Partai Bulan Bintang & Kegagalan Mengulangi Sejarah Emas Masyumi

Oleh: Irfan Teguh - 17 April 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sebagai penerus Masyumi yang pernah menjadi kekuatan politik utama di Indonesia, Partai Bulan Bintang belum mampu meraih prestasi serupa.
tirto.id - Pilpres dan Pileg dilaksanakan serentak pada hari ini, Rabu, 17 April 2019. Enam belas partai politik nasional ditambah 4 partai lokal Aceh akan bersaing memperebutkan suara rakyat demi kursi di parlemen.

Pada pemilu kali ini 12 partai politik masih didominasi wajah-wajah lama, sementara sisanya wajah baru. Ada dua partai politik yang sebetulnya telah lama ikut pemilu (sejak 1999), tapi menjadi petarung baru karena pada pemilu sebelumnya raihan suaranya gagal mencapai ambang batas parlemen. Salah satunya adalah Partai Bulan Bintang (PBB).

Pada Pemilu 1999 partai yang disebut-sebut sebagai penerus Masyumi ini berhasil meraih suara sebanyak 2.049.708 dan menduduki 13 kursi di DPR. Lima tahun berikutnya, yakni pada Pemilu 2004, suara PBB naik sekitar 900.000 menjadi 2.970.487. Meski demikian, jumlah kursinya di DPR justru berkurang menjadi 11 kursi.

Mala menimpa PBB pada Pemilu 2009. Suara mereka anjlok lebih dari satu juta dengan hanya meraih 1.864.752 suara. Jumlah ini membuat mereka tak lolos ambang batas parlemen sehingga tak punya kursi di DPR. Pada Pemilu 2014 PBB belum mampu bangkit. Mereka hanya meraih suara sebesar 1.825.750 dan kembali gagal mendapatkan kursi di DPR.

Dengan raihan suara yang tidak signifikan dan jumlah kursi di DPR yang menurun, bahkan dalam satu dekade tak punya kursi sama sekali, PBB belum mampu mengembalikan kejayaan pendahulunya.

Meski demikian, wakil PBB sempat beberapa kali menempati posisi menteri. Dan pada pemulaan era Reformasi, Yusril Ihza Mahendra sebagai tokoh sentral PBB sempat melakukan manuver politik yang sampai sekarang masih diingat: mengundurkan diri dari bursa calon presiden, sehingga Poros Tengah—kekuatan politik ketiga selain PDIP dan Golkar—berhasil memenangkan Gus Dur sebagai presiden.

Gejolak Masyumi sebelum Pemilu 1955

PBB didirikan pada Juli 1998. Dalam Pemilu Langsung di Tengah Oligarki Partai (2005) yang disunting Syamsuddin Haris, diterangkan bahwa partai ini berakar pada lembaga dakwah yang dipimpin M. Natsir (tokoh Masyumi), yakni Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).

“Pada awal tahun 1998, dibentuk Badan Koordinasi Umat Islam (BKUI) yang mempertemukan pelbagai organisasi Islam. Pada pertengahan 1998, himpunan itu menyepakati pembentukan partai Islam penerus Masyumi, hingga kemudian pada akhir Juli 1998 partai itu diumumkan untuk mengikuti Pemilu 1999,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan Masyumi, prestasi PBB dalam politik elektoral jelas jauh lebih buruk. Pada Pemilu 1955 Masyumi meraih 7.903.886 suara dan berhak atas 57 kursi di parlemen. Mereka keluar sebagai juara kedua di bawah bayang-bayang Partai Nasional Indonesia (PNI) yang hanya terpaut setengah juta suara, sementara jumlah kursinya sama.

Pemilu 1955 sebetulnya bisa dimenangkan dengan telak oleh Masyumi jika Nahdlatul Ulama (NU) tidak memisahkan diri dari Masyumi dan membentuk partai sendiri pada 1952. Raihan suara NU pada pemilu tersebut sebesar 6.955.141 dan menduduki 45 kursi di parlemen.

Masyumi pertama kali berdiri pada zaman Jepang, tepatnya pada November 1943. Jepang memasukkan Islam Indonesia sebagai bagian dari politik perangnya. Pada Mei 1945 Soeara Muslimin Indonesia menyerukan para pemimpin Masyumi untuk melepaskan diri dari Jepang dan mendirikan Masyumi baru.

“Sejak didirikan bulan November 1945 hingga kongres bulan Desember 1949, saat barisan muda pimpinan Mohammad Nastsir merebut kepemimpinan partai, Masjumi membutuhkan waktu empat tahun untuk membangun kapaduan (koherensi) politiknya,” tulis Rémy Madinier dalam Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral (2013).

Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan, dalam pemerintahan yang berkali-kali bongkar pasang kabinet, orang-orang Masyumi turut menjadi menteri meskipun atas nama pribadi, bukan organisasi. Pada 1947 orang-orang Masyumi yang berasal dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) menghidupkan kembali partai tersebut. Tapi perpecahan tak dapat dihindari.

Warsa 1952, NU, sebagai salah satu organisasi Islam besar di Masyumi, memisahkan diri. Mereka membuat partai politik sendiri. Keluarnya NU tak membuat Masyumi khawatir.

Menurut Rémy Madinier, karena partai Islam lainnya tidak berhasil menjadi alternatif meyakinkan di pentas politik, Masyumi menjadi sangat yakin sebagai satu-satunya aspirasi Islam, sehingga para pemimpinnya menyambut baik keputusan NU untuk keluar dari Masyumi.


Mengungguli Lawan dan Kawan Lama

Tak ada partai politik yang dibenci Masyumi melebihi kebenciannya kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang sempat karam setelah peristiwa pemberontakan Madiun pada 1948 ini ternyata mampu bangkit dengan dipelopori anak-anak muda. Mereka berhasil meloloskan PKI dari pelarangan.

D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto mengambilalih kendali politbiro dan menerapkan aksi penggalangan massa sehingga PKI berkembang pesat. Pertumbuhan partai ini membuat Masyumi khawatir dan membuat kedua partai akhirnya menjadi musuh abadi.

Pada 1951, saat Soekiman Wirjosandjojo (tokoh Masyumi) menjadi Perdana Menteri, terjadi gelombang aksi mogok yang melumpuhkan negeri. Selain itu, menurut Rémy Madinier dalam Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral (2013), pemerintah juga menuding terdapat kelompok-kelompok bersenjata pro-komunis di pergunungan Jawa Tengah yang melancarkan serangan bersenjata di Tanjung Priok.

“[…] Pemerintahan Soekiman yang menuduh ada persekongkolan yang mengancam keamanan negara, melancarkan operasi penahanan mendadak terhadap ribuan pengikut komunis,” tulisnya.

Namun, karena tak ditemukan bukti, para pengikut komunis itu kemudian dibebaskan. Tak bisa dipungkiri, peristiwa ini semakin memperuncing perseteruan antara Masyumi dan PKI.

Salah seorang tokoh Masyumi yang amat membenci kaum komunis adalah Isa Anshary, perwakilan dari Persatuan Islam (Persis). Dari 1953 sampai 1958, ia menerbitkan majalah anti-komunis dan membentuk Front Anti Komunis.

Warsa 1954, atau setahun sebelum pemilu digelar, Masyumi giat melancarkan serangan kepada PKI lewat sejumlah karikatur. Sebagai contoh, pada Hikmah edisi 10 April 1954, dimuat karikatur yang menggambarkan kiblat PKI kepada Moskow dan Beijing.

Gambar tersebut menampilkan seseorang dengan logo PKI di lengan sebelah kiri, yang tengah membungkuk memberi hormat kepada dua kursi kosong (Malenkov dan Mao Tse Tung). Sementara beberapa orang di belakangnya yang diberi keterangan sebagai undangan/tamu tampak memegang kepala tanda keheranan.


Karikatur lain terdapat juga dalam Hikmah edisi 26 Juni 1954. Kali ini gambar yang ditampilkan adalah seseorang dengan baju bertuliskan “PKI” tengah memotong leher banteng hingga putus dengan celurit dan palu.

Empat kaki banteng itu masing-masing bertuliskan: “Kemanusiaan”, “Keadilan Sosial”, “Kedaulatan Rakyat”, dan “Kebangsaan Indonesia”. Pada bagian kepala yang dipenggal itu terdapat tulisan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pesan karikatur ini sangat jelas: PKI hendak menghilangkan sila ketuhanan.

“Perseteruan antarkedua partai kadang kala meningkat lebih dari sekadar polemik. Mulai tahun 1954, insiden bentrokan fisik meletus berulang kali,” tulis Rémy Madinier.

Infografik PBB dan Masyumi
undefined


Tahun 1955, saat pemilu akhirnya berlangsung, Masyumi berhasil mengungguli NU (kawan lama), PKI (musuh bebuyutan), PSII (kawan lama), dan partai-partai lain yang lebih kecil. Masyumi hanya dikalahkan PNI yang mempunyai Sukarno sebagai sosok karismatik pendulang suara.

Meski terpecah dengan keluarnya beberapa organisasi, serta mendapat serangan sengit dari kaum komunis, Masyumi nyatanya mampu mempertahankan posisi sebagai partai politik Islam yang paling dipercaya umat.

Riwayat Masyumi berakhir pada 1960. Itu terjadi karena para pemimpinnya terlibat dalam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958.

Waktu bergulir, rezim berganti. Sukarno jatuh, Orde Lama pun berakhir. Dalam 32 tahun pemerintahan Orde Baru, kekuatan politik Islam dikerdilkan dengan diberlakukannya penyederhanaan partai politik lewat fusi. Masyumi benar-benar terbenam, sisa-sisa pemimpinnya memilih aktif di bidang dakwah.

Ketika Soeharto akhirnya jatuh dan era Reformasi bergulir, Masyumi disebut-sebut bangkit dari kubur lewat PBB yang dianggap sebagai penerusnya.

Terhitung hanya 15 tahun Masyumi bertahan sejak pendiriannya yang baru pada 1945 sampai 1960. Dalam waktu yang relatif singkat itu Masyumi pernah menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia.

Sekali ini, pada Pemilu 2019, PBB hadir kembali di bilik-bilik suara. Anak kandung Masyumi itu kembali bertarung memperebutkan suara rakyat. Dalam 20 tahun terakhir eksistensinya di perpolitikan Indonesia, PBB belum mampu meraih prestasi segemilang Masyumi. Mereka bahkan berkali-kali “terdegradasi” dari parlemen.

Hari ini, 17 April 2019, eksistensi salah satu partai politik Islam ini kembali dipertaruhkan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PEMILU atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Politik)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan