Pandemi COVID-19, Masak dan Makan di Rumah pun Jadi Tren

Warga memasukkan beras ketan ke dalam bambu saat proses pembuatan lemang di Desa Alue Raya, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (18/4/2020).ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/wsj.
Oleh: Aditya Widya Putri - 10 Mei 2020
Dibaca Normal 3 menit
Pola konsumsi masyarakat selama pandemi bergantung pada kebijakan negara menghadapi COVID-19. Yang jelas secara global tren makan di rumah jadi lebih populer semasa wabah.
Selama #DiRumahAja, siapa yang sudah menjajal racikan kekinian seperti churro, pie teflon, atau dalgona coffee?

Sebulan belakangan linimasa media sosial dipenuhi tutorial berbagai macam hidangan mulai dari yang sederhana hingga tak lazim ditemukan. Dalgona Coffee jadi sajian yang kini paling populer dijajal. Minuman ini dibuat dengan mengaduk gula dan bubuk kopi hingga kental dan mencampurnya bersama susu putih.

Seperti tak pernah kenyang, semua orang keranjingan mengkreasikan menu-menu baru, Indriani Astuti salah satunya. Selama bekerja di rumah (WFH) sejak awal Maret lalu ia rajin berselancar mencari resep masakan dan berbagi gambar hasil olahan di media sosial.

Ada pizza, donat, mie ayam, boba, cireng, brownies, panada, dan roti sobek. Semuanya nampak menggugah selera.

“Mumpung punya waktu luang lebih banyak karena WFH jadi bisa googling resep-resep ini itu,” kata Indri merasa lebih produktif memasak selama pandemi COVID-19.


Supaya resepnya lebih paten, pekerja di salah satu media nasional ini mengikuti tips-tips memasak dari pecinta kuliner seperti Tintin Rayner atau selebgram @Asahid_Tehyung yang sering berbagi resep-resep makanan rumahan.

Jika sudah menonton kanal memasak mereka, Indri langsung semangat menjajal beragam resep anyar. Meski harus rela gas pengapiannya habis lebih cepat dibanding hari-hari biasa, tapi hasil masakannya tak mengecewakan. Panganan olahan Indri rasanya bisa disandingkan dengan buatan Tintin atau Asahid.

Selain untuk mengisi waktu, ada hal yang lebih krusial sehingga Indri memilih memasak sendiri di rumah, yakni kebersihan. Sebelum pandemi, ia termasuk gemar jajan atau nongkrong di berbagai cafe sembari mengerjakan tugas-tugas kantor – lazim seperti kebiasaan milenial.

Tapi pandemi membuat kegiatan tersebut jadi berbahaya dan tak mungkin lagi dilakukan. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari, Indri cuma punya dua pilihan: memasak atau menggunakan layanan pesan antar.

“Selama WFH selalu masak sendiri. Agak khawatir kalau harus jajan di luar, lagipula mal dan restoran banyak yang tutup meskipun ada jasa delivery.”

Bereksperimen dan melakukan kegiatan baru seperti memasak di rumah bisa jadi salah satu cara untuk mengusir penat selama WFH. Apalagi sekarang harga bahan makanan melonjak naik, memasak sendiri jadi pilihan bijak untuk berhemat di tengah krisis ekonomi akibat pandemi.


Perubahan Perilaku Konsumsi

Kebijakan pembatasan fisik selama pandemi COVID-19 ternyata ikut mengubah pola konsumsi masyarakat. Memasak di rumah jadi lebih populer dibanding sebelum pandemi. Masyarakat juga mulai menerapkan swasembada pangan dengan berkebun di rumah sendiri.

Studi Nielsen bertajuk “COVID-19 Where Consumers Are Heading?” menelusuri sentimen konsumen terhadap wabah virus SARS-CoV-2 terhadap perubahan gaya hidup dan belanja FMCG (produk-produk yang terjual cepat dengan harga relatif murah, biasanya merupakan kebutuhan sehari-hari).

Survei ini dilakukan di sebelas negara Asia yakni Cina, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Indonesia pada periode 6-17 Maret. Mayoritas konsumen di negara-negara tersebut kembali memprioritaskan makan di rumah, baik itu memasak sendiri atau menggunakan jasa pesan antar.

“Sebanyak 49 persen responden secara global lebih sering memasak dibanding sebelum wabah, 44 persen merasa tidak ada perbedaan, dan 7 persen lebih jarang memasak dibanding wabah,” demikian hasil kesimpulan survei.

Di Indonesia pemerintah telah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah. Selain itu mereka juga menganjurkan pembatasan fisik dan anjuran untuk #DiRumahAja. Kebijakan tersebut ikut mempengaruhi perilaku konsumen, sebanyak 50 persen responden mengaku akan mengurangi aktivitas hiburan di luar rumah.



Mereka kemudian mengalihkan aktivitas berbelanja langsung menjadi lebih sering berbelanja daring (30 persen). Aktivitas makan di luar juga dikurangi oleh 46 persen konsumen. Mereka mengganti kebutuhan konsumsi harian dengan lebih sering memasak di rumah (49 persen).

“Perencanaan belanja daring serta memasak di rumah jadi lebih sering dilakukan konsumen Indonesia. Hal ini turut mendorong peningkatan kebutuhan produk bahan baku dan segar,” ungkap kata Dede Patmawidjaja, Managing Director Nielsen Connect Indonesia dalam rilis yang diterima Tirto.

Lantaran banyak konsumen memilih mengolah kebutuhan konsumsinya sendiri, penjualan bahan pokok dan produk-produk segar mengalami peningkatan pertumbuhan. Study Nielsen menyebut bahan pangan seperti telur meningkat pertumbuhannya 26 persen, daging 19 persen, daging unggas 25 persen, serta buah dan sayur sebanyak 8 persen.

Dorongan konsumen mempersiapkan kebutuhan makanan harian di rumah juga membikin bumbu masak mendapat laju penjualan tertinggi (44 persen) dibanding kategori produk lainnya. Tingginya pertumbuhan penjualan bumbu masak sampai bisa disejajarkan dengan kategori kesehatan seperti vitamin.


Pola Konsumsi Terpengaruh Kebijakan Negara

Tren kembali makan di rumah secara global terjadi di banyak negara. Menurut survei Nielsen, Cina menjadi pionir dalam tren ini (86 persen), diikuti oleh Hong Kong (77 persen), kemudian Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam masing-masing 62 persen.

Faktor kesehatan untuk meminimalisir transmisi virus mendasari pilihan mereka makan di rumah lebih sering dibanding sebelum wabah. Sementara di sisi lain selama pandemi terjadi pula peningkatan tren pada makanan siap saji.

Responden Hong Kong cenderung memilih membungkus makanan atau memakai jasa pesan antar (46 persen), disusul Korea Selatan dan Thailand masing-masing 42 persen. Demi alasan kesehatan, konsumen dipaksa berpikir ulang soal di mana dan apa yang mereka makan.

“Orientasi pemikiran dan tindakan konsumen telah berubah. Bagi banyak orang, makan di luar sudah digantikan kebiasaan baru yang lebih cocok untuk kondisi sekarang,” ungkap Vaughan Ryan, Managing Director, Asia Tenggara, Nielsen.

Hanya saja Ryan mengatakan terdapat perbedaan pola konsumsi masyarakat jika dikaitkan dengan kebijakan penanganan COVID-19 yang dilakukan antar negara. Dibandingkan dengan Thailand yang sangat bergantung pada layanan pesan antar, Jepang tidak menunjukkan peningkatan persentase pada layanan ini.



Thailand telah memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) sejak 21 Maret lalu. Mereka menghentikan penerbangan, menerapkan jam malam, serta menutup toko dan mal. Sementara Jepang hanya menerapkan status darurat di beberapa wilayah selama enam bulan sejak 7 April lalu.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menekankan status darurat di Jepang berbeda dengan penguncian wilayah seperti Thailand, China, Prancis, atau beberapa negara Eropa lain. Warga hanya diminta menghindari perjalanan tidak penting di dalam dan luar area tertentu.

Tak ada batasan jarak maksimal untuk aktivitas di luar ruangan. Warga tetap bisa beraktivitas di luar ruangan dan pemerintah Jepang tidak memaksa tutup operasi bisnis yang tidak terkait kebutuhan warga. Perbedaan ini menjadi sebab warga Thailand bergantung pada layanan pesan antar sementara Jepang tidak.

“Pergeseran pola makan tidak cuma dipengaruhi kebiasaan konsumsi tradisional tetapi juga tindakan karantina dan penutupan yang berbeda di masing-masing negara,” kata Ryan.

Memilih memasak di rumah atau menggunakan layanan pesan antar bebas saja. Yang terpenting jaga konsumsi makanan tetap bergizi, karena selama pandemi, kenyang saja tak cukup. Tubuh butuh asupan nutrisi untuk meningkatkan imun untuk melawan virus.

Baca juga artikel terkait KULINER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight