Perayaan Sukkot dan Hati Seorang Yahudi

Oleh: Arbi Sumandoyo - 21 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Pada tahun ini, umat Yahudi memperingati Hari Raya Sukkot antara 6 Oktober hingga 23 Oktober. Hari Raya Sukkot merupakan salah satu dari tiga hari raya besar umat Yahudi di seluruh dunia, selain Shavuot dan Pesakh.
tirto.id - Waktu menunjukkan pukul lima sore pada Minggu, 16 Oktober 2016. Di sebuah tempat di daerah Bekasi, sekitar sepuluh orang keturunan Yahudi Indonesia berkumpul. Mereka duduk dengan hikmat, mendengarkan Rabbi memberikan ceramah. Mereka sedang merayakan Hari Raya Sukkot.

Hari Raya Sukkot merupakan salah satu hari raya besar umat Yahudi yang dalam bahasa Ibrani disebut Tabernakel. Sementara di dalam bahasa Indonesia disebut Hari Raya Pondok Daun.

Seraya memberikan ceramah, Rabbi Ben, begitu Benjamin Meijer Verbruuge dipanggil, mempersilakan tirto.id untuk duduk bergabung. Sambil memegang kitab, Rabbi Ben melanjutkan memberikan ceramah. Sesekali lantunan ayat dalam kitab Torah dibacakan. Nadanya mirip seorang muslim yang sedang mengaji.

Perayaan Hari Raya Sukkot merupakan ungkapan rasa syukur bangsa Israel atas hasil panen. Dirayakan antara bulan September dan Oktober. Tepatnya, Hari Raya Sukkot diperingati setiap 15 Tsiyri menurut kalender Yahudi.

Aspek utama dalam perayaan Sukkot adalah dibuatnya sebuah pondok beratapkan daun palem dan dikelilingi buah-buahan (hasil panen). Pada tahun ini, perayaan Sukkot jatuh pada 16 Oktober hingga 23 Oktober. Hari Raya Sukkot juga merupakan salah satu dari tiga hari raya besar umat Yahudi di seluruh dunia, selain Shavuot dan Pesakh.

“Harusnya banyak buah-buahan di sini. Tahun depan nanti kita perbaiki,” ujar Rabbi Ben menerangkan perihal pondok beratap daun palem tempat perayaan Sukkot dilakukan. Pondok itu baru akan dibongkar setelah tujuh hari perayaan Sukkot.

Pada perayaan ini, beberapa kali Rabbi Ben berceramah. Di tengah-tengah acara, Rabbi Ben membagikan panduan merayakan Sukkot kepada anggota komunitasnya. Buku panduan itu disusun sendiri oleh Rabbi Ben, berjudul “Sukkot Shemeni Atzeret And Simchat Torah”. Setelah masing masing memegang buku panduan, Rabbi Ben memberikan aba-aba untuk membuka halaman. Doa-doa menggunakan bahasa Ibrani dalam buku panduan mulai dilantunkan.

Pada pertengahan ritual, Rabbi Ben meminta dua wanita untuk mengangkat Kitab Torah yang diletakkan di atas meja. Kitab Torah ditaruh dalam sebuah tempat berbentuk tabung terbuat dari kayu. Di luarnya, terdapat lambang Bintang Daud. Torah diselimuti dengan kain tiga lapis dan di atasnya terdapat dua buah lonceng. Ketika tempat Torah diangkat, satu persatu mereka yang datang menjulurkan tangan dan kemudian mencium tempat menaruh Torah.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan mengelilingi Torah dipandu Rabbi Ben. Masing-masing memegang "lulav" dan "etrog", kemudian dikibaskan ke segala arah. Lulav adalah sekumpulan ranting pohon yang terbuat dari setangkai daun pohon palem, dua batang ranting daun gandarusa dan tiga batang ranting pohon myrtle yang dijalin dengan rajutan daun. Sedangkan etrog adalah buah sejenis jeruk lemon yang tumbuh di daerah Israel.

“Kiblatnya ke Yerusalem dan kibasan ini mengartikan seluruh alam semesta,” ujar Rabbi Ben.

Hampir dua jam perayaan Sukkot dilakukan. Rabbi Ben pun menyudahi ritual Hari Raya Pondok Daun. Setelah itu, sesama jemaat Yahudi yang hadir bersalam-salaman. Acara dilanjutkan dengan makan bersama dan berbincang di dalam pondok.

Buah Etrog dan Hati Seorang Yahudi

Arti perayaan Sukkot bukan hanya syukuran atas hasil panen. Hikmah dari salah satu dari tiga hari raya besar umat Yahudi ini adalah bagaimana keturunan Bani Israel selalu menerapkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Simbol ritual berupa Lulav dan Etrog memiliki arti begitu dalam bagi keturunan Yahudi. Etrog seperti tertulis dalam kitab Torah merupakan buah suci. Buah ini mirip jeruk lemon. Buah untuk merayakan Sukkot langsung didatangkan dari Israel.

“Etrog, karena sudah ditulis dalam kitab suci. Jadi apa yang ada dalam kitab suci itu sudah ditulis dan kita harus usahakan sebaik mungkin mendekati perintah itu,” ujar Rabbi Ben menjelaskan.

Menurut Rabbi Ben, buah Etrog berwarna kuning menjadi simbol sifat orang Yahudi. Etrog digambarkan sebagai orang Yahudi yang mengerti firman dalam kitab Torah dan menerapkannya. Buahnya pun berlambangkan hati yang memiliki kulit tidak rata dan berbentuk oval.

“Perbuatan itu tidak membedakan dengan benih Israel dan benih Adam. Jadi benih Adam itu adalah keturunan Yahudi dan kita ini juga keturunan Adam dan Hawa. Dan kita harus menyampaikan kebaikan yang sama,” tutur Rabbi Be

Sementara ranting daun Myrtel yang dikibaskan ke segala penjuru, diartikan jika sejatinya tidak semua keturunan Yahudi itu pintar. Meski demikian, golongan orang Yahudi seperti ini begitu religius.

Sementara ranting pohon willou, menyimbolkan adanya orang Yahudi yang tidak menjalankan ajaran Kitab Torah. Namun sejatinya, kata Rabbi Ben, ritual perayaan Sukkot dengan mengibaskan Lulav dan Etrog itu menggambarkan jika semua keturunan Bani Israel nantinya dikumpulkan dan kemudian mereka menyembah Tuhan.

Infografik Komunitas Yahudi Indonesia


Baca juga artikel terkait YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight