Menuju konten utama

Nuansa Islami Ridwan Kamil dan Raibnya Uu Ruzhanul dalam Debat

Uu Ruzhanul Ulum diharapkan bisa menegaskan ke-Islam-an, akan tetapi dalam debat ia gagal menopang Ridwan Kamil.

Nuansa Islami Ridwan Kamil dan Raibnya Uu Ruzhanul dalam Debat
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) dan Uu Ruzhanul Ulum menyampaikan visi dan misi saat Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat di Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/3/18). ANTARA/M. Agung Rajasa

tirto.id - Baju koko putih menutupi tubuh Uu Ruzhanul Ulum. Dengan kopiah putih di kepala dan selembar selendang hijau mengalung di pundak, calon wakil gubernur (cawagub) Jawa Barat (Jabar) tersebut tampil dalam debat publik pertama Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar 2018, Senin (13/3/2018) malam.

Dari empat pasangan calon (paslon) yang seluruhnya berjumlah delapan orang tersebut, enam orang di antaranya mengenakan kemeja putih yang ditutupi jas atau blazer hitam. Sedangkan Deddy Mizwar (Demiz) tampil dengan kemeja putih yang pernah dikenakannya untuk Pilgub Jabar 2013. Jelas, untuk urusan pakaian, baju koko dan selendang hijau membuat Uu hadir begitu mencolok dibanding kandidat lainnya.

Malam itu, pakaian Uu menegaskan latar belakangnya sebagai tokoh islami. Memang bupati Tasikmalaya dua periode tersebut merupakan kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai ini dikenal sebagai partai islami karena berasas Islam. Dia juga keturunan ajengan (istilah untuk menyebut kiai dalam bahasa Sunda) Choer Affandi. Ajengan Choer adalah pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya.

RK Menepis Tuduhan Melalui Uu

Ridwan secara berkala menghadapi serangan terkait isu politik identitas. Salah dua isu politik identitas yang menyasar Walikota Bandung itu adalah tuduhan syiah dan pendukung LGBTQ.

Uu Ruzhanul Ulum dipilih mendampingi Ridwan karena ditengarai mampu menepis dua isu tersebut. Latar belakang Uu yang lahir dari keluarga pesantren dinilai tepat untuk menjadi bumper bagi Ridwan sekaligus untuk menjangkau para pemilih muslim. Uu adalah cucu KH Choer Affandi, pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya, salah satu pesantren dengan jaringan yang luas.

Seakan tidak cukup dengan latar belakang, Uu tampil dalam debat dengan tampilan visual yang menegaskan kembali identitas ke-Islam-an: mengenakan baju koko berwarna putih, peci berwarna putih, dan sorban berwarna hijau. Presentasi diri seperti itu membuat Uu menjadi pasangan satu-satunya dalam debat semalam yang menggunakan atribut ke-Islam-an.

Nuansa islami demi menarik pemilih muslim inilah yang kentara ditonjolkan pasangan Rindu. Salah satunya dengan membuat program-program yang berkaitan dengan pembangunan pesantren. Jauh hari sebelum masa kampanye, Ridwan sudah umbar janji akan membuat peraturan daerah (Perda) mengenai pesantren. Pada hari pertama kampanye, Ridwan pun membuat manuver simbolis dengan mengunjungi Pondok Pesantren Al Hikmus Salafiyah, Desa Cipulus, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta.

Dalam pemukaan debat, Ridwan Kamil membukanya dengan uraian yang sangat islami: "Misi kami jelas, Jabar tanhauna anil munkar', watumunina billah menjadikan Jawa Barat sebagai masyarakat terbaik yang mengedepankan kebenaran dan menjauhi kemungkaran, dengan cara menggunakan ilmunya para ulama, adilnya para pemimpin, dermawannya orang-orang kaya dan doa-doa malam kaum dhuafa."

Dominasi RK dan Tenggelamnya Uu

Uu memang tampil nyentrik, tetapi laku bicaranya menunjukkan hal lain. Dari total 5 sesi debat, laki-laki kelahiran 10 Mei 1969 itu berbicara hanya dalam satu sesi saja. Pasangan Uu, Ridwan Kamil (RK), melibas semua pernyataan dan pertanyaan di empat sesi lainnya.

Dalam sesi pertama, RK tampil menyampaikan visi dan misi paslon berjuluk 'Rindu' tersebut. Sedangkan dalam sesi kedua, RK membalas pertanyaan moderator debat Rosiana Silalahi mengenai ketidakharmonisan pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota. Menurut RK cara baru dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu usulan RK: membuat grup WhatsApp untuk saling menyapa antar kepala daerah.

"Tujuannya agar relasi yang diciptakan tak sekadar formal melainkan emosional sesuai dengan Jawa Barat. Selain itu, nantinya, jika kami terpilih, maka, kami punya instrumen untuk memperbaiki relasi tersebut. Contohnya, ya, jika walikota atau bupati nurut maka gubernur bisa memberi dana tambahan. Lalu, jika tidak nurut, anggarannya bisa dikurangi di tahun depan," ujar RK.

Saat RK menyampaikan hal itu dengan berdiri, Uu duduk memandangi dari belakang. Sesekali dia tersenyum dan menuliskan sesuatu dengan alat tulisnya. Dia pun hampir tidak pernah absen bertepuk tangan saat RK menyelesaikan satu termin pertanyaan.

Baru di sesi ketiga, Uu menyahut. Dalam sesi tersebut, Rosiana mempersilakannya bertanya kepada paslon nomor urut 2.

Dengan perlahan Uu mengatakan, "Terima kasih. Untuk pertanyaan ke nomor 2 kepada Asyik."

Belum sampai Uu melanjutkan kalimatnya, penonton bersorak. Ternyata, Uu salah sebut. Mestinya julukan paslon nomor urut 2 adalah Hasanah, singkatan dari "Hasanuddin-Anton Amanah". RK yang semula duduk tenang, memberi kode kepada Rosiana.

"Ke Hasanah, ya?" tanya RK, sembari tangan kirinya menunjuk lokasi paslon TB Hasanuddin-Anton Charliyan duduk.

Uu segera meralat pernyataan sementara RK menampakkan gestur meminta maaf kepada penonton.

Kegugupan Uu pun tidak berhenti di situ. Saat seharusnya memberikan tanggapan untuk jawaban paslon Hasanah pada termin selanjutnya, Uu malah kembali bertanya.

"Yang saya rasakan kalau internet itu kan harus ada perangkat-perangkat lain, kalau di kota yakin ada, yang ada pertanyaan saya bagaimana kalau di sebuah desa yang ekonominya lemah jadi tidak ada perangkat-perangkat lain yang mendukung internet masuk ke wilayah tersebut, apa konsep yang bapak tawarkan?" sebut Uu.

Rosiana pun menegur, "Maaf bukan pertanyaan lagi Pak Uu, Anda harus menanggapi pernyataan Pak Anton."

Selain itu, babak menegangkan lainnya bagi Uu adalah saat TB Hasanuddin mempersoalkan kasus intoleransi keagamaan yang terjadi di wilayah Tasikmalaya. TB Hasanuddin mencatat Satpol PP sempat membubarkan pengajian yang diselenggarakan suatu kelompok tarekat.

Uu mengiyakan peristiwa tersebut. Dia berdalih tarekat tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan tarekat Nahdlatul Ulama (NU) atau yang dianggap sejajar oleh majelis ulama. Karena itu, Uu, sebagai bupati, tidak mengizinkan kegiatan tersebut berlangsung.

Lantas, Anton Charliyan membalas. Menurutnya, dalam kasus tersebut negara justru hadir memberikan intoleransi. Kalimat Anton ini jelas kritikan tajam bagi paslon Rindu yang memiliki strategi "meningkatkan toleransi antar umat beragama".

RK pun tidak tinggal diam. Saat Rosiana mempersilakan Uu menanggapi, RK unjuk bicara.

"Yah masalah itu tadi di visi misi kami sudah menyampaikan kepemimpinan kami adalah kepemimpinan dialogis. Terhadap perbedaan selalu ada yang penting kita rajin komunikasi, nanti kalau terpilih gubernur wakil gubernur akan turun langsung sebagai moderator dalam forum-forum hari ini," sebut RK.

Di satu sisi, kegugupan Uu sinambung dengan pernyataannya kepada Tirto saat ditanya soal kesiapannya menghadapi debat. Pagi hari sebelum acara debat, Uu memperkirakan berbagai pertanyaan akan dijawab lebih banyak oleh RK. Menurutnya, RK sudah lebih terbiasa tampil di media.

"Kalau saya, kan, masih agak gugup dengan media," kata Uu kepada Tirto.

Di sisi lain, dominasi RK atas Uu dalam debat serta kegugupan Uu itu seperti mengulang performa RK dan Oded Muhammad Danial saat memimpin Kota Bandung. Sebagai wakil walikota Bandung, Oded kalah populer dibanding RK.

Lembaga Indonesia Strategic Institute (INSTRAT) menyelenggarakan survei elektabilitas kandidat walikota Bandung pada 22-26 September 2017 dengan responden sebanyak 500 orang yang tersebar di seluruh Kota Bandung. Alhasil, hanya 10,4 persen responden menyatakan bakal memilih Oded jika Pemilihan Walikota (Piwalkot) Bandung berlangsung tanpa RK. Angka itu jauh di bawah responden yang menyatakan belum menentukan pilihan (61,8 persen). Pun jika responden ditanya dengan pertanyaan terbuka soal calon walikota yang ada dibenakya, sebanyak 30,9 persen responden menyatakan bakal memilih RK sedangkan 9 persen lainnya memilih Oded.

Selain itu, hasil survei INSTRAT juga menunjukkan sebanyak 63,2 persen responden setuju untuk memilih calon walikota Bandung yang didukung RK. Artinya, selama hampir 5 tahun menjabat, Oded tidak bisa menaikkan popularitas dan elektabilitasnya.

Umbar Janji Rindu

"Waktu saya mulai menjadi walikota Bandung, gini ratio kota Bandung sebesar 0,48. Di akhir jabatan saya berhasil diturunkan menjadi 0,44."

Kalimat tersebut diucapkan RK tidak lama setelah Demiz menyebut Kota Bandung sebagai wilayah dengan gini ratio (tingkat ketimpangan) tertinggi di Jabar. Gini ratio merupakan salah satu ukuran yang menggambarkan ketimpangan di suatu wilayah. Semakin tinggi gini ratio, distribusi kekayaan di suatu wilayah semakin tidak merata.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menyatakan Gini Ratio Kota Bandung pada 2016 sebesar 0,44. Angka tersebut menjadikan Kota Bandung sebagai wilayah administratif dengan gini ratio tertinggi di Jawa Barat, disusul Kota Bogor (0,43) dan Kota Tasikmalaya (0,42).

Di Jabar, wilayah kota memang memiliki Gini Ratio lebih tinggi dari wilayah kabupaten. Tujuh kota di sana masuk dalam tujuh wilayah administratif dengan Gini Ratio tertinggi di Jawa Barat. Semuanya memiliki gini ratio di atas 0,4.

Sedangkan tiga wilayah administratif dengan gini ratio terendah di Jawa Barat pada 2016 adalah Kabupaten Indramayu (0,26), Kabupaten Tasikmalaya (0,3), dan Kabupaten Bekasi (0,31).

Periksa Data Ridewan 1

Meski menduduki posisi puncak, gini ratio Kota Bandung berangsur menurun. Pada 2014, gini ratio Kota Bandung sebesar 0,48. Sementara pada 2015 dan 2016, gini ratio Kota Bandung masing-masing sebesar 0,44. Soal gini ratio, ucapan RK dan Demiz sesuai dengan data yang dilansir BPS.

Dalam debat yang dilaksanakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) itu, RK juga sempat membanggakan penghargaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk penerapan sistem online lelang di Kota Bandung. Menurutnya, sistem ini bersama aplikasi anti-korupsi bakal dia terapkan untuk kabupaten/kota lain di Jabar sebagai cara menanggulangi korupsi.

"Insya Allah, jika kami terpilih, maka, 27 daerah di Jawa Barat kita wajibkan menggunakan sistem aplikasi anti-korupsi yang sudah di-approve dan dikurasi KPK," sebut RK.

Menurut situs Bandung Integrated Resources Management System, program tersebut digagas World Bank melalui program Open contracting. Program tersebut pun bersifat nasional dengan Bandung sebagai kota rintisan (pilot project).

Periksa Data Ridwan 2

Jabar Juara “Insya Allah”

Meski sedikit keliru soal penghargaan, sistem dan aplikasi itu toh masih berupa janji. RK pun cermat. Dia bubuhkan kata "Insya Allah" di depan kalimat.

Sepanjang 5 sesi debat, kata "Insya Allah" hanya digunakan tiga orang kandidat: RK, Achmad Syaikhu, dan Sudrajat.

Sudrajat menggunakannya satu kali dalam sesi ketiga saat dia menjamin terhindarnya Pilgub Jabar 2018 dari kekacauan politik. Sedangkan Achmad Syaikhu menggunakan sebanyak dua kali, pertama saat menjelaskan visi-misi dan kedua saat menanjikan peningkatan indeks akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.

Sementara itu, RK menjadi pengucap kata Insya Allah terbanyak, yakni 4 kali. Selain disebut saat menjanjikan penerapan aplikasi anti-korupsi, RK tiga kali menggunakan Insya Allah sekaligus dalam ucapan penutupnya di sesi kelima.

"Yang kedua, kami masih muda. Berlari insya Allah paling cepat, melompat insya Allah paling tinggi. Yang ketiga, kami cucu para kiai, insya Allah akan membawa Jawa Barat tegak dalam agama, iqomattuddin. Oleh karena itu, ikut rombongan kereta dari pasangan yang namanya Rindu, penuh inovasi, penuh kolaborasi, dengan selalu membawa semangat kebersamaan," sebut RK.

Kata "iqomattuddin" tersebut pun menandai RK dengan hal lain: satu-satunya kandidat yang mengucapkan sejumlah frasa bahasa Arab selain assalamulaikum dalam pertama Pilgub Jabar 2013. Dua frasa lainnya diucapkan RK dalam sesi kesatu dan keempat.

"Kuntum khairo ummah ukhrijat linnaasi ta'muruuna bil ma'ruuf watanhauna 'anil munkar watu'minuunabillah," sebut RK dalam sesi kesatu.

Sedangkan dalam sesi keempat RK mengatakan, "Ridhollah fi ridhol walidain. Tidak ada ridho Allah tanpa adanya ridho orang tua, khususnya ibu." kata RK.

Dengan demikian, RK pun menyeimbangkan citra islami yang ditampilkan Uu lewat pakaian. Dalam hal ini, jelas betapa paslon Rindu berusaha keras menghadirkan nuansa islami, tidak hanya dalam visi-misi, tetapi juga dalam ucapan dan pakaian.

Baca juga artikel terkait DEBAT PILGUB JABAR 2018 atau tulisan lainnya dari Husein Abdulsalam

tirto.id - Politik
Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Zen RS