Berkenalan Dengan Komunitas Yahudi Indonesia

Oleh: Arbi Sumandoyo - 21 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Ada sekitar 5.000 orang keturunan Yahudi di Indonesia. Mereka semua adalah warga negara Indonesia. Keberadaan mereka disatukan melalui komunitas. Di sana, mereka berkumpul dan mempelajari ajaran Yudaisme.
tirto.id - Benjamin Meijer Verbrugge mempersilakan tirto.id duduk di sebuah bangku berbahan stainless warna merah. Rabbi Ben, begitu Benjamin Meijer Verbrugge dipanggil, kebetulan sedang memimpin ritual perayaan Sukkot, salah satu hari raya besar umat Yahudi di seluruh dunia. Hari Raya Sukkot atau biasa disebut Hari Raya Pondok Daun diadakan untuk memperingati 40 tahun Israel mengembara di padang pasir.

Selain menjadi Rabbi, Benjamin Verbrugge juga merupakan salah satu pimpinan komunitas Yahudi berada di Indonesia. Dia membawahi 116 orang keturunan Yahudi yang tersebar di beberapa kota antara lain, Jakarta, Bandung, Bali, juga Semarang. Jangan beranggapan, jika Rabbi Ben memiliki wajah seperti orang Yahudi di Israel. Begitu pula dengan anggota komunitas Yahudi dipimpin Rabbi Ben, semuanya asli Indonesia. Namun, dalam darah mereka mengalir keturunan Yahudi.

“Saya keturunan Jawa,“ ujar Rabbi Ben dengan logat jawa membuka perbincangan dengan tirto.id, Minggu pekan lalu.

Rabbi Ben merupakan keturunan Jawa berdarah Yahudi. Ibunya seorang Yahudi Belgia, ayahnya orang Jawa beragama Islam yang berprofesi sebagai jaksa. Sebelum menganut Yahudi, Rabbi Ben pernah ingin memantapkan diri menjadi pengikut Kristiani.

Ben sudah mengetahui ada darah Yahudi ketika berusia 5 tahun. Mendiang kakeknya, seorang Yahudi asal Jerman yang memberitahunya. “Dulu opa saya kumpulkan cucu-cucunya, dia hanya bilang semua cucunya harus disunat. Sunat tidak ada hubungannya dengan agama.”

Sejak 2003, dia pun serius mendalami ajaran Yahudi. “Umur 13 tahun saya disunat,” kata Ben. Seperti Islam, agama Yahudi juga mengharuskan penganut laki-laki untuk disunat.

Kini, Rabbi Ben menjadi pemimpin The United Indonesian Jewish Community (UIJC). Meski awalnya tak mau menjadi rabbi untuk banyak orang, akhirnya dia memilih mengabdikan diri menjadi salah seorang Rabbi untuk keturunan Yahudi di Indonesia.

Saban hari raya Yahudi, Rabbi Ben selalu hadir untuk memimpin ritual ajaran Yudaisme, termasuk menjadi pimpinan ibadah Sabbath setiap Sabtu. “Saya hanya lihat waktu itu, mereka ini mau kemana, jadi UIJC ini adalah wadah bagi mereka yang mau belajar,” tutur sang rabbi.

Awal Kedatangan Yahudi

Keberadaan orang-orang keturunan Yahudi di Indonesia menurut Rabbi Ben memang sudah berlangsung lama. Saat ini, katanya, ada tiga kelompok komunitas Yahudi di Indonesia. Mereka berada di Jakarta, Surabaya dan Manado. Jumlahnya pun diperkirakan mencapai 5.000 orang. Namun, dari ribuan keturunan Yahudi di Indonesia, hanya sekitar 500 yang memeluk agama Yahudi. Penganut Yahudi sekuler mencapai sekitar 60 sampai 70 persen.

Rabbi Ben kemudian menceritakan ihwal kedatangan orang orang Yahudi datang ke Indonesia. Menurut dia, perjalanan orang-orang Yahudi ke Indonesia dibagi kedalam tiga kloter. Pertama adalah bangsa Yahudi berasal dari Yaman, Maroko dan Iraq. Kedatangan mereka ke Indonesia adalah untuk berdagang. Kemudian, kloter kedua dibawa oleh kapal penjelajah asal Portugis: Vasco da Gama. Perjalanan yang dimulai tahun 1600 itu turut membawa serta orang-orang Yahudi dari Spanyol.

Orang-orang Yahudi yang dipaksa Spanyol untuk mengikuti ajaran gereja itu kemudian diminta mencari tanah. Dalam perjalanan, orang-orang Yahudi ini singgah di India dan mendirikan sebuah perkumpulan. Kemudian mereka juga singgah di Malaysia untuk masuk ke Indonesia. Di Indonesia, orang-orang Yahudi ini singgah di Maluku. Mereka pun menyebar hingga sampai di Biak dan Timor Timur.

Kloter ketiga adalah orang-orang Yahudi yang datang dengan misi dagang Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Menurut Ben, VOC berisi 80 persen orang-orang berdarah Yahudi. “Kemudian ada keturunan, ada Silva, ada Dacosta,” katanya.

Keberadaan komunitas Yahudi di Jakarta sejatinya juga sama yakni dari salah seorang prajurit Belanda juga keturunan Yahudi bernama Leendert Miero (1755-1834). Selain menjadi prajurit, dia juga pernah menjadi tuan tanah di Pondok Gede, Bekasi. Nama Pondok Gede pun diambil dari nama kediaman Miero.

Kini, bekas peninggalan rumah gedong milik Leendert Miro menjadi sebuah pusat perbelanjaan. Tak banyak yang tahu bahwa cikal bakal nama Pondok Gede diambil dari rumah gedong milik Leendert Miero.

Infografik Komunitas Yahudi Indonesia


Wadah Untuk Sedarah

Keberadaan Komunitas Yahudi memang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki keturunan sedarah. Ajaran Yudaisme pun tadinya adalah agama yang khas ada untuk suku Yahudi. Hubungan kekerabatan orang Yahudi didasari kesamaan leluhur yakni Abraham, Ishak dan Yakoov. Namun, mereka yang berdarah Yahudi kini tak diharuskan memeluk ajaran Yudaisme.

Keberadaan komunitas Yahudi tak lebih menjalankan nilai-nilai ajaran kebaikan leluhur mereka termasuk juga menaungi hubungan keluarga dalam tali keturunan. “Yang terpenting berkumpul, karena kita sedarah,” ujar Rabbi Benjamin.

Edi, salah satu anggota The United Indonesian Jewish Community misalnya, sudah sebelas tahun ini menganut agama Yahudi. Keturunan Yahudi didapatnya dari kakek dan neneknya, seorang Tionghoa di negeri tirai bambu. Rasa penasaran untuk mencari keturunan sesama Yahudi membuat dia dipertemukan dengan komunitas Yahudi dipimpin oleh Rabbi Ben. Sejak saat itu, dia pun memilih untuk meninggalkan keyakinan terdahulu, karena merasa telah menemukan jati diri sebagai keturunan Yahudi.

Anggota komunitas pimpinan Rabbi Ben memang banyak dipertemukan dari sesama keturunan Yahudi. Mereka yang meyakini sebagai keturunan Yahudi resah dan mencari saudara sedarah.

“Saya bertahun-tahun mencari dan akhirnya dipertemukan,” ujar Edi. Ia baru tersadar dirinya berdarah Yahudi setelah tahu bahwa nama belakangnya adalah marga salah satu keturunan Yahudi.

Andreas, anggota komunitas lain, juga mengalami hal yang sama dengan Edi. Bisa dibilang Andreas ini baru bertemu dengan komunitas Yahudi yang dipimpin Rabbi Ben. Dia pun menemani Rabbi Ben saat berbincang dengan tirto.id. Menurut Andreas, sejak ayahnya mengatakan dia keturunan Yahudi, dia pun mencari-cari orang-orang yang memang memiliki garis keturunan Yahudi.

“Kakek saya seorang arsitek,” tutur Andreas. Kakeknya adalah Yahudi Belanda yang pernah tinggal di Surabaya dan ikut membangun Stasiun Pasar Turi.

Tradisi Yahudi dalam keluarga Andreas tak pernah ditinggalkan. Salah satunya: ayahnya sama sekali tidak memakan daging babi dan juga udang. Orang Yahudi memang punya ajaran kosher Bukan perkara haram memakan daging babi, namun lebih kepada kebaikan untuk kesehatan. “Secara tak sadar saya menyukai ayat-ayat yang membahas tentang Yahudi,” ujar Andreas.

Baca juga artikel terkait YAHUDI atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight