Menuju konten utama
Seabad Tirto Adhi Soerjo Wafat

Peran Besar Tirto Adhi Soerjo dalam Sejarah Pergerakan Nasional

Sebelum Boedi Oetomo dideklarasikan tanggal 20 Mei 1908, Tirto Adhi Soerjo sudah membentuk Sarekat Prijaji pada 1906.

Peran Besar Tirto Adhi Soerjo dalam Sejarah Pergerakan Nasional
Tirto Adhi Soerjo, motor pergerakan nasional. tirto.id/Lugas

tirto.id - Sepanjang tahun 1906, Wahidin Soediro Hoesodo berkeliling Jawa. Dokter bumiputra lulusan STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) ini menghadap para bangsawan lokal dalam upaya membentuk suatu perhimpunan modern. Ternyata, di tahun yang sama, Tirto Adhi Soerjo juga melakukan langkah sejarah serupa dengan tujuan yang hampir mirip pula.

Tirto kala itu baru saja pulang dari luar Jawa untuk menggalang dana guna membiayai penerbitan surat kabarnya. Sama seperti Wahidin, Tirto—yang juga berasal dari kalangan bangsawan Jawa—menemui kaum ningrat dan para saudagar kaya. Ia menyampaikan gagasan perlunya membentuk perhimpunan untuk memajukan “bangsa yang terprentah” yang selama ini hidup dalam kungkungan kolonial.

Hanya butuh beberapa bulan setelah itu, Tirto Adhi Soerjo mendeklarasikan berdirinya Sarekat Prijaji (SP). Sementara Wahidin dan para aktivis dari STOVIA lainnya baru mencetuskan Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908.

Sarekat Prijaji vs Boedi Oetomo

Beberapa bangsawan bumiputra yang ditemui Tirto Adhi Soerjo dan diajak berembuk mengenai rencana pendirian Sarekat Prijaji antara lain Raden Mas Prawirodiningrat (Jaksa Kepala Batavia), Taidji’in Moehadjilin (Komandan Distrik Tanah Abang), Tamrin Mohammad Tabrie (Komandan Distrik Mangga Besar), Bachram (Komandan Distrik Penjaringan), dan lainnya.

Dikutip dari Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan (2008) yang disusun Muhidin M. Dahlan dan Iswara N. Raditya, bukti bahwa Sarekat Prijaji telah dibentuk pada 1906 muncul dalam surat edaran yang dimuat koran-koran berbahasa Melayu di Hindia Belanda.

Diumumkan, telah berdiri perhimpunan yang mewadahi kaum priyayi pribumi untuk memajukan anak negeri dengan membentuk lembaga dana pendidikan atau studiefonds. Disebutkan pula, SP berpusat di Betawi dan akan segera dibentuk cabang-cabangnya di berbagai daerah (hlm. 44).

“Dari itulah kami sangat berharap teman-teman priyayi dan orang-orang bangsawan serta pun yang kebiasaan suka membantu kabulnya niat ini, oleh tidak saja memperanggotakan dirinya pada perhimpunan ini, juga mengajak sobat-handainya menjadi anggota dan berdaya-upaya supaya perhimpunan ini membesarkan kasnya,” tutup surat edaran itu.

Namun, perkembangan SP tak seperti yang diharapkan. Belum lama berdiri, organisasi ini sudah ditinggal dua petingginya, yakni R.M. Prawirodiningrat dan Taidji’in Moehadjilin, yang wafat. Ditambah lagi, saat itu Tirto Adhi Soerjo tampaknya juga sedang sangat sibuk mengurus perusahaan medianya.

Ketika Sarekat Prijaji mulai senyap hingga akhirnya nyaris tak terdengar lagi, Boedi Oetomo dicetuskan di STOVIA Batavia pada 20 Mei 1908. Beberapa pengurus Sarekat Prijaji pun memutuskan bergabung dengan Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Soetomo, dan lain-lainnya; tak terkecuali Tirto Adhi Soerjo yang tercatat sebagai anggota BO cabang Bandung.

Tirto menyambut gembira kelahiran BO. Antara SP dan BO tak beda jauh tipologinya: sama-sama perhimpunan yang beranggotakan para priyayi atau bangsawan kendati cakupan keanggotaan SP lebih luas tanpa dikenakan embel-embel eksklusivisme kedaerahan.

Namun, perlahan tapi pasti, relasi Tirto dengan BO memburuk. Diungkapkan Ahmat Adam dalam Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (2003), mengutip Medan Prijaji edisi 2 Mei 1910, Tirto mengajukan protes karena Dewan Pengurus BO tidak pernah mengirimkan laporan untuk diterbitkan di korannya.

Tirto merasa BO memboikot Medan Prijaji karena para petinggi perhimpunan ini iri dengan kesuksesan surat kabarnya tersebut. Adam menyimpulkan, ini barangkali ada benarnya lantaran Tirto sebelumnya juga pernah berselisih dengan orang-orang pusat BO (hlm. 100).

Polemik ini, dikutip dari Kilasan Petikan Sejarah Budi Utomo karya Darsjaf Rachman (1975), disebabkan karena rencana Dewan Pengurus BO menunjuk Ernest Douwes Dekker sebagai editor majalah terbitan perhimpunan itu (hlm. 60). Padahal, sebelumnya nama Tirto sempat disebut-sebut masuk kandidat kuat untuk mengisi posisi tersebut.

Douwes Dekker sendiri dekat dengan beberapa personil BO. Nantinya, pada 1912, pria berdarah campuran Jerman-Jawa kelahiran Pasuruan ini membentuk Indische Partij (IP) bersama dua mantan anggota BO, yakni Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) serta Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka dikenal sebagai Tiga Serangkai.

Situasi yang tidak kondusif ini membuat Tirto Adhi Soerjo memutuskan keluar dari keanggotaan Boedi Oetomo.

SDI: Antara Tirto & Samanhoedi

Saat masih menjadi anggota Boedi Oetomo, Tirto Adhi Soerjo sebetulnya sudah membentuk perhimpunan lainnya, yakni Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan organisasi ini adalah membantu kaum pedagang bumiputra untuk menghadapi persaingan dengan saudagar dari bangsa-bangsa lain.

Pramoedya Ananta Toer dalam Sang Pemula (2004) menyebutkan, rapat perdana untuk merencanakan SDI digelar pada 27 Maret 1909 di kediaman Tirto di Bogor (hlm. 153). Secara resmi, perhimpunan ini dideklarasikan tanggal 5 April 1909 serta memiliki dua kantor masing-masing di Bogor dan Betawi.

SDI yang digagas Tirto ini nantinya menaungi organisasi milik Haji Samanhoedi di Surakarta, hingga dibentuklah SDI cabang Solo yang kemudian oleh Tjokroaminoto diubah namanya menjadi SI.

Haji Samanhoedi adalah seorang saudagar batik berpengaruh di Solo dan memimpin perkumpulan bernama Rekso Roemekso. Perkumpulan ini, merupakan semacam laskar keamanan untuk menjaga keamanan kawasan industri batik itu sekaligus menghadapi dominasi kaum saudagar keturunan Tionghoa.

Akan tetapi, hingga awal 1911 itu, Rekso Roemekso belum memiliki badan hukum dan sewaktu-waktu bisa dibubarkan paksa oleh pemerintah kolonial lantaran dianggap sebagai organisasi ilegal.

Hingga kemudian Samanhoedi memperoleh informasi bahwa ada seorang bernama Tirto Adhi Soerjo yang dianggap bisa memberikan solusi atas persoalan ini. Lantas disepakati, Tirto akan merumuskan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) untuk Rekso Roemekso yang nantinya bakal diakui sebagai SDI cabang Surakarta.

Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997), mengungkapkan, Tirto Adhi Soerjo tiba di Solo pada akhir Januari atau awal Februari 1911 (hlm. 56).

Setelah Rekso Roemekso berganti wujud menjadi SDI, Samanhoedi meluaskan gerakan perhimpunannya itu. Selain menjadi benteng utama dari pedagang Tionghoa, SDI juga bertugas menghadang misi Kristenisasi. Maka itu, tulis Robert van Niel dalam Munculnya Elit Modern Indonesia (1984), Samanhoedi mengambil prakarsa untuk membentuk organisasi yang membawa manfaat sekaligus memberi perlindungan (hlm. 124).

Semakin besarnya jumlah anggota dan pengaruh SDI Solo membuat Samanhoedi ingin melepaskan diri dari bayang-bayang Tirto. Dikutip dari Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil? (1985) karya A.P.E. Corver, Samanhoedi bahkan mengklaim bahwa terbentuknya SDI Solo adalah gagasan sendiri (hlm. 21). Inilah yang membuat relasinya dengan Tirto kian memburuk.

Hingga akhirnya, Samanhoedi dan Tirto benar-benar pecah kongsi. Sadar diri kurang cakap dalam mengelola organisasi, Samanhoedi kemudian menggaet sosok muda berbakat dari Surabaya, yaitu Tjokroaminoto, untuk mengurusi SDI Solo.

Tjokroaminoto lantas menyusun ulang AD/ART untuk menggantikan rumusan yang sebelumnya dibuat oleh Tirto. Tjokroaminoto bahkan berhasil meyakinkan Samanhoedi untuk mengganti nama SDI menjadi SI. Menghilangkan embel-embel “dagang”, menurut Tjokroaminoto, bisa memperluas pengaruh perhimpunan ini—sesuatu yang kelak terbukti.

Infografik Tirto Adhi Soerjo

Nantinya, Tjokroaminoto justru menyingkirkan Samanhoedi dan orang-orangnya, lalu memindahkan pusat SI ke Surabaya. Tjokroaminoto tampil sebagai pemimpin besar SI—dengan segenap dinamika yang menyertai perjalanan perhimpunan ini—sampai akhir hayatnya pada 1934.

Lantas, apa yang terjadi dengan Tirto Adhi Soerjo?

Saat Samanhoedi dan Tjokroaminoto sedang berkutat di Solo sekurun 1912-1913 itu, Tirto justru tengah diterpa berbagai masalah pelik. Salah satu yang paling fatal adalah kasus delik pers lantaran Tirto seringkali mengkritik ulah pejabat kolonial maupun pejabat pribumi melalui tulisan-tulisannya.

Pada Desember 1913, Tirto diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman pembuangan ke Maluku. Sekembalinya dari pengasingan, Tirto mengalami depresi parah hingga meninggal dunia di Batavia pada 7 Desember 1918.

Hidup Tirto Adhi Soerjo memang berakhir miris. Namun, ia telah mengguratkan jejak-langkah dan sumbangsih besar dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya di kancah jurnalistik, melainkan juga sebagai salah seorang pelopor pergerakan nasional yang pertama-tama. Sarekat Prijaji dan Sarekat Dagang Islam adalah buktinya.

==========

Dalam rangka satu abad meninggalnya Tirto Adhi Soerjo pada 7 Desember 1918, kami menayangkan serial khusus mengenai riwayat dan kehidupannya dalam dunia pers. Serial ini terdiri dari 4 artikel, ditayangkan setiap hari mulai Jumat (7/12/2018) hingga Senin (10/12/2018). Tulisan di atas merupakan artikel kedua.

Tirto Adhi Soerjo adalah pelopor pers modern yang digerakkan kaum bumiputra. Sebagai pengakuan atas peran besarnya, pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 2006. Nama dan perjuangannya juga memberi inspirasi bagi media ini, Tirto.id.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan