tirto.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan kembali menggelar ajang tahunan bergengsi Risk and Governance Summit (RGS) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Juli mendatang di Hotel Bidakara, Jakarta.
Forum strategis ini merupakan agenda rutin yang digawangi oleh OJK untuk membahas berbagai isu krusial terkait tata kelola perusahaan (good corporate governance), dengan fokus utama pada penguatan institusi sektor keuangan.
Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, menjelaskan bahwa RGS 2026 didesain secara khusus untuk menghasilkan output dan dampak yang konkret bagi industri. Di akhir kegiatan, OJK akan menjaring masukan langsung dari para audiens melalui kuesioner dan survei.
Hasil kompilasi data tersebut nantinya akan diserahkan kepada kepala pengawas terkait di OJK serta asosiasi industri sebagai panduan untuk memperkuat regulasi maupun implementasi kebijakan di lapangan.
"Harusnya dengan mengkombinasikan semua unsur ini nanti kita bisa come up dengan masukan apa sih misalnya ada pengaturan yang kita perlu perkuat, atau kalau pengaturan yang sudah ada, ada penguatan implementasinya," ungkap Sophia di Jakarta pada Jumat (10/7/2026).
Sophia juga menyoroti tantangan terbesar dalam penyusunan tata kelola yang kerap kali berada pada aspek detailnya.
"Kalau misalnya punya rencana atau kebijakan yang baik, the devil is in the detail. Jadi kenyataannya yang bagus di atas, tapi nanti di permukaan kita lihat ada ‘batuk-batuk’ (masalah). Mungkin ada gap antara apa yang diinginkan dan dalam skala implementasi," jelas Sophia.
Di samping sesi diskusi utama, pengayaan wawasan dalam RGS 2026 juga dijaring melalui ajang kompetisi ilmiah Indonesia Paper Competition (IPC). Pada tahun ini, panitia mencatat adanya lonjakan jumlah pendaftar yang sangat signifikan dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya. Mayoritas riset dan makalah yang diajukan oleh para peserta berfokus pada tema penerapan teknologi pengawasan atau supervisory technology (suptech).
Sophia menegaskan bahwa adopsi teknologi pengawasan dan penguatan keamanan teknologi informasi ini merupakan isu yang sangat krusial karena ancaman kejahatan siber (cyber risk) secara konsisten bertengger di posisi tiga besar risiko global. Sektor perbankan dan institusi keuangan pun diidentifikasi sebagai target yang paling rawan terhadap serangan siber ini.
"Kalau kita lihat global risk perception, itu yang namanya cyber security itu pasti masuk di top 3. Jadi memang itu adalah keharusan bagi kita untuk mengindikasi. Apakah ya kebanyakan infra detection system-nya itu skenarionya mesti sensitif untuk bisa menangkap anomali transaction lebih awal," imbuhnya.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id































