Penyebab Penerbangan Garuda Langka: Cuma 60 Pesawat Dioperasikan

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 9 November 2021
Dibaca Normal 1 menit
Penerbangan maskapai Garuda Indonesia makin langka karena makin banyak pesawat yang sudah grounded demi menekan biaya operasional.
tirto.id - Jadwal penerbangan maskapai penerbangan Garuda Indonesia saat ini semakin langka, dari 142 pesawat yang saat ini dimiliki hanya 60 pesawat yang dioperasikan. Hal tersebut dilakukan PT Garuda Indonesia untuk menekan biaya operasional.

“Jadi memang kami sudah mendapatkan banyak complain, flight Garuda makin langka karena makin banyak pesawat yang sudah grounded,” jelas Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II, Kartika Wirjoatmodjo dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11/2021).

Selain itu, banyak juga pesawat yang sudah ditarik oleh lessor. Dari total 202 pesawat sewa yang dimiliki Garuda Indonesia, pada 2022 maskapai penerbangan nasional itu hanya akan memiliki 130 pesawat sewaan.

"Jadi yang menarik adalah pesawat [Boeing] 737 ini pesawat yang efisien, jadi 737 ini yang yang banyak diambil lessor, jadi kami banyak pakai yang white body 777 sama 330 karena itu lebih banyak [menampung] orang meskipun gak efisien seperti 737," jelasnya.

Adapun Kartika menjelaskan, keuangan Garuda Indonesia pada 2019 sempat mengalami perbaikan dari keuntungan penerbangan domestik meski saat itu Garuda Indonesia harus menutup kerugian di rute internasional. Saat itu kata Kartika Garuda mendapatkan keuntungan senilai US$ 240 juta.

Namun, saat terjadi lagi pengetatan akibat pandemi COVID-19, pendapatan Garuda Indonesia turun drastis.

“Ini yang merupakan imbas pengetatan kemudian juga penerapan PCR berdampak ke Garuda. Penumpang saat ini pun hanya 70 juta. Padahal pada Desember 2020 pernah mencapai 100 juta tapi karena perjalanan dikatakan turun lagi,” terangnya.




Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Bayu Septianto
DarkLight