Orang-Orang Nusantara yang Membantu Ilmuwan Alfred Russel Wallace

Ilustrasi Alfred Russel wallace. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 7 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Mereka membantu Wallace mengumpulkan ratusan ribu spesimen di Hindia Timur.
tirto.id - Nama Alfred Russel Wallace bersinonim dengan begawan ilmu alam. Kisah penjelajahannya, yang kemudian diterbitkan menjadi The Malay Archipelago, adalah salah satu klasik sejarah sains. Selama delapan tahun bertualang di Hindia Timur, dari 1854 sampai 1862, Wallace berhasil mengumpulkan 125.660 spesimen serangga, burung, reptil, kerang, dan mamalia.

Namanya abadi sebagai nama sebuah garis imajiner—memanjang dari utara Sulawesi hingga melewati Selat Lombok—yang memisahkan keragaman hayati Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Kawasan Sulawesi dan kepulauan di sekitarnya yang memiliki kekhasan hayati pun disebut sebagai kawasan Wallacea.

Wallace adalah naturalis hebat. Namun, terlalu lewah jika kemudian ia disebut sebagai ahli biologi lapangan. Bagaimanapun, secara teknis ia adalah seorang kolektor spesimen. Di masa hidupnya pun keduanya bukanlah hal yang bersinonim.

Wallace sendiri dalam The Malay Archipelago (2009, hlm. xxxi) menegaskan bahwa, “Tujuan utama saya melakukan perjalanan ini adalah untuk memperoleh berbagai spesimen flora dan fauna, untuk koleksi pribadi dan duplikat koleksi bagi museum dan naturalis amatir.”

Juga segala pencapaian dan koleksinya yang ekstensif itu tidak mungkin diperolehnya sendirian. Di setiap hagiografi yang ia dapat, ada andil dan bantuan warga lokal. Hampir seluruh spesimen yang di kumpulkan diperoleh berkat bantuan para asisten dan warga lokal.

“Saya harus menyatakan bahwa saya mempekerjakan satu atau dua orang dan kadang tiga orang Melayu untuk membantu saya. Selama tiga tahun, saya dibantu oleh seorang pemuda Inggris bernama Charles Allen,” kata Wallace merendah.

Allen adalah asisten pertama Wallace. Ia ikut Wallace dari Inggris ke Singapura pada bulan Maret 1854. Dan seperti diakuinya, Allen hanya sempat membantunya mengumpulkan burung dan serangga di Singapura, Pulau Ubin, Malaka, dan Serawak. Wallace merasa tidak terlalu cocok dengan Allen.

“Sebagaimana diketahui secara eksplisit dalam surat-surat tinggalan Wallace, ia dibikin jengkel oleh kesembronoan, ketidaktahuan, dan kegagalan Allen mengembangkan dirinya,” tulis John van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn dalam “I am Ali Wallace: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace”, terbit dalam Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (2015, hlm. 4).

Ketika mereka berdua sampai di Serawak pada akhir 1855, Allen akhirnya memutuskan untuk tinggal. Ia kemudian ikut dalam sebuah misi Kristen sebagai guru di sana. Tapi kemudian Allen ikut lagi membantu Wallace selama 1860-1862. Posisi Allen lalu digantikan oleh seorang pemuda Melayu bernama Ali.

Ali Wallace


Wallace bertemu dengan Ali saat masih di Serawak. Dalam publikasi-publikasi tentang Wallace, Ali kerap disebut sebagai “asisten Melayu” atau “Ali Wallace”. Dia menemani ekspedisi Wallace sejak Desember 1855 di Serawak hingga Februari 1862 ketika Wallace hendak kembali ke Inggris melalui Singapura.

“Ketika saya tiba kembali di Singapura, saya membawa seorang pembantu dari Melayu bernama Ali, yang selalu menemani saya selama berada di Nusantara,” catat Wallace (hlm. 61).

Wallace mengenang Ali sebagai pemuda yang penuh minat dan berpenampilan rapi. Melalui Ali pula ia belajar behasa Melayu agar lebih mudah berkomunikasi. Dan lagi Ali pandai memasak dan andal mengemudikan perahu.

Pendeknya ia adalah asisten yang cocok untuk gaya petualangan Wallace. Namun, Ali tak serta-merta jadi tangan kanan Wallace. Awalnya ia lebih sering dapat tugas memasak daripada mencari spesimen.

Seiring mengikuti Wallace menjelajah, Ali juga belajar menembak burung. Tak hanya itu, ia juga mulai belajar mengulitinya hingga mahir. Ia cepat belajar dan berani. Dalam beberapa perjalanan ia bahkan bisa mengajari orang sewaan Wallace melakukan tugasnya.

“Dia menemani seluruh perjalananku, terkadang sendirian juga, tetapi seringnya bersama beberapa orang lain, dan dia sangat berguna untuk mengajari mereka tentang tugas-tugasnya, dengan cepat dia juga paham apa kebiasaan dan keinginan-keinginanku,” tulis Wallace sebagaimana dikutip oleh van Wyhe dan Drawhorn (hlm. 4).

Dari Serawak, Ali mengikuti Wallace ke Lombok dan Makassar. Di sini masih menjadi juru masak. Namun, ketika di Lombok Ali juga mulai ditugasi Wallace membantunya menguliti burung tangkapannya. “Jadi, sepertinya kontribusi pertama Ali dalam merangkai spesimen adalah di Lombok itu," Van Wyhe dan Drawhorn mencatat.

Saat di Makassar, Ali telah cukup mahir melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan spesimen. Dia juga cukup terampil menggunakan senapan berburu. Sejak itu Ali selalu jadi andalan Wallace. Karena itu pula ketika Ali dan Wallace beberapa kali terserang demam malaria secara bersamaan, Wallace kebingungan.

“Pembantu saya, Ali, juga terserang penyakit (malaria) yang sama. Karena dia bertugas menguliti burung, maka perkembangan koleksi saya pun menjadi terhambat,” kenang Wallace (hlm. 164).

Sejak dari Makassar, Ali menghabiskan waktu setahun membantu Wallace. Ketika dia melanjutkan ekspedisinya ke Kepulauan Aru untuk mencari cenderawasih, Ali telah menjadi kepala asisten.

Kepercayaannya kepada Ali tak meleset. Ali berhasil menangkap seekor cenderawasih besar bagi Wallace. Lain waktu Wallace menugaskan Ali untuk menjelajah sendiri ke Wanumbai dan dia pulang membawa 16 ekor spesimen luar biasa yang membuat semringah tuannya.

Jasa terbesar Ali bagi Wallace adalah ketika di Pulau Bacan dia membawa seekor burung aneh. Wallace belum pernah melihatnya sebelumnya dan membuatnya heran. Itu adalah seekor burung berbulu lebat dengan variasi warna hijau di dadanya. Bulu hijau itu mamanjang menjadi dua tajuk yang berkilau. Paruhnya berwarna kuning gading dengan mata hijau pucat. Fitur lain yang mengagumkan Wallace adalah sepasang bulu putih yang mencuat di tiap bahu barung itu.

Wallace segera menyadari bahwa Ali membawa cenderawasih jenis baru yang belum pernah dikenal. Kelak, oleh ornitolog British Museum George Robert Gray, cenderawasih itu dinamai Semioptera wallacei. Burung itu kemudian juga dianggap penemuan terbesar Wallace selama bertualang di Hindia Timur.



Wallace dan Warga Lokal


Selain mendapat bantuan dari dua asisten, Wallace juga banyak mendapat bantuan dari warga lokal. Merekalah yang memberi informasi dan mengumpulkan hewan untuk Wallace. Beberapa memandunya, mengangkut barang, hingga membangun rumah kayu untuknya.

Tak hanya dengan warga biasa, Wallace juga menjalin hubungan dengan bangsawan atau penguasa lokal. Bagaimanapun, ia menyadari posisinya sebagai bule Eropa yang bertamu ke Hindia Timur. Dari para pembesar inilah Wallace mendapat izin dan juga bantuan menjelajahi daerah pedalaman.

“Namun, faktor utama yang memungkinkan Wallace mempekerjakan atau meminta begitu banyak bantuan adalah uang. Wallace adalah orang yang sederhana, tetapi menurut standar kepulauan Melayu ia sangat kaya. Ia mampu membeli senjata, kuda, jasa pelayan, dan nikmati gaya hidup ala bangsawan,” tulis John van Wyhe dalam “Wallace’s Help: The Many People Who Aided A.R. Wallace in the Malay Archipelago” (2018, hlm. 66).

Wallace juga cukup simpatik kepada warga lokal. Hal itu ditunjukkan dengan sikapnya ketika ia berada di Makassar pada 1856.

Atas perkenan raja, ia mendapat sebuah rumah yang bisa ditempatinya selama menjelajah Sulawesi Selatan. Agar Wallace dapat tinggal, penghuni rumah itu diusir. Wallace yang tak enak hati menemui si pemilik dan beberapa warga kampung untuk meminta maaf.

Wallace memberi si pemilik rumah yang terusir itu sejumlah uang sebagai tanda ia menyewa rumah itu. Ia juga berjanji akan membeli telur, ayam, atau buah-buahan dari mereka. Intinya, ia menegaskan bahwa kedatangannya bukanlah ancaman bagi kampung itu.

Ia juga berjanji akan mengupah anak-anak mereka yang membawakannya kerang atau jenis serangga yang ia inginkan. Tak dinyana, sore harinya beberapa anak mendatangi rumahnya membawa serbaneka kerang dan serangga.

“Selusin anak datang satu persatu membawa beberapa spesimen Helix kecil. Setelah menerima uang tembaga yang mereka inginkan, anak-anak itu pergi dengan takjub dan senang,” tulisnya di The Malay Archipelago (hlm. 164).

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight