Oscar 2019: Kemenangan Kisah-Kisah LGBT?

Calon Aktris Terbaik untuk "The Favorite" Olivia Colman menerima penghargaan sebagai Aktris Terbaik selama Penghargaan Akademi Tahunan ke-91 di Dolby Theatre di Hollywood, California pada 24 Februari 2019. FOTO/AP
Oleh: Aulia Adam - 26 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Di tengah hiruk-pikuk kemenangan Green Book yang kontroversial, sesungguhnya pemenang sejati Oscar tahun ini adalah kemarahan kaum LGBT.
Oscar tak pernah tak politis. Dan “kalau ada dua hal yang paling dibenci Hollywood adalah: membuat kicauan rasis di Twitter, dan presiden Amerika Serikat,” tulis Todd VanderWerff dari Vox, dalam prediksinya tentang siapa pemenang Film Terbaik Oscar tahun ini.

Kebencian itu pula yang membuat saya memprediksi kemenangan The Shape of Water sebulan lebih sebelum ia diumumkan di malam puncak Oscar 2018. Karakter utama film itu adalah perempuan bisu dari kalangan ekonomi bawah: Elisa (Sally Hawkins) jadi simbol yang tepat melambangkan gerakan progresif perempuan dalam dua tahun terakhir yang terus bergaung di AS. Meskipun tak punya kuasa apa-apa, ia berani menyelundupkan aset pemerintah AS yang disiksa di sebuah lab atas nama perikemanusiaan. Ia bahkan tak gentar melawan Strickland, bos tempatnya bekerja.

Strickland sendiri (yang diperankan Michael Shannon) digambarkan del Toro secara gamblang sebagai lambang kekuasaan Donald Trump, presiden AS paling tak populer buat Hollywood: orang pemerintahan, pria, dan kulit putih. Secara implisit, lewat karakter Strickland, del Toro juga ingin menunjukkan bahwa privilese yang digenggam golongan tersebut sudah sejak lama memang ada dan nyata.

Perseteruan antara yang punya kuasa dan yang tidak itu terang sekali dipaparkan del Toro. Setidaknya lewat tokoh-tokoh protagonis lainnya: seperti Giles, tetangga Elisa yang gay; Zelda, perempuan kulit hitam dari kelas bawah; dan Si Aset sendiri—yang melambangkan perbedaan, yang tetap harus dihormati dan diperlakukan setara tanpa siksaan dan diskriminasi.

Pada 2018, nominasi Oscar memang dinaungi oleh satu tema besar: kemarahan para perempuan.

“Dengan penghargaan dan nominasi untuk film-film seperti: Three Billboard, I, Tonya, The Post dan Molly's Game, Academy Awards mencerminkan temperamen kolektif wanita Amerika sebagai akibat penindasan oleh pemerintahan yang misoginis,” tulis Jill Gutowitz dari Them.

Alasan lain film ini jadi favorit di Oscar adalah karena ia merupakan karya del Toro, sutradara kenamaan dunia yang berasal dari Meksiko—salah satu negara yang paling sering jadi bahan kampanye negatif Trump ketika pilpres dan setelahnya.

Tak ada cara lebih lantang memprotes presidenmu yang misoginis daripada memenangkan The Shape of Water—menempatkan cerita perempuan bisu yang disutradarai imigran di puncak popularitas malam Oscar.

Tahun ini agak beda. “Persaingan Oscar tahun ini, mungkin menampilkan kategori Film Terbaik paling tak terprediksi sepanjang masa,” kata VanderWeff dalam tulisan prediksinya. Tapi, betulkah begitu?

Bohemian Rhapsody dan Semangat Queer

Sejak Bohemian Rhapsody menang jadi Film Terbaik versi Golden Globe bulan lalu, kekacauan malam puncak Oscar sudah mulai tercium. Meski tak selalu betul, tapi ada takhayul bahwa film-film yang difavoritkan di Golden Globe akan unggul pula di ajang Academy Awards. Dan Bohemian Rhapsody mendapat lima nominasi Oscar tahun ini, termasuk kategori Film Terbaik.

Di antara semua nomine dalam kategori itu, Bohemian Rhapsody adalah yang paling tidak populer di mata kritikus. Kemenangannya di Golden Globe juga menuai kritik pedas di berbagai media.

“Sejujurnya, aku enggak tahu mau bilang apa, kawan,” kata VanderWeff. “Bohemian Rhapsody itu buruk. It’s a bad movie. Bahkan di antara para penggemarnya, sekitar setengah dari yang saya ajak bicara bilang ada semacam kebodohan dalam kesenangan mereka terhadap film itu: mengakui banyak kekurangannya sebelum akhirnya bicara tentang betapa mereka mencintai Malek.”

Kegagalan paling sederhana yang jelas terpampang di film itu adalah interpretasinya yang keliru terhadap queerness, etnisitas, dan kronologi hidup Freddie Mercury, seorang legenda.


Tapi, tampaknya tak banyak orang yang peduli dengan kekeliruan itu. Aja Romano dari Vox menilai, “Ada kontingen pemilih Oscar yang tidak hanya tidak peduli dengan politik rumit film ini, sekaligus juga senang melihat kebodohan Bohemian Rhapsody sebagai titik penjualan yang (ternyata) menguntungkan,” dalam "Why Bohemian Rhapsody Should Not Win Best Picture".

Orang-orang ignorant itu pula yang menganggap kehadiran Bohemian Rhapsody dalam nominasi Film Terbaik Oscar sebagai semangat queerness yang sedang digaungkan Academy.

Pernyataan itu tak sepenuhnya salah. Sebab tahun ini nominasi Film Terbaik Oscar didominasi film-film queer (LGBT). Selain Freddie, ada Dr. Don Shirleys dari Green Book, Queen Anne dari The Favourite, dan Lee Israel dari Can You Ever Forgive Me?. Bahkan meski cuma sebagai sampingan, Vice dan A Star is Born—nomine lain dari kategori sama—juga punya karakter queer.

Bahkan, tujuh karakter queer dari empat film yang masuk nominasi Film Terbaik berhasil masuk nominasi Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, dan Aktris Pendukung Terbaik.

Rami Malek (Bohemian Rhapsody) masuk nominasi dan menang Aktor Terbaik. Mahershala Ali (Green Book) dan Richard E. Grant (Can You Ever Forgive Me?) jadi nomine Aktor Pendukung Terbaik, dengan kemenangan Ali. Olivia Colman (The Favourite) juga menang sebagai Aktris Terbaik. Sedangkan Melissa McCarthy (Can You Ever Forgive Me?), Emma Stone (The Favourite), dan Rachel Weisz (The Favourite) cukup senang di kursi nomine Aktris Pendukung Terbaik.

Kemenangan mereka jadi bukti bahwa Oscar peduli pada karakter-karakter marjinal ini. Bahwa orang-orang yang seumur hidupnya direpresi ini punya tempat di ajang elite semacam Oscar.



“Orang-orang yang marjinal terbiasa dibungkam dan dituntut untuk mengucilkan diri, diberi ruang sempit, bereaksi lebih lembut. Sebagai sebuah komunitas yang sering dijadikan sasaran oleh kelompok-kelompok kebencian, kita harus berhati-hati mengarahkan pukulan, karena bereaksi terhadap kebencian dapat menempatkan kita pada risiko pembalasan dan kekerasan -- kenyataan yang menakutkan,” tulis Jill Gutowitz.

“Yang saya suka dari Oscar yang queer tahun ini adalah kemarahan yang sangat dikenali, apakah di lanskap politik, pada homofobia, pada penindasan. Kemarahan terwujud secara berbeda di setiap karakter, tetapi satu hal tetap jelas: Mereka menolak untuk diam atau menyesuaikan diri,” tambah Gutowitz.

Green Book dan Oscar yang Bingung

Namun, semangat queer yang perlu dirayakan di Oscar tahun ini tetap tak terlepas dari kritik. Meski cerita-cerita kaum queer mendominasi nominasi-nominasi besar, tapi tak satu pun pemerannya datang dari perwakilan LGBT. Hollywood masih terjebak dalam penyakit lamanya: cis-washing.


Belum lagi dua film yang masuk nominasi Film Terbaik Oscar dikritik merepresentasikan orang-orang queer dengan problematik. Selain Bohemian Rhapsody, Green Book juga dinilai lemah menggambarkan queerness karakter Don Shirley.

“Kedua film memanipulasi querness agar cocok dengan narasi moralis, ketimbang memberikan karakter-karakternya kehidupan kehidupan batin yang kaya nan rumit. Itu berbahaya, semacam penyamarataan belaka, lebih buruk karena bertujuan agar mereka dianggap manusia sejati (umumnya),” kata Naveen Kumar dari Them. “Kita berutang kepada seniman-seniman queer perintis ini untuk memperbaiki kisah mereka: tidak hanya untuk menghormati tantangan yang mereka hadapi, tetapi juga untuk mengenali jalan ke depan.”

Oscar lebih terlihat kebingungan ketika memenangkan Green Book sebagai Film Terbaik tahun ini, ketimbang merayakan semangat queer.

“Ada banyak yang harus dirayakan, tetapi beberapa penggambaran yang dipuji tahun ini harus memicu kemarahan, bukan tepuk tangan,” kata Naveen.

Baca juga artikel terkait OSCAR 2019 atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight