bagi para pecinta lingkungan, penghargaan tersebut amat prestisius dan berharga.

2025 merupakan tonggak yang istimewa bagi para penerima Kalpataru tersebut, sebab Kementerian LH akan memberikan penghargaan Kalpataru Lestari bagi para pejuang lingkungan yang pernah menerima Kalpataru dan tetap konsisten menjaga kelestarian lingkungan. Meskipun telah menerima anugerah Kalpataru, mereka masih tetap setia melestarikan lingkungan.

Oday Kodariyah

Peraih Kalpataru Lestari 2025, Oday Kodariyah, saat diwawancarai wartawan di sela Sarasehan 45 Tahun Kalpataru di Kuta, Rabu (04/06/2025). tirto.id/Sandra

Oday Kodariyah (72) atau yang akrab disapa Mamah Oday, misalnya, merupakan penerima Kalpataru Perintis Lingkungan Pelestari Sumber Daya Tanaman Genetik Obat. Dia merupakan penyintas kanker yang berhasil pulih karena menggunakan tanaman obat. Vonisnya datang pada 1991, saat usianya baru menginjak 37 tahun.

Awalnya, dia menggunakan obat-obatan kimia untuk mengobati penyakitnya itu, tetapi berujung gagal dan kondisinya memburuk. Mamah Oday lantas beralih ke tanaman obat sebagai pengobatan alternatif dengan bertanya-tanya kepada sesepuh atau orang tua di sekitarnya. Semenjak sembuh, Mamah Oday memutuskan untuk menyebarkan kearifan lokal melalui Kebun Tanaman Obat (KTO) Sari Alam yang melestarikan 900 spesies tanaman obat di lahan seluas 21 hektare.

“Saya jatuh cinta dengan tanaman obat karena memang saya merasakan sendiri. Karena saya jatuh cinta dan saya akan hormat, akan bersyukur, akan bisa bisa bicara setiap saat ke tanaman obat itu yang menyembuhkan saya,” tutur Mamah Oday kepada media di sela Sarasehan 45 Tahun Kalpataru, Kuta, Bali, Kamis (04/06/2025).

Mamah Oday juga telah memperkaya pengetahuannya dengan tekun belajar mengenai ratusan tanaman obat dan khasiatnya. Selain untuk melestarikan tanaman obat, pengetahuan tersebut juga disebarluaskan kepada masyarakat. Sebagai contoh, Mamah Oday menyebut antanan atau pegagan (Centella asiatica) yang kerap digunakan oleh leluhur sebagai vitamin otak untuk kecerdasan.

“Setelah saya periksa, ternyata di antanan itu mengandung zat asiatikosit untuk menguatkan sel otak. Lalu, ada kiurat (Plantago major) yang ada zat aukubin untuk meredakan bengkak,” beber Mamah Oday, menjelaskan tentang tanaman obat unggul yang dimilikinya.

Pegagan

Pegagan. foto/istockphoto

Menurut Mamah Oday, penghargaan Kalpataru Lestari merupakan hal yang harus dipertahankan sebagai bentuk tanggung jawab kepada negara. Dia menyebut akan mempertahankan tanaman-tanaman obat tersebut hingga nantinya tutup usia. Untuk melestarikan tanaman obat tersebut, dia mengembangkan tanamannya dengan cara stek tradisional.

“Saya terkadang dicibir karena zaman sekarang itu cenderung sudah lupa akan nenek moyang kita, sudah lupa akan kearifan lokal. Bagaimana sekarang caranya supaya manusia itu tahu bahwa Indonesia itu kaya, Indonesia itu cerdas, bahwa Indonesia bisa merawat dirinya dengan kearifan lokal,” jelasnya.

Kebun yang dimiliki Mamah Oday juga telah memiliki pusat konsultasi dan klinik tanaman obat. Selain itu, dia juga memiliki praktisi, apoteker, dan ahli kimia yang sigap membantunya dalam meriset etnofarmakologinya (kegunaan tanaman sebagai obat tradisional). Duta-duta KTO juga telah dimilikinya untuk dididik menjadi penerus.

“Waktu menerima Kalpataru 2018, saya melatih 900 anak yang dapat adiwiyata di Kabupaten Bandung untuk menjadi duta, untuk menjadi penerus, Oday-Oday yang lain,” tegasnya.

Selamatkan Bali dari Banjir Besar

Kisah lainnya datang dari salah satu warga Bali asal Banjar Temacun, Nyoman Sukra (50) atau yang kerap disapa sebagai Nyoman Dolphin. Sejak dahulu, Nyoman menghabiskan waktunya di Kuta, kawasan yang disebut sebagai jantung pariwisata Bali. Julukan ‘Dolphin’ disematkan pada namanya karena sering menolong turis yang tenggelam di Pantai Kuta.

Sekitar 2001, Nyoman membentuk Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Pata Sari yang bertujuan untuk menanam bakau (mangrove) dan merevitalisasi Tukad Mati. Hatinya terasa teriris ketika melihat Tukad Mati berubah menjadi gundukan sampah karena ulah pembuang sampah liar pada tahun 1990-an. Padahal, Tukad Mati merupakan pengendali banjir untuk kawasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.

Sampah-sampah tersebut yang membuat daerah Kuta, Legian, Seminyak, dan Monang-Maning menjadi langganan banjir di musim penghujan. Masyarakat yang hidup di bantaran sungai kerap terimbas banjir di atas satu meter, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan mengakibatkan kerugian.

“Kuta tidak memiliki ruang terbuka hijau, hanya memiliki kawasan hutan, yaitu hutan mangrove dan sungai. Itu yang kami selamatkan, sehingga tahun 2019 saya mendapat penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Lingkungan. Mungkin kegiatan-kegiatan ini pertama dianggap tidak pantas, tapi ini kami lakukan demi menyelamatkan kawasan kami,” beber Nyoman kepada media di sela Sarasehan 45 Tahun Kalpataru, Kuta, Bali, Kamis (04/06/2025).

Nyoman Sukra

Peraih Kalpataru Lestari 2025, Nyoman Sukra, saat diwawancarai wartawan di sela Sarasehan 45 Tahun Kalpataru di Kuta, Rabu (04/06/2025). tirto.id/Sandra

Kelompok nelayan tersebut lantas menanam bibit mangrove. Seiring berjalannya waktu, luasnya pun bertambah dari 12 hektare menjadi hampir mendekati 25 hektare. Selain itu, Nyoman menambahkan, kejadian penebangan ilegal dan pencurian kayu mangrove berkurang semenjak konservasi dilakukannya.

Setiap tiga kali dalam satu minggu, Nyoman bersama dengan 49 warga Kuta berinisiatif membersihkan Tukad Mati dari sampah-sampah, terutama sampah kiriman. Dia menyebut kerap menemukan berbagai jenis sampah di muara sungai, mulai dari kemasan plastic, kulkas, bangkai binatang, spring bed, hingga popok bayi.

Saat ini, Nyoman menghabiskan waktunya untuk mengedukasi masyarakat tentang penyelamatan lingkungan melalui Komunitas Peduli Tukad Mati Lestari dari desa ke desa. Selain itu, dia mengembangkan pusat tanaman hidroponik, obat, dan upakara (tanaman untuk sembahyang). Nyoman menyebut salah satu contohnya adalah perkebunan anggur di Muara Tukad Mati.

“Kita membuat sebuah balai untuk bisa mengedukasi masyarakat yang ada di bantaran sungai, menjadikan halaman tebe (tempat pengolahan sampah organik). Dengan gerakan seperti itu, masyarakat jadi sadar untuk tidak membuang sampah ke sungai lagi,” pungkasnya.

Sulitnya Mencari Pegiat Lingkungan yang Konsisten

Oday Kodariyah dan Nyoman Sukra adalah dua di antara 428 pegiat lingkungan yang menerima penghargaan Kalpataru Lestari 2025. Mereka memenuhi kriteria penerima karena selama lima tahun terbukti aktif dan konsisten dalam mengembangkan dan mereplikasi kegiatannya. Semangat untuk menjaga lingkungan hidup masih menggelora dalam diri mereka.

Namun, di balik itu, Kementerian LH mengaku kesulitan dalam mencari figur-figur yang konsisten dalam merawat lingkungan hidup selama kurun waktu 45 tahun semenjak pemberian Kalpataru pertama. Sekiranya terdapat 200 orang yang tidak terlacak keberadaannya dari total 428 orang yang layak menerima Kalpataru Lestari.

“Kita pilih dari tahun 1980 sampai 2024. Ternyata, setelah ditelusuri, ada yang sudah meninggal, ada yang memang tidak meneruskan, atau informasinya juga tidak dapat beliaunya ada di mana,” ungkap Sekretaris Kementerian, Rosa Vivien Ratnawati, kepada media di sela Sarasehan 45 Tahun Kalpataru, Kamis (04/06/2025).

AKSI BERSIH SAMPAH PANTAI KUTA

Relawan membersihkan sampah yang berserakan saat mengikuti aksi bersih sampah di Pantai Kuta, Badung, Bali, Rabu (6/1/2021). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/aww.

Rosa menambahkan, pegiat lingkungan sulit konsisten merawat lingkungan dalam kondisi 45 tahun berselang. Penyebabnya bervariasi, mulai dari tidak adanya dana, dalam kondisi tua atau sakit-sakitan, serta tidak memiliki pendampingan. Kondisi tersebut tidak memungkinkan individu-individu tersebut untuk terjun ke lumpur, menanam pohon, atau bekerja dengan sampah.

“Dalam perjalanannya ternyata enggak mudah. Ada tantangan juga. Biasanya kalau yang akan mendapatkan Kalpataru sekarang ini, punya pendampingan yang konsisten, punya komitmennya,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pemerintah akan merevisi aturan mengenai penerima Kalpataru. Salah satu poin dari revisi tersebut adalah transformasi merawat lingkungan, terlebih pada era industri yang kondisinya berbeda dengan zaman dahulu.

“Tantangannya tidak sama dengan dulu. Dulu industrinya belum banyak, kemudian eksploitasi lingkungan juga belum sebanyak sekarang. Jadi kami yang sekarang sedang menyusun pembaruan dari Peraturan Menteri (Permen) Kalpataru,” bebernya.

Hanif Faisol Nurofiq

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat memberikan sambutan pada Hari Lingkungan Hidup di Kuta, Kamis (05/06/2025). tirto.id/Sandra

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada peraih penghargaan Kalpataru Lestari 2025. Menurut Hanif, mereka adalah teladan hidup dan saksi dari dedikasi, konsistensi, dan keberanian dalam menjaga bumi.

"Kadang tanpa disorot, tanpa insentif, tetapi, dengan penuh cinta dan ketulusan, serta tanggung jawab. Bapak dan ibu sekalian adalah pengingat bahwa perubahan besar bisa lahir dari tindakan kecil yang terus menerus kita lakukan," ucap Hanif dalam sambutannya pada Hari Lingkungan Hidup di Kuta, Bali, Kamis (05/06/2025).

Baca juga artikel terkait HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - News Plus
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Anggun P Situmorang