Menuju konten utama

Penyebab Perang di Perbatasan Myanmar-Thailand, Warga Mengungsi

Perang saudara Myanmar terjadi di perbatasan Myanmar-Thailand pada Sabtu (20/4/2024) membuat warga mengungsi.

Penyebab Perang di Perbatasan Myanmar-Thailand, Warga Mengungsi
Orang-orang menyeberangi sungai Moei saat mereka meninggalkan kota Myawaddy di Myanmar ke kota Mae Sot di Thailand di provinsi Tak, Thailand, Sabtu, 20 April 2024. (AP Photo/Warangkana Wanichachewa)

tirto.id - Perang saudara meletus di perbatasan timur Myanmar dengan Thailand pada Sabtu, 20 April 2024, memaksa lebih dari 3.000 warga sipil mengungsi. Lantas, apa penyebab perang tersebut?

Sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera, saksi mata di sisi perbatasan Thailand dan Myanmar mengatakan bahwa mereka mendengar ledakan dan tembakan senapan mesin di dekat sebuah jembatan strategis sejak Jumat malam yang berlanjut hingga Sabtu dini hari.

Perdana Menteri Thailand, Srettha Thavisin, mengatakan bahwa ia memantau dengan seksama kerusuhan yang terjadi di wilayah perbatasan tersebut. Dia juga menegaskan, negaranya siap untuk memberikan bantuan kemanusiaan jika diperlukan.

"Saya tidak ingin melihat bentrokan semacam itu berdampak pada integritas teritorial Thailand dan kami siap untuk melindungi perbatasan kami dan keselamatan rakyat kami. Pada saat yang sama, kami juga siap untuk memberikan bantuan kemanusiaan jika diperlukan," tulis Srettha Thavisin melalui akun sosial media X.

Reuters melaporkan, menurut angka yang dikumpulkan oleh militer Thailand dan otoritas provinsi, sebanyak 3.027 orang pada hari Sabtu telah menyeberangi perbatasan untuk mencari perlindungan sementara di kota Mae Sot.

Apa Penyebab Perang di Perbatsan Myanmar – Thailand?

Karen National Union (KNU), kelompok etnis bersenjata Myanmar telah memimpin serangan terhadap Myawaddy, minggu lalu mereka berhasil merebut pos terakhir tentara Myanmar di wilayah tersebut. Myawaddy merupakan kota strategis yang terhubung dengan Thailand melalui dua jembatan melintasi Sungai Moei.

Kepala polisi distrik Mae Sot Thailand, Pittayakorn Phetchara, menjelaskan bentrokan pada Sabtu pagi dipicu oleh kelompok Karen yang melancarkan serangan terhadap tentara Myanmar yang bersembunyi di dekat Jembatan Persahabatan Thailand-Myanmar ke-2, sebuah titik penyeberangan utama untuk perdagangan dengan Thailand.

Lembaga penyiaran Thailand, NBT, dalam sebuah postingan di X, mengatakan bahwa pasukan pemberontak menggunakan senapan mesin 40 mm dan menjatuhkan 20 bom dari pesawat tak berawak untuk menargetkan sekitar 200 tentara junta yang telah mundur dari serangan pemberontak yang terkoordinasi di Myawaddy dan pos-pos militer sejak tanggal 5 April.

Seperti dikutip dari AP News, jatuhnya Myawaddy merupakan kemunduran besar bagi militer yang merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada tahun 2021.

Angkatan bersenjata Myanmar yang dulunya sangat kuat telah mengalami serangkaian kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Oktober lalu.

Junta militer Myanmar kehilangan banyak wilayah termasuk pos-pos perbatasan kepada pejuang etnis, yang telah berjuang untuk otonomi yang lebih besar selama beberapa dekade, dan unit-unit gerilyawan pro-demokrasi yang mengangkat senjata setelah pengambilalihan kekuasaan oleh militer.

Pittayakorn Phetcharat, mengatakan bahwa ia masih dapat mendengar suara tembakan secara sporadis. Ia menyampaikan pihak berwenang Thailand akan memindahkan para pengungsi ke daerah yang lebih aman.

Rekaman dari perbatasan Thailand menunjukkan tentara Thailand berjaga-jaga di dekat jembatan dengan suara ledakan dan tembakan di latar belakang. Orang dewasa dan anak-anak menyeberangi sungai dengan membawa barang-barang mereka dan diterima oleh para pejabat Thailand di tepi sungai. Beberapa orang terlihat berlindung di gedung-gedung di sepanjang tepi sungai di sisi Myanmar.

Baca juga artikel terkait PERANG SAUDARA atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Dipna Videlia Putsanra