Perang Saudara Bikin Sepakbola Suriah Berantakan

Perang Saudara Bikin Sepakbola Suriah Berantakan
Pemain timnas Suriah merayakan gol dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup A di Hang Jebat Stadium, Malaysia (13/6/2017). FOTO/REUTERS/Lai Seng Sin
12 Oktober, 2017 dibaca normal 4:30 menit
Represi Assad di Timnas Suriah kian membelah sikap rakyatnya. Pemain, pelatih, hingga pendukung tim Elang Qasioun ikut-ikutan terpolarisasi.
tirto.id - Setahun setelah menjalani laga pertama melawan Afghanistan, perjalanan tim nasional Suriah menuju Piala Dunia 2018 kandas di Sidney, Rabu (10/10/2017). Timnas Australia yang dipimpin Tim Cahlill memenangi laga dengan skor 2-1. Skor totalnya 3-2 setelah pada laga pertama hasilnya imbang 1-1. Pasukan Elang Qasioun pun tertunduk lemas, demikian pula jutaan pendukung timnas Suriah baik di dalam negeri maupun yang jadi imigran di negara lain.
 
2017 menjadi tahun keenam berlangsungnya perang sipil di Suriah antara rezim Bashar al-Assad dan sekutunya melawan beragam faksi oposisi. Setidaknya 470.000 penduduk Suriah tewas dan harapan hidup di negara tersebut telah turun dari 70 tahun menjadi 55. Dua belas juta orang, atau setengah dari total populasi, telah menjadi imigran di negeri orang.

Situasinya amat pelik. Hampir seluruh bidang kehidupan warga Suriah disusupi kepentingan politik, terutama oleh pemerintahan Assad, tak terkecuali di bidang olahraga paling populer di muka bumi: sepakbola. Pasukan oposisi tiba-tiba memiliki basis pendukung di sejumlah tim lokal, dan pertandingannya akan berjalan seru saat bertemu tim lokal lain yang menjadi basis pendukung Bashar al-Assad.

Timnas Suriah ikut menjadi medan pertempuran politik antara para pengikut dan penentang Assad. Pemain, pelatih, hingga pendukung timnas terbelah dua: mereka yang bekerja mendukung timnas sebagaimana lazimnya, dan mereka yang antipati karena kini timnas dianggap sebagai representasi rezim penguasa. Akibat dualisme ini pula timnas Suriah tak mampu memanfaatkan momentum untuk bisa lolos ke Piala Dunia tahun depan, sebuah cita-cita yang sesungguhnya telah dipendam sejak lama.

Dibunuh karena Jadi Oposisi

Timnas semestinya bertindak sebagai wadah netral yang menyatukan seluruh penduduk dalam sebuah negara. Sembari mengesampingkan ego politik, rakyat diajak untuk benar-benar bersatu saat mendukung perjuangan para pemain di kompetisi tingkat kawasan apalagi level dunia.

Namun, merujuk hasil investigasi selama tujuh bulan yang dijalankan oleh Outside the Lines dan ESPN, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Assad menjadikan timnas Suriah sebagai alat propaganda untuk menyokong kekuasaan rezim, dan secara diam-diam didukung oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA).
 
Investigasi ESPN meliputi wawancara dengan para mantan pemain timnas Suriah, mantan pejabat sepak bola Suriah, plus teman-teman serta kerabat korban represi Assad. Ada pula ulasan berdasarkan studi kasus dan video yang telah dikonfirmasi kebenarannya oleh pemantau hak asasi manusia. Wawancara berlangsung antara bulan September 2016 dan Maret 2017 di Malaysia, Jerman, Turki, Swedia, Kuwait dan Korea Selatan.

Baca jugaPengungsi asal Suriah Rindu Kampung Halaman Meski Hancur

Pemerintah Suriah dilaporkan telah menembak, membom, dan menyiksa hingga mati kurang lebih 38 pemain sepakbola dari dua divisi tertinggi di liga profesional Suriah dan beberapa lusin lainnya di divisi yang lebih rendah. Semua karena para korban mendukung kelompok oposisi, demikian menurut kompilasi catatan Anas Ammo, mantan penulis olahraga dari Aleppo yang dihubungi oleh Steve Fainaru untuk kepentingan laporan mendalam untuk ESPN tersebut.

Ammo selama ini dikenal sebagai penulis yang aktif mengungkap pelanggaran hak asasi manusia di kalangan atlet Suriah. Dalam temuannya, ada 13 pemain lain yang masih hilang. Meskipun manuver kelompok oposisi juga merenggut nyawa sebagian kecil pemain sepakbola Suriah lain, yang Ammo kaitkan dengan ISIS, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyatakan pemerintahan Assad telah “menggunakan atlet dan aktivitas olahraga untuk mendukung praktik opresinya yang brutal.”

Baca jugaKisah Pilu Ibu Kombatan ISIS dari Eropa hingga Amerika Utara

Pemerintah Suriah juga menjadikan stadion sepakbola sebagai pangkalan militer untuk melancarkan serangan pada kelompok oposisi yang kemudian turut mengorbankan warga sipil. Sejak awal perang sipil, kata Ammo, banyak pemain yang dipaksa untuk mendukung Assad. Caranya macam-macam. Kadang mereka diminta membawa spanduk atau mengenakan kaos dengan gambar wajah sang presiden saat mengikuti acara tertentu, terutama yang ada peliputan oleh media.

Pada bulan November 2015 di Singapura, pelatih kepala, seorang pemain dan juru bicara timnas Suriah mengadakan konferensi pers perdana dengan mengenakan kaos bergambar foto Assad. Dalam komentar yang beredar luas di kalangan pengungsi Suriah, pelatih kepala timnas, Fajer Ebrahim, juga menggunakan platform Piala Dunia untuk memberitakan Assad sebagai "orang terbaik di dunia".

“Assad sangat antusias saat berusaha menunjukkan kepada orang-orang bahwa atlet dan seniman di Suriah sangat mendukungnya sebab orang-orang inilah yang punya pengaruh besar di jalanan. Pawai-pawai dukungan kepada rezim yang diikuti dua golongan itu adalah kewajiban di sana,” lanjut Ammo.

Perang Saudara Bikin Sepakbola Suriah Berantakan

FIFA Dianggap Munafik

FIFA kemudian dikecam karena memilih diam. Pada 2015, muncul tuntutan pengusutan atas berbagai pelanggaran aturan tentang netralitas dalam sepakbola (yang dibuat oleh FIFA sendiri) di Suriah. FIFA menegakkan aturan yang sama dalam beberapa dekade terakhir. Paling sering dengan menangguhkan sebuah timnas dalam pertandingan resmi skala internasional. Namun dalam kasus Suriah ketegasan yang sama tak berlaku.

Dalam dokumen setebal 20 halaman yang berjudul “Kejahatan Perang terhadap Pemain Sepakbola Suriah” itu, FIFA hanya berkomentar “keadaannya tragis.. jauh melampaui wilayah keolahragaan” dan menyimpulkan bahwa kasus tersebut berada di luar kontrol FIFA. Ayman Zurich, mantan pemain Suriah yang menyerahkan dokumen tersebut ke markas FIFA di Zurich, Swiss, berkata pada ESPN bahwa FIFA bersikap munafik.

"Mereka mengeluarkan perintah untuk membekukan sebuah federasi karena campur tangan politik, sementara pada saat bersamaan ada perang habis-habisan yang terjadi di negara di mana stadion digunakan untuk menyimpan peralatan militer, anak-anak dan pemain sepak bola berusia di bawah 18 tahun sekarat, dan pemain sepak bola dilempar ke dalam penjara. Semua ini terjadi dan ada banyak bukti, tapi di mana keputusannya?"

Mark Afeeva, pengacara asal London yang selama ini mendalami undang-undang olahraga serta mempelajari tingkat independensi FIFA, setuju bahwa kasus di Suriah mewakili "kasus yang jelas-jelas menyodorkan adanya campur tangan negara secara sistemik di ranah sepak bola domestik dan internasional, namun FIFA telah memilih untuk tidak bertindak."

Sementara itu, Fadi Dabbas, wakil presiden Asosiasi Sepak Bola Suriah dan kepala delegasi untuk timnas Suriah, menyesali dokumen tersebut dengan mengatakan isinya "tidak benar sama sekali". Ia juga mengatakan bahwa dokumen tersebut dibuat oleh para pemain yang diasingkan karena menentang Assad. "Rezim melindungi orang-orang Suriah, dan masalahnya mereka itu berada di luar Suriah dan hanya mewakili diri mereka sendiri," kata Dabbas.

Jadi, Mau Main di Timnas atau Tidak?


Di satu sisi, melenggangnya Suriah di sepanjang kualifikasi Piala Dunia Rusia membuat rakyat Suriah yang bosan berperang jadi punya alasan untuk bergembira. Namun di sisi lain, keikutsertaan Suriah dalam ajang yang penting itu juga menimbulkan konflik moral bagi para pemain top nasional. Ikut timnas berarti siap dihujat oposisi. Menolak ikut berarti dianggap sebagai pengkhianat negara. Dilema ini dialami salah satunya oleh Firas al-Khatib.

Khatib adalah pemain andalan timnas Suriah sejak satu dekade belakangan. Di timnas senior kehadirannya amat menunjang pencapaian tim. Namun sejak lima tahun belakangan ia memboikot timnas Suriah untuk memprotes kediktatoran Assad yang membom serta melahirkan bencana kelaparan di kampung halamannya. Sejak saat itu ia pindah untuk bermain ke liga Kuwait dan hidup enak. Lalu kualifikasi Piala Dunia 2018 datang, Suriah punya peluang besar, dan Khatib kembali pusing bukan kepalang.

Di satu sisi ia ingin membela tanah kelahirannya. Ia diproyeksikan akan jadi kapten tim jika hal tersebut terwujud. Tapi pemboikotannya selama ini juga telah melahirkan basis pembenci yang kerap mengirimkan intimidasi serta ancaman lewat pesan pribadi Facebook. Pesan tersebut bisa berjumlah hingga ratusan per hari. Beberapa teman baik pun akhirnya memusuhinya.

Baca jugaSetelah Mosul Direbut dari ISIS, Apa Selanjutnya?

Jika kembali ke Suriah, bisa jadi ia akan menghadapi nasib buruk yang dilancarkan oleh kelompok oposisi radikal. Kondisi yang bagi Khatib amat memuakkan, sebab pilihan politik kini jadi sesuatu yang mengancam nyawa.

“Di Suriah ada banyak pembunuh, bukan hanya satu dan dua. Dan aku benci mereka semua. Apapun keputusannya, 12 juta orang akan mencintaiku, 12 juta lainnya ingin membunuhku,” ungkapnya.

Setelah perenungan panjang, Khatib akhirnya memutuskan kembali berseragam timnas Suriah. Namun kesediaan ini bukan tanpa syarat. Ia mau membantu timnas Suriah untuk lolos ke ajang Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah, tapi ia meminta Assad untuk berhenti membunuhi rakyat sipil.

Kabar kembalinya Khatib memunculkan reaksi beragam. Khatib mengklaim 80 persen pendukung timnas menerimanya dengan gembira. Namun, tentu saja, oposisi ganti mengecamnya lewat pesan Facebook. Salah satunya berbunyi:

“Bagaimana rasanya saat Anda mengkhianati negara dan bangsamu? Bagaimana rasanya ketika Anda mengkhianati Homs, di mana orang-orangnya melarikan diri dari kondisi mengerikan, sementara Anda memutuskan untuk pergi dan berdiri di bawah kekuasaan rezim? Yang paling tidak dapat Anda katakan tentang Anda adalah bahwa Anda adalah pengkhianat. "

Baca jugaRusia yang Habis-habisan Demi Suriah

Barangkali akhir-akhir ini Khatib sedang menyesali keputusannya karena dua hal. Pertama, Suriah gagal melaju ke fase grup Piala Dunia tahun depan di Rusia. Kedua, Assad tetap brutal meski Khatib telah pulang kampung.

Pada tanggal 4 April 2017, atau satu minggu usai Khatib berpartisipasi di laga kualifikasi antara Suriah dan Korea Selatan, serangan udara dengan menggunakan senjata kimia di Kota Khan Shaykhun, Idlib, Suriah. Diduga keras serangan dilakukan oleh pasukan Assad dan aliansinya. Sedikitnya 50 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka. Dunia, seperti biasa, mengecamnya, dan pemerintah Suriah, seperti biasa, menyangkalnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK SURIAH atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - awa/win)

Keyword