Menuju konten utama

Pelemahan Rupiah Berpotensi Sentuh Level Tertinggi seperti 1998

Jika konflik di Timur Tengah tak mereda, tren pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berlanjut.

Pelemahan Rupiah Berpotensi Sentuh Level Tertinggi seperti 1998
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang pemerintah naik menjadi Rp8.253,09 triliun per Januari 2024, jumlah utang tersebut naik sebesar Rp108,4 triliun dibandingkan utang di Desember 2023, yakni sebesar Rp8.144,69 triliun. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terus melemah. Berdasarkan data dari Bloomberg, nilai rupiah merosot 0,46 persen menjadi Rp16.250 per dolar AS, Rabu (17/4/2024) ini. Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra, menyebut level indeks dolar AS yang tinggi di kisaran 106 masih menjadi faktor utama pelemahan rupiah.

Selain itu, konflik antara Iran dan Israel juga turut menjadi sentimen depresiasi. Menurut Ariston, pelemahan tersebut belum akan berhenti jika konflik tidak segera mereda.

"Kalau konflik terus memanas dan meluas, bukan tidak mungkin pelemahan berlanjut ke level tertinggi [seperti] 1998," ucap Ariston saat dihubungi, Rabu (17/4/2024).

Menurutnya, kurs rupiah saat Krisis Moneter 1998 tidak jauh dari level kurs saat ini. Potensi pelemahan makin santer lantaran sentimen pasar yang mencari aman dengan masuk di dolar AS.

"Semalam Gubernur the Fed, Jerome Powell, membuka kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga acuan AS karena inflasi AS sulit turun. Hal ini bisa kembali mendorong penguatan dolar AS," ujarnya.

Bank Indonesia, menurut Ariston, harus melakukan intervensi untuk mencegah pelemahan rupiah yang "terlalu liar".

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) Bank Indonesia, Edi Susianto, juga menyebut bahwa konflik di Timur Tengah yang memanas turut andil menyebabkan rupiah kian terperosok. Lalu, data fundamental perekonomian AS yang cukup kuat, seperti data inflasi dan retail sales, masih di atas ekspektasi pasar.

Menurut Edi, sentimen risk off dari perkembangan tersebut kian menguat sehingga mata uang di kawasan Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Edi menuturkan bahwa Bank Indonesia mulai melakukan sejumlah intervensi untuk merespons dampak pelemahan rupiah lebih lanjut.

Pertama, dengan menjaga keseimbangan supply dan demand valas di pasar melalui triple intervensi, khususnya di spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) Nondolar AS terhadap rupiah.

Kedua, Bank Indonesia akan menjaga dan mendorong daya tarik aset rupiah untuk mencapai capital inflow.

"Meningkatkan daya tarik aset rupiah untuk mendorong capital inflow, seperti melalui daya tarik SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan hedging cost," kata Edi.

Selain itu, dalam menjaga kurs rupiah, Edi menyebut Bank Indonesia melakukan koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait, seperti dengan pemerintah, Pertamina, dan lainnya.

Baca juga artikel terkait KEUANGAN atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Flash news
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Fadrik Aziz Firdausi