Nasib Milenial Tua yang Bermimpi Bisa Punya Rumah Idaman

Oleh: Ringkang Gumiwang - 8 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Generasi milenial memiliki ceruk pangsa pasar yang besar bagi perbankan khususnya kreditur KPR, tapi apakah bisa diserap?
tirto.id - Inda, 28 tahun, perempuan yang tinggal di Jakarta Selatan, sudah lama mendambakan memiliki tempat hunian di Tangerang Selatan. Sayang, pengeluaran bulanan saat ini cukup besar, sehingga tidak memungkinkan untuk mencicil KPR, padahal usianya sudah mendekati kepala tiga.

“Mau beli rumah di Tangsel, tapi uangnya masih belum cukup. Terkendala uang muka dan cicilannya pun juga lumayan berat. Jadi saya pikir indekos dulu aja, sekalian menabung,” katanya kepada Tirto.

Selain Inda, para milenialyang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997—lain juga ingin memiliki tempat hunian. Sayangnya, harga rumah selalu melambung tinggi setiap tahunnya, memiliki rumah masih jauh dari harapan.

Kesulitan milenial untuk mendapatkan rumah juga tergambar dengan hasil survei yang dilakukan oleh sejumlah lembaga, salah satunya adalah riset yang dilakukan Kompas pada 7-11 April 2017. Pada survei itu, sebanyak 300 responden berumur 25-35 tahun yang tinggal di tujuh kota besar ini, hanya 39 persen yang sudah memiliki hunian, sedangkan 61 persen sisanya belum memiliki tempat tinggal.

Kesulitan generasi milenial untuk mendapatkan rumah juga bukan tanpa sebab. Selain harga rumah yang makin mahal, milenial juga memiliki 'kebutuhan' lainnya yakni jalan-jalan atau berpelesiran yang mengedepankan aspek pengalaman. Di sisi lain, semakin usia yang bertambah akan semakin konservatif bagi seseorang untuk membeli hunian.

Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2018 menunjukkan bahwa sebanyak 63 persen dari 1.020 responden di seluruh Indonesia mengaku berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan. Tercatat dari total responden yang optimistis membeli rumah, sebesar 44 persen berasal dari kelompok usia 21-29 tahun alias milenial muda, dan 35 persen dari kelompok usia 30-39 tahun atau milenial tua.

"Ini karena kelompok usia yang lebih tua sudah punya rumah atau mereka sudah memiliki banyak tanggungan, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk keperluan sehari-hari sudah cukup besar, membuat mereka harus berpikir dua kali jika harus mengambil cicilan rumah," kata Marine Novita, Country Manager Rumah.com.


Di sisi lain generasi milenial adalah pasar potensial bagi dunia industri apapun termasuk perbankan Apalagi, jumlah generasi milenial Indonesia diprediksi menjadi mayoritas pada 2020. Sektor perbankan mencari peluang dari pasar generasi milenial. Baru-baru ini, PT Bank Tabungan Negara Tbk. meluncurkan program kredit kepemilikan rumah (KPR) khusus milenial.

Di laman resminya, ajakan bagi milenial untuk membeli hunian terpampang jelas. “KPR Gaeesss! KPR-nya Generasi Milenial. Nikmati kemudahan pengajuan KPR/KPA khusus untuk kalian para Generasi Milenial.”

Program KPR khusus milenial ini disiapkan BTN guna memenuhi keinginan milenial dalam mendapatkan tempat hunian, apartemen maupun rumah tapak. Tentunya, KPR BTN ini juga disiapkan agar bisa terjangkau bagi milenial. Misalnya, debitur tidak perlu lagi mengendapkan dananya di rekening. Biasanya, calon debitur memang disyaratkan untuk mengendapkan sejumlah uang di rekening bank, di mana calon debitur mengajukan KPR, sebagai bentuk uang jaminan.

BTN juga memberikan diskon biaya provisi maupun administrasi hingga 50 persen. Biaya-biaya proses KPR yang dikeluarkan debitur itu pun akan masuk dalam plafon kredit. Artinya, debitur bisa lebih hemat atau tak banyak menguras kantong.

BTN juga memberikan kemudahan berupa fasilitas uang muka minimal 1 persen bagi debitur KPR rumah pertama. Selain itu, debitur KPR Gaeesss juga bisa cuti membayar utang pokok selama 2 tahun. BTN juga memberikan suku bunga ringan sebesar 8,25 persen (fixed) selama 2 tahun. Agar beban angsuran bisa lebih ringan lagi, BTN juga memberikan tenor kredit hingga 30 tahun untuk KPR, dan 20 tahun untuk KPA (apartemen).


Selain itu, proses pengajuan KPR juga disesuaikan dengan karakter milenial yang menyukai hal-hal yang serba digital. Calon debitur bisa mengajukan KPR secara online, melalui www.btnproperti.co.id. Berbagai kemudahan yang diberikan bank tentunya akan diikuti dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat tersebut antara lain nasabah yang mengajukan KPR Gaeesss tersebut harus berusia 21-30 tahun, memiliki pendapatan/gaji tetap dan minimal sudah bekerja 1 tahun di perusahaan yang sama.

“Kami menargetkan KPR Gaeesss bisa membukukan kredit baru sebesar Rp1,5 triliun hingga Desember 2018, atau sekitar Rp500 miliar per bulan,” kata Direktur Bank BTN, Budi Satria kepada Tirto.

Infografik KPR Milenial

Nasib Sial Milenial "Tua"

Secara sekilas, tawaran yang diberikan BTN untuk para milenial itu seolah bisa menjawab masalah milenial untuk mendapatkan hunian terjangkau. Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto menilai pangsa pasar milenial sebagai debitur KPR memang besar. Namun, untuk menarik milenial ini tidak mudah.

“Memiliki hunian memang belum menjadi prioritas generasi milenial. Belum didesak harus memiliki tempat tinggal. Lalu ditambah juga gaya hidup mereka yang dinamis, sehingga tidak ingin terikat di suatu properti,” kata Ferry kepada Tirto.

Namun, tidak sedikit juga milenial yang ingin segera memiliki rumah, hanya saja terkendala harga. Untuk itu, strategi yang bisa dilakukan perbankan untuk menarik milenial, adalah dengan memberikan cicilan murah.

“Ada tiga cara yang bisa dilakukan, yakni memberikan uang muka ringan, suku bunga kecil dan tenor panjang. Nah, dari ketiga itu, tenor yang panjang mungkin bisa sedikit mengurangi cicilan,” tutur Ferry.


Mari kita coba simulasikan, asumsinya untuk simulasi pertama, Tuan A mengajukan kredit untuk rumah seharga Rp500 juta dengan bunga fix 8,25 persen untuk 2 tahun, tenor 20 tahun dan uang muka 1 persen. Dengan memakai simulasi KPR dari BTN, nilai angsuran per bulan untuk dua tahun pertama sebesar Rp4,2 juta per bulan. Setelah itu, berlaku bunga floating 12,5 persen, sehingga nilai angsuran menjadi Rp5,6 juta.

Untuk simulasi kedua, asumsi yang digunakan sama seperti simulasi pertama. Bedanya, tenor kredit yang dipakai untuk simulasi kedua adalah tenor 30 tahun. Nilai angsuran untuk dua tahun pertama tercatat Rp3,6 juta. Setelah itu menjadi Rp5,25 juta.

Dari kedua simulasi itu, maka cicilan dengan tenor 30 tahun hanya lebih ringan sekitar Rp400.000-Rp600.000 per bulan ketimbang cicilan dengan tenor 20 tahun. Ini artinya persoalan milenial yang ingin punya rumah bukan hanya soal kemudahan mendapatkan akses KPR dengan syaratnya yang beragam, tapi bagaimana melakukan komitmen pembayaran kredit yang berlangsung relatif lama.

Bila ada milenial berusia 30 tahun mengajukan dan lolos KPR, mereka baru merasakan terbebas dari potongan cicilan utang rumah saat di usia senja dan mendekati tak produktif. Selain itu, syarat kemudahan KPR hanya berlaku kepada milenial usia maksimal 30 tahun, semakin mempersempit kesempatan dan asa para milenial tua yang berusia sudah "berkepala tiga". Mereka harus berpikir dua kali untuk punya rumah karena sudah banyak tanggungan.

Baca juga artikel terkait KPR atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Marketing)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra