Seri Operasi Intelijen

Operasi Komodo: Pendahuluan Sebelum Invasi Indonesia ke Timor Timur

Oleh: Petrik Matanasi - 6 Juli 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebelum operasi Seroja dilaksanakan, ada operasi pendahuluan yang melibatkan mantan pasukan baret merah yang jadi perwira intelijen.
tirto.id - Berada di tengah bahaya bukan hal luar biasa bagi Aloysius Sugianto. Sedari muda dia sudah terlibat dalam Revolusi Indonesia (1945-1949). Dia orang terdekat Slamet Riyadi yang gugur di Maluku ketika penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS). Setelah Slamet Riyadi terbunuh, Sugianto tetap berkarier di militer. Dia termasuk perwira generasi awal dari pasukan khusus Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)—yang belakangan jadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Namun, setelah Peristiwa Kranji, Sugianto tak lagi di pasukan berbaret merah itu. Belakangan, dia ditempatkan di Komando Tjadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Waktu G30S meletus pada 1965, pangkatnya kapten. Saat itu ia adalah staf dari Asisten Intel Kostrad, Kolonel Yoga Sugama, bersama Letnan Kolonel Ali Moertopo juga.


Waktu Ali Moertopo menjadi Deputi II Bakin dan memimpin Operasi Khusus (Opsus), Sugianto juga di sana. Sugianto jadi Direktur Masalah Budaya di sana dan pangkatnya sudah kolonel pada pertengahan 1974. Saat itu, ia juga menjadi pengelola majalah hiburan Pop. Setelah Ali Moertopo dikunjungi perwakilan kelompok Apodeti dari Timor Portugal, Sugianto dapat tugas.

“Sang kolonel yang Katolik—seperti sepertiga penduduk Timor—mendapat perintah mengunjungi ibukota Timor Dili, dalam sebuah misi pencarian fakta,” tulis Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2009: 86).

Bulan depannya, bermodal visa dari Konsulat Portugal di Jakarta, Sugianto terbang ke Dili. Sugianto tak mengaku sebagai kolonel Opsus, melainkan sebagai direktur perusahaan dagang fiktif.

“Saya akan dijemput di bandara Dili oleh wakil Apodeti. Sesuadah berbicara dengan mereka, kemudian saya menuju hotel dan bertemu dengan pendukung persemakmuran Portugal sambil minum kopi. Malamnya, saya akan makan malam dengan mereka yang mendukung kemerdekaan,” aku Sugianto dalam buku Ken Conboy (hlm. 87).

Berkali-kali Sugianto keluar-masuk Timor Portugal, mengumpulkan data intelijen soal kelompok-kelompok politik pendukung kolonialisasi Portugal dan pro-kemerdekaan. Sementara Sugianto keluar-masuk dan memantau situasi di Timor, Ali Moertopo merancang operasi bersandi "Komodo".

Buku Memori Jenderal Yoga (1990: 291) yang disusun Yoga Sugama, B. Wiwoho, dan Bandjar Chaeruddin menyebut, Yoga Sugama selaku Kepala Bakin memimpin langsung operasi ini. Ali Moertopo selaku Wakil Kepala Bakin menjadi wakil pimpinan operasi. Selain Sugianto, personil lain yang terlibat dalam operasi ini adalah Moerdani, Agus Hernoto, Subrata, dan Alex Dinuth.


Operasi dalam Operasi

Setelah Kudeta September 1974 di Lisabon, Portugal, persemakmuran Portugal—di mana Timor Portugal akan berada di dalamnya—pun batal. Seperti Angola, Timor Portugal diperkirakan akan merdeka. Berdasarkan laporan hasil Operasi Komodo, kelompok kiri tampak menonjol. Bahaya komunis membuat Jakarta ikut merumuskan keputusan penting.

Presiden Soeharto bukan tipikal orang yang suka mencari masalah dengan mengganggu urusan negara atau bangsa lain termasuk yang jadi tetangganya. Namun, untuk kasus Timor Portugal—sebutan untuk wilayah yang di masa Orde Baru disebut Timor Timur dan setelah merdeka menjadi Timor Leste—Presiden RI ke-2 ini punya sikap berbeda.

Tak heran jika Xanana Gusmao, seperti dikutip dalam biografi Eurico Guterres, Eurico Guterres: Saya Bukan Siapa-siapa (2015: 70), yang disusun Hukman Reni menyebut, “Indonesia cuma disuruh Amerika Serikat masuk Timor Timur karena ketakutannya pada komunisme pada waktu itu.”

Di masa Orde Baru, sudah jelas bahwa Indonesia bukan musuh Amerika. Tak heran jika Indonesia kemudian memasukkan tentara ke wilayah Timor Portugal.

“Moertopo, terutama tetap menyarankan dilakukannya operasi bawah tanah guna memengaruhi penduduk Timor serta mendapatkan lobi pejabat-pejabat Portugal,” tulis Ken Conboy (hlm. 88).

Apodeti, yang di antara orang-orangnya berhubungan dengan Ali Moertopo, akhirnya memilih bergabung dengan Indonesia. Keputusan ini diambil karena Persemakmuran Portugal mustahil terwujud lagi dan ratusan pemuda Apodeti juga mendapat pelatihan fisik oleh militer Indonesia.

Sayangnya, tak semua jenderal di intelijen militer berpikiran seperti Ali Moertopo. Ada Benny Moerdani, yang seperti Sugianto juga berasal dari baret merah. Sebagai jenderal intel di Departemen Pertahanan Kemanan, Moerdani menyetujui operasi rahasia lain. Kali ini dengan pasukan lebih banyak. Operasi bersandi "Flamboyan" pun dilaksanakan. Pada Februari 1975, Kolonel Dading Kalbuadi bersama delapan anggota sudah bikin pos di sekitar Timor Portugal, tidak jauh dari markas operasi Komodo.

Dading Kalbuadi juga dari baret merah, kawan dekat Benny Moerdani juga. Benny percaya pada kawan seangkatannya di pelatihan perwira itu. Sebelum berangkat ke Timor, Benny berusaha mengingatkan sang kawan mengenai bahaya operasi yang akan dijalaninya.

“Ini mungkin one way ticket,” kata Benny seperti dikutip Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1993).

Dading yang dipercaya Benny itu lalu bilang, “Sudahlah Ben, tak apa-apa. Saya kerjakan [...] tapi tolong, titip keluarga saya, kalau nanti saya tidak kembali.”

Infografik Sebelum Operasi seroja


Membongkar Dokumen Rahasia Portugal

Nama tim dalam operasi Flamboyan itu memakai nama-nama perempuan: Susi, Umi, Tuti. “Sekitar 50 anggota Partisan disertakan dalam setiap tim Pasukan Khusus—Susi, Umi, dan Tuti—dan dikerahkan di daerah asal mereka masing-masing,” tulis buku Chega 1: Indonesia (2010: 400).

Di antara orang-orang yang terlibat dalam tim-tim itu belakangan jadi jenderal, seperti Sutiyoso, Yunus Yosfiah, Tarub, juga Kuntara.

Di tengah perjalanan operasi ini, Kolonel Dading, dengan tim militer khususnya berusaha mengambil alih pelatihan Apodeti di Atambua, perbatasan antara Indonesia dengan Timor Portugal. Akhir April 1975, para pelatih dari pasukan khusus Indonesia, seperti dicatat Ken Conboy, tiba di Atambua (hlm. 89). Sebanyak 400 milisi pun dilatih. Beberapa anggota pasukan khusus juga menyusup di perbatasan.

Perpecahan kemudian terjadi di antara orang-orang Timor. Salah satu faksi mengambil alih kota dan membongkar gudang senjata kepolisian Timor Portugal pada 9 Agustus 1975. Faksi ini menembaki faksi lainnya. Gubernur Militer Portugal yang berwenang pun, karena sedikitnya pasukan pengawal, terpaksa menyuruh mundur anggota militer yang berjumlah tidak banyak itu ke dermaga.


Ken Conboy bercerita, setelah kondisi di Timor Portugal makin kacau, Mayor Antonio Joao Soares singgah di Jakarta dari Lisabon pada 14 Agustus 1975. Bakin menduga ada dokumen penting yang dibawa sang mayor. Dokumen tersebut bikin Moerdani penasaran. Mayor itu pun diintai di tempatnya menginap, hotel Borobudur. Setelah obat pencuci perut dari Bakin gagal membuat mulas, si mayor pun melanjutkan perjalanannya (hlm. 90-91).

Esoknya, 15 Agustus 1975, diketahui dari surat-surat diplomatik bahwa mayor dari Portugal itu adalah atase militer. Dia hendak menuju Kupang lewat Bali dan dari Kupang dia akan pergi ke Dili dengan pesawat Gubernur Militer Portugal. Si mayor diburu Dading dan tim kecilnya hingga ke Bali.

Dading dan kawan-kawan mendapat informasi bahwa si mayor akan terbang esok paginya dari Bali. Hans Hamzah, salah satu bawahan Dading, lalu mengibuli Soares dengan mengaku sebagai Kepala Cabang Merpati. Hamzah bilang bahwa si mayor harus mendapat legalisasi dari petugas imigrasi untuk bisa terbang.

Suka tidak suka, si mayor akhirnya koperatif pada Hans dengan ikut ke kantor imigrasi. Sementara kopernya ditinggal. Tim Dading pun bekerja dan berhasil memotret dokumen-dokumen yang bikin Benny Moerdani penasaran itu. Isinya dilaporkan dan bikin senang pihak Indonesia: Portugal akan minggat begitu saja dari Timor. Operasi kecil bersandi "Kuta" itu sukses.

Minggatnya Portugal dan menguatnya kelompok komunis membuat Indonesia mengirim pasukan dalam jumlah besar dalam operasi legendaris bertajuk Seroja.

Baca juga artikel terkait OPERASI MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan