Pasca-Gempa, Perempuan dan Anak-Anak Harus Diperhatikan Ekstra

Oleh: Widia Primastika - 4 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Perempuan hamil harus terhindar dari komplikasi. Anak-anak rentan trauma. Perhatikan mereka.
tirto.id - Gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR yang mengguncang Kabupaten Donggala, Sigi, dan Kota Palu pada Jumat (28/9/2018) telah merenggut nyawa ribuan orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Selasa (1/10/2018) ada 1.374 korban meninggal dunia. Selain korban jiwa, sebanyak 61.867 penduduk mengungsi di beberapa titik pengungsian.

Dari puluhan ribu pengungsi tersebut, ada kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus, misalnya perempuan hamil. Pada kejadian tsunami yang menghancurkan Aceh, 26 Desember 2004 lalu, Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan pelayanan persalinan aman pada 40.000 perempuan hamil yang kehilangan tempat tinggal.

Risiko Pelecehan Seks di Pengungsian

Dikutip dari situs resmi PBB, Asisten Direktur Jenderal Kesehatan Keluarga dan Komunitas WHO, Joy Phumaphi menyampaikan perawatan khusus tersebut diberikan untuk menyelamatkan ibu dan anaknya.

“Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk menyelamatkan kesehatan dan masa depan komunitas yang terkena dampak. Akses yang tepat waktu ke fasilitas dan layanan kesehatan untuk ibu dan bayi harus menjadi prioritas,” ujar Joy Phumaphi saat itu.

WHO menilai, dalam kondisi bencana, ibu, bayi lahir, dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan. Pada tsunami 2004 lalu, WHO menekankan kepada seluruh warga di pengungsian agar memiliki perawatan untuk perempuan hamil seperti perawatan kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir. Mereka juga memberikan kebutuhan makanan khusus untuk meningkatkan gizi dan dukungan bagi ibu dalam memberikan ASI eksklusif.


Carballo bersama dengan 3 orang partnernya pernah menulis artikel berjudul “Impact of the Tsunami on Reproductive Health” (PDF). Dalam publikasi itu, mereka mengatakan bahwa tsunami membawa dapat membawa beban psikososial dan fisik bagi perempuan hamil.

Jika pelayanan kesehatan bagi mereka diabaikan, rentan terjadi aborsi spontan dan induksi demi menyelamatkan nyawa sang ibu. Tak hanya itu, perempuan hamil juga rentan melahirkan prematur.

Bagi perempuan yang belum menikah, tsunami bisa mendorong terjadinya pernikahan dini dengan alasan ekonomi. Padahal, pernikahan dini itu bisa berdampak pada pendidikan dan kesehatan reproduksi mereka, seperti yang terjadi di India.

Carballo, dkk juga memaparkan beragam masalah yang dapat terjadi pada perempuan karena bencana tsunami seperti kerentanan terhadap perempuan, kekerasan gender, dan akses yang buruk terhadap kesehatan. Mereka juga rentan terhadap berbagai ancaman sosial dan ekonomi.


“Perempuan yang bertahan hidup sangat mungkin menjadi lebih rentan daripada korban lainnya terhadap berbagai ancaman sosial dan ekonomi. Sebagian besar mereka yang selamat dapat terjerumus dalam masalah pengangguran dan kemiskinan,” ungkap Carballo, dkk.

Keamanan perempuan dalam tenda-tenda pengungsian pun sudah seharusnya menjadi perhatian, agar tak terjadi kekerasan seksual dan pemerkosaan. Hal ini terjadi di Sri Lanka. Di negara tersebut terjadi peningkatan laporan pemerkosaan pasca-tsunami. Di Indonesia, pengungsi perempuan melaporkan adanya pelecehan seksual.

Dampak Tsunami pada Anak

Selain perempuan, kelompok rentan lainnya saat terjadi tsunami adalah anak-anak. Dilansir Los Angeles Times, sebanyak 33.000 anak kehilangan satu atau kedua orangtuanya akibat bencana itu.

Jika sebelum tsunami mereka memiliki ibu, ayah, atau saudara kandung dalam satu rumah, mereka harus menyesuaikan diri karena kehilangan keluarga mereka. Beberapa di antara mereka bahkan sempat hidup di jalanan atau hidup bersama orang asing.


Menurut laporan LA Times tersebut, kemalangan mendalam akibat tsunami berpengaruh pada nilai anak-anak di sekolah. Situasi itu semakin diperburuk jatuhnya kemampuan ekonomi mereka, sehingga memerlukan perjuangan untuk mendapatkan fasilitas pendidikan memadai, seperti buku-buku pelajaran.

Tsunami juga membawa trauma mendalam bagi anak-anak. Mereka dihantui oleh rasa takut, bahkan ketika hujan turun. beberapa di antara mereka pun tak pernah lagi pergi ke pantai.

Infografik Dampak Tsunami


Meningkatkan Ekonomi Penduduk

Dalam studi berjudul “Women After the Tsunami: Impact, Empowerment and Changes in Post-Disaster Situations of Sri Lanka and Aceh, Indonesia”, yang dilakukan oleh Ruwani Renuka dan Eka Srimulyani (PDF), 80 persen perempuan hidup dan bekerja sebagai ibu rumah tangga tanpa keterlibatan dalam jenis kegiatan sosial apapun.

“Setelah tsunami, mereka dipaksa untuk bekerja secara kolektif, karena mereka membentuk organisasi perempuan dan mengatur urusan mereka sendiri,” kata Renuka dan Srimulyani.

Pembentukan organisasi perempuan tersebut bertujuan untuk memupuk kepercayaan diri perempuan untuk mengatasi kesulitan dan mencari solusi dalam peningkatan ekonomi mereka.

Hasilnya, dalam waktu setahun, mereka mampu meningkatkan ekonomi keluarga hingga 30%, dan pada pertengahan 2013, pendapatan keluarga para perempuan itu meningkat hingga 40%.

Tentunya pengembangan bisnis itu dilakukan dengan memberikan pengembangan keterampilan bagi para korban. Seperti yang ditulis oleh Renuka dan Srimulyani dalam artikelnya. Mereka membeberkan cerita seorang perempuan korban tsunami Aceh yang mengembangkan keterampilan menjahit saat berada di pengungsian, hingga akhirnya ia pun bisa menggunakan kemampuannya itu untuk peningkatan ekonomi.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani