11 Mei 1959

Parada Harahap: Sejarah Hidup si Raja Media Pembela Para Kuli

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 11 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Parada Harahap membela nasib kuli perkebunan melalui kerja jurnalistik. Menjadi raja media setelah hijrah ke Jawa.
tirto.id - Dalam khazanah pers Indonesia prakemerdekaan ada beberapa nama pelopor yang masyhur. Dimulai dari Tirto Adhi Soerjo sebagai biang pers bumiputra dengan terbitan Medan Prijaji-nya. Lalu ada Lanjumin Datuk Tumenggung si pemilik media terbesar Hindia Belanda Neratja. Atau wartawan Djamaludin Adinegoro yang terkenal dengan reportasenya ke Eropa.

Meski demikian jangan lupakan nama Parada Harahap. Di antara tokoh-tokoh itu, Parada adalah yang paling produktif memproduksi media. Juga dikenal sebagai salah satu wartawan yang punya nyali mewartakan kebobrokan kolonialisme.

Seturut Ensiklopedi Jakarta buku II (2005: 419), Parada adalah putra Batak kelahiran Asahan, 15 Desember 1899. Sebagai anak keluarga biasa, ia hanya sempat mengenyam Gouvernamentschool Twee de Klasse yang setingkat sekolah dasar. Namun begitu Parada kecil dikenal sebagai autodidak dan punya ketajaman ingatan. Ditambah dengan kepercayaannya dirinya yang besar, ia kemudian tumbuh jadi wartawan.

Soal pilihan hidupnya memasuki dunia kewartawanan ada juga asal-usulnya. Sebagaimana dijelaskan Toebagus Lutfi dalam laporan penelitian bertajuk King of the Java Press (PDF), semula Parada adalah seorang pembaca. Kebanyakan bacaannya adalah koran atau majalah yang dikirim kakaknya dari Bukittinggi.

“Kebiasaan membaca inilah yang nantinya menjadikan landasan bagi Parada Harahap, mengapa pada akhirnya ia demikian mencintai dunia pers dan publisistik,” tulis Toebagus.


Kerani Berdaya Ingat Tajam

Parada tak langsung terjun ke jurnalistik begitu tamat sekolah. Ia mengawali karier profesionalnya sebagai kerani alias juru tulis. Kala itu, di usia 15, ia diterima kerja di onderneming alias perusahaan perkebunan Rubber Cultuur Mij. Amsterdam di Sungai Karang.

Itu pekerjaan yang lumayan baginya. Dari mula bergaji 10 gulden, dalam sembilan bulan gajinya sudah naik jadi 35 gulden. Kariernya pun cepat melesat. Ketika ia pindah kerja di Onderneming Sungai Dadap, Asahan, ia sudah jadi kepala kerani dan dipromosikan jadi Asisten Kebun—jabatan tertinggi yang bisa dicapai seorang bumiputra.

“Ia mendapat gaji sebesar itu karena majikannya menilai ia mempunyai daya ingat luar biasa, disiplin, cakap berkerja, rajin dan sangat teliti dalam pelaksanaan tugas,” tulis M. Sjafe'i Hassanbasari dalam “Parada Harahap, the King of Java Press” yang terbit di Kompas (16/11/1992).

Berbarengan dengan masa kerjanya di Onderneming Sungai Dadap, Parada merintis jalannya ke arah jurnalistik. Di sela-sela kerjanya ia menulis untuk majalah De Krani, media informasi di kalangan juru tulis. Lain itu, ia juga kerap menulis untuk koran Pewarta Deli dan Benih Merdeka.

Gara-gara tulisan, karier gemilang Parada di onderneming pupus. Ia menulis tentang keculasan para bos di onderneming dan ketidakadilan penerapan Undang-Undang Kuli. Salah satunya tentang poenale sanctie yang melegalkan perusahaan menghukum atau mendenda kulinya yang dianggap tidak disiplin.

“Selanjutnya Parada juga mempertanyakan, mengapa mereka diperbolehkan membawa senjata tajam, sementara para kuli dilarang membawanya. Akibat artikel inilah karier Parada sebagai krani di onderneming Belanda dicopot,” tulis Toebagus.

Usai karier keraninya pupus, sempat tak terdengar kabar dari Parada. Siapa nyana, ternyata ia pindah ke Padang Sidempuan merintis karier sebagai kuli tinta penuh waktu. Dalam “Mengenang Seorang Tokoh Pers Kita: Parada Harahap” yang terbit di harian Kompas (15/12/1979) Amir Husin Daulay mencatat pada 1919 Parada sudah jadi redaktur kepala di harian Sinar Merdeka dan mingguan Poestaha yang berbahasa Batak.

Tapi dasar Parada terlalu bernyali. Lagi-lagi ia mesti kehilangan pekerjaan gara-gara tulisannya bikin merah kuping kolonialis Belanda.

“Di sana, lagi-lagi ia kena persdelik. Kali ini sampai dua kali dan berakibat matinya Sinar Merdeka,” tulis Amir.

Dari 1919 hingga 1922, setidaknya dua kali Parada kesandung delik pers. Ia sempat mendekam di penjara selama enam bulan. Tapi gara-gara reportasenya yang sering menyudutkan Belanda, ia juga dapat dukungan dari rakyat. Mereka yang bersimpati sampai rela berdemonstrasi ke rumah Asisten Residen dan mendesak pembebasan Parada.

Jadi “Raja” di Jawa

Agaknya dewi keberuntungan Parada tak bersemayam di Sumatra. Dan memang, ia mendapat jejuluk raja media bukan di tanah kelahirannya, tapi di Jawa yang baru ia tapaki pada awal 1922.

Ia tiba di Jawa bersama istrinya dan memulai semuanya dari nol. Amir Husin Daulay mencatat Parada pertama kali jadi kuli tinta di harian Sin Po. Tak berapa lama ia lalu mendapat posisi redaktur kepala di media terbesar di Hindia Belanda masa itu, Neratja.

“Tepat 9 bulan kemudian ia mengeluarkan mingguan miliknya sendiri Bintang Hindia, hasil dari tabungannya,” tulis Amir.

Dari titik inilah kemudian peruntungannya berubah. Ia kini bukan lagi sekadar wartawan, tetapi juga pengusaha surat kabar. Bersama Metzelaar, pemilik percetakan De Unie, Parada menerbitkan beberapa media lain yang kian membesarkan namanya.


Infografik Mozaik Parada Harahap
Infografik Mozaik Parada Harahap


Kerajaan medianya dimulai dari pendirian kantor berita Algemene Pers en Nieuws Agentschaap alias Alpena. Kemudian berturut-turut ia bikin mingguan Bintang Timur, Jawa Barat, Sinar Pasundan, Semangat, dan De Volks Courant yang berbahasa Belanda.

Di antara semuanya, Bintang Timur adalah yang paling moncer dan berpengaruh. Dari mulanya mingguan, ia berkembang jadi harian. Menurut Toebagus Lutfi, salah satu faktor yang bikin Bintang Timur meroket adalah tulisan-tulisan Dokter Rivai, seorang tokoh pers yang cukup berpengaruh kala itu.

“DR. Rivai sering mengirimkan karangannya secara teratur dari Eropa, tempat ia bertugas. Dengan cara tersebut harian ‘Bintang Timur’ dapat memberikan informasi dan pendidikan yang lebih maju dan luas, tentang berbagai perkembangan dari belahan dunia lain,” tulis Toebagus.

Demikianlah julukan The King of Java Press itu berasal. Tapi, mengutip kalimat Tony Stark di film Avengers: Endgame (2019): part of the journey is the end, masa jaya itu nyatanya juga punya akhir. Agaknya Parada punya kelemahan di bidang manajemen finansial dalam menjalankan perusahaannya. Pada 1935 ia bangkrut gara-gara utang 35.000 gulden.

“Ia kumpulkan modal untuk kembali menerbitkan sebuah harian yang baru. Pada tahun 1935 terbitlah Tjaja Timoer sebuah harian selebar saputangan. Ia cari berita sendiri, tulis sendiri, zet sendiri, cetak sendiri, jual sendiri...,” tulis Amin.

Kerajaan Parada benar-benar habis ketika balatentara Jepang mendepak Belanda dari Indonesia pada 1942. Tiga bulan setelah pendudukan, Tjaja Timoer dipaksa tutup. Sejak itu Parada tak pernah lagi bisa jadi raja media meski tak benar-benar meninggalkan dunia kewartawanan.

Selepas Indonesia merdeka, ia bergabung dengan Departemen Penerangan dan dipercaya mengelola hubungan pemerintah dan pers. Menurut M. Sjafe'i Hassanbasari dalam "Pers dan DPR, Riwayatmu Ini" yang terbit di Kompas (31/8/1995), sumbangsih Parada yang mencolok adalah kala ia membikin apa yang kini dikenal sebagai press room di DPR RIS pada 1950.

“Inilah kehadiran pertama suatu tempat khusus bagi wartawan berkumpul dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Dengan bantuan Panitera Parlemen, kegiatan sidang-sidang Parlemen RIS dihimpun dalam bentuk Ichtisar Parlemen yang selanjutnya disajikan kepada pers untuk kemudian disebarluaskan ke masyarakat,” tulis Sjafe’i.

Di masa senjanya, ia beralih profesi jadi pengajar. Bersama beberapa rekan sejawat, Parada merintis berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Kewartawanan dan Politik. Ia meninggal pada 11 Mei 1959, tepat hari ini 60 tahun lalu, hanya beberapa saat usai mengajar para calon wartawan muda yang bakal jadi penerusnya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan