Menuju konten utama

Pengabdian Tenaga Kesehatan Tanpa Batas di Tengah Gempa NTT

Pelayanan kesehatan pascagempa Flores NTT berlangsung dalam keterbatasan. Bidan dan perawat bersatu menangani pasien korban gempa. Jumlah dokter terbatas.

Pengabdian Tenaga Kesehatan Tanpa Batas di Tengah Gempa NTT
Kondisi Puskesmas Wae Codi, Cibal Barat, Manggarai, NTT, rusak parah usai diterjang gempa. Tirto/Fransiskus Adryanto Pratama
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pagi belum benar-benar merekah ketika telepon Bidan Sovia Ngawus berdering nyaring sekitar pukul 05.00 WITA. Dari ujung telepon, Mantri Fransiskus Nggor, menyampaikan kabar darurat.

Ada seorang ibu hamil di Kampung Gurung, Desa Golo Lanak, Cibal Barat, Manggarai, NTT mengalami masalah kesehatan serius. Ia mengerang kesakitan sejak semalam.

Di tengah situasi pascagempa yang serba sulit, Sovia tak membuang waktu. Dari kediamannya di Kampung Runtu, ia bergegas menembus keremangan pagi menuju Kampung Gurung. Tak lupa Sovia menjemput dahulu rekan sejawatnya, Bidan Indah, yang ada di Kampung Latung dan pergi bersama menuju lokasi.

Risiko Keselamatan di Tengah Keterbatasan

Setibanya di Kampung Gurung, Golo Lanak, kenyataan di lapangan menguji ketahanan mental kedua bidan ini. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) setempat telah rusak dihantam gempa. Peralatan medis di pos yang biasa menjadi tempat mereka bertugas itu seluruhnya tertimbun dan tidak bisa diakses.

Di sisi lain, pasien akan segera melahirkan. Persalinan terpaksa ditangani di tempat penampungan darurat dengan alat seadanya.

Seketika kepanikan melanda saat pemeriksaan awal dilakukan. Tensi darah ibu yang hendak melahirkan melonjak tinggi, disertai tanda-tanda ketuban sudah pecah sejak malam hari. Dalam kondisi darurat dan krisis air bersih, Sovia dan Indah bergerak cepat memasang infus serta mengoordinasikan rujukan ke Puskesmas Wae Codi yang memiliki peralatan lebih lengkap.

Tenda Darurat Puskesmas Wae Codi

Bidan Sovia, Bidan Rovina, dan Bidan Indah, masih memeriksa ibu hamil yang sudah melahirkan dengan selamat di posko darurat di depan Puskesmas Wae Codi. Tirto/Fransiskus Adryanto Pratama

"Soal kendala ya banyak sekali, karena itu tempat darurat. Kami tidak ada alat karena Poskesdes-nya sudah rusak. Pas cek tensi kami panik karena ibunya tensi tinggi dan sudah pecah ketuban," kata Sovia, saat ditemui Tirto, Jumat (21/8/2026).

Perjalanan menuju Puskesmas Wae Codi membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan medan jalan yang rusak parah. Di tengah suasana tegang, drama lain pun terjadi. Ban mobil yang mereka tumpangi mendadak pecah.

Beruntung, sopir cukup tangkas mengganti ban. Misi kemanusiaan itu pun akhirnya dapat diselesaikan oleh Sovia dan tim kecilnya tanpa memakan waktu lama. Pasien selamat dan melahirkan di Puskesmas Wae Codi.

Perjuangan Menekan Ego

Di balik ketegaran merawat pasien, ada penderitaan pribadi yang ditutupi para bidan. Rumah Bidan Sovia sendiri tak luput dari kerusakan akibat guncangan gempa berkekuatan 7,7.

Sementara itu, kondisi Bidan Indah jauh lebih memprihatinkan yaitu rumah tinggalnya ambruk total. Indah juga terpaksa mengungsikan anak balitanya ke tenda basecamp mandiri serta menitipkan mertuanya yang sedang sakit kepada tetangga.

"Anak dan keluarga semuanya kami bikin di basecamp. Apalagi rumah kami roboh, hancur. Punya anak masih balita, mertua lagi sakit, titip-titip ke tetangga," ujar Indah tersebut dengan nada getir.

Ketakutan dan kelelahan fisik jelas menggerogoti. Namun, bagi Sovia dan Indah, tugas menyelamatkan nyawa ibu dan anak berada di atas segalanya sekalipun masih muncul ancaman gempa susulan hingga debu musim kemarau. Dari total 10 ibu hamil yang ada di wilayah tugas mereka di Golo Lanak, dua di antaranya telah bersalin dengan selamat. Sementara 8 lainnya masih membutuhkan pengawasan ketat di tengah keterbatasan stok obat-obatan.

Saat ditanya apa yang membuat mereka sanggup bertahan di tengah keterbatasan pascabencana, Bidan Sovia memberikan jawaban tegas.

"Ya demi tugas, demi keselamatan ibu dan bayi, itu yang paling utama. Sumpah tenaga kesehatan... karena lebih penting menyelamatkan kesehatan ibu dan bayi," tutur Sovia.

Puskesmas Roboh, Muncul Posko Wadah Darurat

Tak hanya Poskesdes tempat bekerja Bidan Sovia dan Bidan Indah saja yang terdampak gempa NTT M7,7. Nasib yang sama juga dialami bangunan Puskesmas Wae Codi yang ikut roboh setelah guncangan di Cibal Barat.

Kendati demikian, situasi penuh keterbatasan ini tidak meluruhkan semangat Bidan Rovina Anim bersama rekan-rekan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Wae Codi. Kendati gedung puskesmas runtuh dan menimbun seluruh fasilitas medis, mereka tetap berdiri di garis depan demi menyelamatkan nyawa warga.

Musibah yang melanda wilayah tersebut merusak fasilitas kesehatan secara total. Seluruh peralatan medis, perlengkapan persalinan hingga pasokan obat-obatan ikut tertimbun di bawah reruntuhan gedung yang rapuh. Situasi kian pelik ketika akses jalan utama menuju Kota Ruteng sempat terputus yang membuat rujukan pasien gawat darurat terhambat total sementara waktu.

Menghadapi kondisi kritis ini, Bidan Rovina dan tim berinisiatif mendirikan Posko Wadah Darurat. Beruntung, sistem kelistrikan bertenaga surya di fasilitas tersebut masih berfungsi dengan baik untuk menopang kebutuhan energi dasar posko darurat.

"Sejak hari Senin (17 Agustus) pascagempa, kami sudah bisa melayani pasien gawat darurat di posko sederhana ini. Pada hari pertama gempa, kami bahkan menangani pasien kritis akibat tertimpa reruntuhan rumah sebelum akhirnya berhasil dirujuk," kata Bidan Rovina.

Selain kehancuran bangunan, krisis air bersih juga membayangi hampir seluruh desa di Cibal Barat. Pasokan air dari PAM kerap tersendat hingga beberapa hari. Untuk menjaga standar higienis dan sterilisasi alat medis, para nakes menyiagakan tong-tong penampungan air di setiap sudut posko penanganan.

Tenda Darurat Puskesmas Wae Codi

Kepala Puskesmas Wae Codi Heribertus Jefri, berpose di depan posko kesehatan darurat bersama jajaran. Foto:/Dok Puskemas Wae Codi

Setiap hari, tim medis tidak hanya bertugas di posko utama, tetapi juga menyisir desa-desa untuk memberikan pelayanan mobile clinic dan edukasi kesehatan. Kasus penyakit yang mendominasi situasi pascabencana antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare. Kebutuhan obat-obatan yang sempat langka di hari pertama kini mulai teratasi berkat pendistribusian berkala dari dinas terkait.

Di balik dedikasi profesional tersebut, para nakes menyimpan trauma mendalam. Rumah Bidan Rovina sendiri di Kampung Latung mengalami kerusakan sedang dengan dinding yang retak parah. Ancaman gempa susulan serta keterbatasan alat medis yang masih terperangkap di gedung lama menjadi beban mental tersendiri. Untuk sementara, proses persalinan terpaksa dilakukan menggunakan peralatan seadanya yang dipinjam dari Poskesdes desa tetangga.

Rasa lelah secara fisik dan psikologis diakui sempat menghampiri, namun Bidan Rovina menegaskan keselamatan warga khususnya ibu dan bayi adalah prioritas tertinggi yang mengalahkan ketakutan mereka.

"Trauma dan rasa takut itu pasti ada, apalagi rumah kami sendiri ikut terdampak. Namun, di samping sumpah profesi, kami memprioritaskan keselamatan masyarakat. Bagi kami para bidan, kesehatan ibu dan bayi adalah yang paling utama," tutur Bidan Rovina.

Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Kepala Puskesmas Wae Codi, Heribertus Jeli Jefri, memastikan pihaknya tetap mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa di Kecamatan Cibal Barat meski harus beroperasi di bawah keterbatasan fasilitas, peralatan hingga pasokan obat-obatan.

Ia menjelaskan, bangunan utama puskesmas mengalami rusak berat sehingga pasien gawat darurat harus dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat atau rumah sakit. Sejak 16 Agustus, pihak puskesmas mendirikan posko darurat di halaman mes puskesmas dengan memanfaatkan peralatan seadanya, lampu darurat untuk penerangan, serta tanpa ketersediaan air bersih.

Heribertus berkata untuk menjangkau warga yang enggan berobat ke posko induk, pelayanan medis difokuskan melalui sistem jemput bola dari posko ke posko di setiap desa.

"Pelayanan dari posko ke posko tetap dilakukan hingga hari ini, 22 Agustus. Petugas di posko induk dipetakan maksimal lima orang karena mayoritas masyarakat meminta pelayanan langsung di posko desa," kata Heribertus, saat dihubungi Tirto, Sabtu (22/8/2026).

Tenda Darurat Puskesmas Wae Codi

Posko persalinan darurat Puskemas Wae Codi. Tirto/Fransiskus Adryanto Pratama

Untuk menjaga stamina tenaga kesehatan di tengah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketiadaan dokter tetap, Puskesmas Wae Codi membagi personel menjadi dua tim. Pelayanan menerapkan sistem shift seharian penuh secara bergantian, sembari mengandalkan bantuan dokter relawan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sesuai ketersediaan.

Sejumlah kendala krusial masih dijumpai di lapangan, mulai dari medan jalan yang ekstrem, minimnya operasional transportasi dan pengemudi, hambatan sinyal komunikasi, hingga krisis air bersih yang amat dibutuhkan untuk pembersihan alat kesehatan dan penanganan ibu bersalin.

Mayoritas warga dan kelompok rentan mulai dari balita, lansia hingga ibu hamil kini mengeluhkan penyakit ISPA, diare, demam, gastritis, hipertensi, myalgia, hingga gangguan kecemasan.

Heribertus mengatakan mengantisipasi minimnya stok, pemberian obat saat ini dibatasi dan difokuskan untuk kondisi darurat, sembari mengimbau warga berkunjung kembali jika kondisi memburuk. Pihak puskesmas mendata ketersediaan logistik setiap hari dan mengajukan permintaan langsung ke Dinas Kesehatan. Logistik yang dibutuhkan khususnya untuk pasokan obat pernapasan, pencernaan, pereda nyeri, serta tablet tambah darah (TTD) bagi ibu hamil.

"Pemberian obat dibatasi, dengan menyarankan berkunjung kembali ke posko induk apabila keadaan semakin memburuk. Obat untuk kondisi darurat tetap ada dan dipantau setiap hari jika kurang permintaan langsung ke dinkes," tutur Heribertus.

Sementara itu, Kepala Tata Usaha Puskesmas Wae Codi, Videlis Jenarum, mengatakan kerusakan berat pada bangunan gedung serta ketiadaan tenaga dokter tidak menyurutkan pelayanan kesehatan pascagempa dahsyat yang mengguncang wilayah tersebut.

Videlis Jenarum mengungkapkan kerusakan fisik gedung membuat warga merasa takut dan trauma untuk berobat di fasilitas utama. Menyiasati kondisi tersebut, pelayanan kesehatan dialihkan dengan mendirikan dua posko darurat serta menerjunkan tim medis secara langsung dari kampung ke kampung.

"Pelayanan kami bagi dua posko. Satu posko khusus persalinan di depan gedung Puskesmas lama, dan satu posko pelayanan umum di halaman Kampung Golowoi. Mulai besok, pelayanan posko utama akan dipindahkan ke tenda bantuan Pemerintah Kabupaten di lapangan bola depan SDK Wae Codi," ujar Videlis.

Terbatasnya aliran listrik juga memaksa para nakes mengandalkan kabel rol dari panel tenaga surya serta lampu senter untuk melakukan tindakan medis pada malam hari.

Tenda Darurat Puskesmas Wae Codi

Kepala Tata Usaha Puskesmas Wae Codi, Videlis Jenarum, menjelaskan kepada Tirto ihwal kondisi puskesmas yang rusak parah usai diterjang gempa. Tirto/Fransiskus Adryanto Pratama

Ia mengungkapkan sebanyak 62 tenaga kesehatan yang terdiri dari perawat dan bidan dibagi menjadi dua tim bergantian. Sebagian personel bertugas di posko darurat, sementara sebagian lainnya melakukan pelayanan jemput bola ke desa-desa.

Di tengah absennya dokter umum maupun spesialis selama bertahun-tahun, penanganan kasus darurat dan persalinan dilakukan penuh oleh para bidan. Jika ditemukan komplikasi medis yang membutuhkan konsultasi, bidan di lapangan akan berkoordinasi jarak jauh dengan dokter di rumah sakit umum sebelum mengambil tindakan atau melakukan rujukan.

Sejauh ini, Posko Puskesmas Wae Codi mencatat kedatangan rata-rata belasan hingga 30 pasien per hari, dengan dominasi kasus dari Desa Golowoi. Penyakit yang paling banyak ditangani meliputi trauma psikologis, ISPA akibat tinggal di tenda pengungsian, serta diare. Pasien dehidrasi langsung mendapatkan penanganan infus di tenda pengungsian oleh petugas Poskesdes.

Mengingat pasokan obat-obatan seperti parasetamol, obat batuk, dan vitamin cepat menipis, pihak Puskesmas Wae Codi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten untuk mengajukan permintaan susulan secara berkala demi menjamin ketersediaan logistik medis selama masa tanggap darurat.

"Kami itu tetap buka itu untuk permintaan susulan obat ke kabupaten. Pas hari ini kita minta, bisa juga hari ini kita pergi ambil, begitu. Mereka buka terus 24 jam di sana untuk melayani, lebih-lebih dalam keadaan gempa bencana ini. Kalau ada obat kurang," pungkas Videlis.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - News Plus
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Ilham Choirul Anwar