tirto.id - Penyebab kasus dugaan keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi akhir-akhir ini, seperti di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat terungkap.
Pada Senin, 22 September 2025, ratusan siswa dari berbagai tingkatan di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dilaporkan mengalami gejala seperti keracunan makanan.
Dua hari setelahnya, sebanyak 500 siswa juga mengalami gejala yang sama. Bupati Bandung Barat Ritchie Ismail akhirnya membuat keputusan untuk menetapkan status dugaan keracunan makanan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Penyebab Keracunan Massal MBG 2025 dan Update Kasusnya
Data terakhir menyebutkan total korban keracunan di Bandung Barat mencapai 1.315 hingga 1.333 orang. Namun Bupati Richie Ismail kemudian mencabut status per 27 September 2025, karena tidak ditemukan kasus baru sejak 25 September 2025.
Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat mengungkapkan hasil investigasi dari sampel makanan MBG yang diteliti sebelumnya. Hasilnya menyebutkan penyebab keracunan adalah bakteri Salmonella dan Bacillus cereus.
Badan Gizi Nasional (BGN) pada sesi jumpa pers di Jakarta, Jumat (26/9), mengumumkan sepanjang periode Januari hingga September 2025, tercatat 70 insiden keamanan pangan, termasuk insiden keracunan, dan 5.914 penerima MBG pun terdampak.
Dari 70 kasus itu, sembilan kasus dengan 1.307 korban ditemukan di wilayah I Sumatera, termasuk di Kabupaten Lebong, Bengkulu, dan Kota Bandar Lampung, Lampung.
Kemudian, di wilayah II Pulau Jawa, ada 41 kasus dengan 3.610 penerima MBG yang terdampak, dan di wilayah III di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara ada 20 kasus dengan 997 penerima MBG yang terdampak.
Dari 70 kasus keracunan itu, penyebab utamanya ada kandungan beberapa jenis bakteri yang ditemukan, yaitu e-coli pada air, nasi, tahu, dan ayam.
Kemudian, staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, salmonella pada ayam, telur, dan sayur, bacillus cereus pada menu mie, dan coliform, PB, klebsiella, proteus dari air yang terkontaminasi.
Respons Pemerintah Terhadap Penyebab Keracunan MBG
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, resmi menutup sementara sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni dapur pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah terjadinya insiden keracunan makanan di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Zulhas, hal ini dilakukan untuk proses evaluasi semua SPPG yang bermasalah.
“SPPG yang bermasalah ditutup untuk sementara dilakukan evaluasi dan investigasi. (Evaluasi) tidak hanya di tempat yang terjadi, tetapi di seluruh SPPG. Semua dievaluasi dan diinvestigasi,” ujar Zulhas dikutip Antara (28/9).
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung memimpin rapat evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, pada Minggu malam, 28 September 2025.
Rapat tersebut merupakan bagian dari upaya Presiden memastikan bahwa program-program prioritas nasional berjalan baik, tepat sasaran, dan sesuai dengan visi pemerintah.
"Salah satu yang menjadi pembahasan utama adalah mengenai Program Makan Bergizi Gratis, terkait langkah terbaik dan beberapa evaluasi agar program ini dapat berjalan baik sesuai dengan yang direncanakan dan tepat sasaran,” jelas Teddy dalam keterangan resminya dikutip Antara (29/9).
Presiden Prabowo memberikan arahan yang sangat detail dan teknis, terutama dalam hal kedisiplinan pelaksana lapangan, prosedur distribusi dan penyajian makanan, dan standar kebersihan dan sanitasi, agar kasus serupa tidak terulang.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































