15 Mei 1928

Mickey Mouse, Pelipur Lara Walt Disney

Ilustrasi Mickey Mouse. tirto.id/Sabit
Oleh: Joan Aurelia - 15 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
Riang gembira.
Si tikus Amerika
mengundang tawa.
tirto.id - Tiap kali pergi ke sekolah, Walt Disney mengisi kantung celananya dengan seekor tikus. Saat istirahat, ia meletakkan tikusnya di bangku kelas dan bermain dengannya. Teman-teman sekelas Disney tertawa melihat interaksi antara manusia dan hewan yang dianggap kotor itu.

“Itu adalah kenangan yang manis,” kata Disney dalam Walt Disney The Mouse That Roared (2011: 42) karya Jeff Lenburg.

Disney adalah seorang pria keturunan Jerman-Irlandia yang menghabiskan masa kecil di Kansas City, Amerika Serikat. Pada usia 20, ia memutuskan untuk berkarier di bidang seni komersial. Pria ini punya ketertarikan khusus pada penciptaan tokoh kartun dan animasi meski ia tidak punya bakat besar dalam hal gambar-menggambar. Ia menolak tawaran pekerjaan dari Elias Disney, sang ayah, dan melamar ke perusahaan periklanan di kota tersebut.

Pikiran Disney penuh dengan ide cerita. Ia punya obsesi membuat tokoh animasi populer. Di manapun ia bekerja, tujuan utamanya ialah menciptakan figur dan cerita animasi terkenal. Keinginan tersebut sempat diraih ketika tokoh ciptaannya, Oswald the Lucky Rabbit, sukses di pasaran. Waktu itu Disney bekerja pada Charles Mintz, pemegang hak distribusi Oswald. Bisa dikatakan, ia yang membuat Oswald jadi terkenal.

Setelah menyaksikan Oswald berhasil menarik keuntungan besar, Disney menginginkan pembagian hasil yang lebih tinggi. Ia juga ingin memegang hak cipta Oswald. Alih-alih dikabulkan, pihak distributor justru memutuskan menguasai hak cipta Oswald. Mereka pun merekrut para animator berkualitas yang membantu Disney dalam merancang Oswald dan memberi mereka upah dua kali lipat lebih besar.

“Mintz beranggapan jika bisa mempekerjakan orang-orang terbaik Disney, maka mereka juga tetap bisa sukses tanpa perlu mengeluarkan biaya distribusi,” tulis Christopher Finch dalam The Art of Walt Disney From Mickey Mouse to The Magic Kingdoms (1988: 23-24).


Hati Disney hancur. Sebetulnya saat itu ia berencana mendirikan perusahaan sendiri. Karenanya ia berpikir untuk memegang hak cipta Oswald. Apa boleh buat, Disney terpaksa memikirkan tokoh baru. Ia merasa membutuhkan hewan berukuran kecil. Pilihan jatuh pada tikus karena Disney menganggap hewan tersebut adalah ciptaan yang menarik.

“Tikus terlintas di pikiran saya saat sedang dalam perjalanan menuju Hollywood menggunakan kereta. Saya langsung membuat sketsa sosoknya di buku gambar,” tulisnya dalam artikel “What Mickey Means to Me” yang dimuat di buku A Mickey Mouse Reader (2014).

Sukses tapi Dirugikan Produser

Kemudian Disney memperlihatkan gambarnya kepada Ub Iwerks, animator dan kawan lama Disney. Iwerks menyempurnakan gambar tersebut. Dalam bab “A Perfect Fit: A Mouse Named Mickey”, Lenburg menyatakan bahwa Iwerks ialah animator fenomenal di zaman itu. Dalam sehari ia bisa membuat 700 gambar. Ia terus berkutat dengan si tikus selama dua minggu. Akhirnya mereka menemukan gambaran sosok kartun yang mereka suka: tikus kecil bersiluet tiga lingkaran.

Disney berkata tubuhnya bagai buah pir. Telinga dibuat bundar agar bentuknya tetap sama meski ia tengah melakukan gerakan berbeda. Ia mengenakan sepatu besar agar terkesan sebagai anak kecil yang mengenakan sepatu ayahnya. Ia mengenakan sarung tangan karena Disney ingin membuatnya terlihat seperti manusia.

Disney memberi nama si tikus itu 'Mortimer'. Istri Disney tidak menyukai nama tersebut. Ia lebih suka nama ‘Mickey’ karena terdengar lebih ramah. Cocok dengan karakter tokoh yang ceria, energetik, nakal, dan sedikit pemalu.

Disney segera membuat cerita pendek tentang Mickey. Pada 15 Mei 1928, tepat hari ini 90 tahun lalu, Plane Crazy, film kartun pendek yang menayangkan Mickey sebagai tokoh utama, pertama kali ditayangkan. Waktu itu tidak ada produser yang mau bekerja dengan Disney. Dalam artikel “Mickey Mouse: How He Was Born”, Disney menulis bahwa saat itu para produser tengah berkonsentrasi untuk menambah alat produksi suara dalam film agar bisa membuat film bersuara seperti The Jazz Singer karya Al Jolson.

Ia pun berpikir untuk membat kartun bersuara. Disney pergi ke New York untuk mencari produser yang bisa membantunya untuk membuat film bersuara. Di sana ia bertemu Patrick Powers, produser independen yang saat itu sedang mencari calon pengguna alat untuk menaruh suara dalam film yang ia miliki. Mereka lantas membuat perjanjian kerjasama selama 10 tahun. Powers berjanji akan mendistribusikan film Disney dan meminjamkan uang untuk produksi. Pada November 1928, Disney menayangkan Steamboat Wille di layar lebar. Film ini sukses besar.

Lagi-lagi, kesuksesan tidak membuat Disney untung. Ia dirugikan oleh produser. Selain mengambil persenan keuntungan, Powers meminta Disney membayar uang sewa perangkat produksi. Jumlah yang diminta Powers saat itu sebesar $100.000. Produser ini juga membajak Iwerks yang menerima tawaran Powers karena ia merasa berbeda pendapat dengan Disney soal artistik.


Makin Tajir Berkat Suvenir

Roy Disney, kakak Walt Disney, mengusulkan untuk membuat suvenir dan menjual lisensi Mickey sebagai cara meningkatkan penghasilan Disney. Lisensi pertama dibeli New York Mirror pada 1930. Media tersebut menayangkan komik Mickey dalam salah satu kolomnya. Pada tahun yang sama, Disney memberi izin kepada George Borgfeldt & Company untuk memproduksi mainan dan produk lainnya yang menampilkan karakter Mickey.


Artikel “He Gave Us Mickey Mouse” yang terbit pada 1933 menyebut bahwa di Inggris ada 30 perusahaan pemegang lisensi Mickey yang memproduksi berbagai produk seperti sendok, mainan, buku gambar, perhiasan, sampai pisau cukur. Di Eropa, ada 60 harian cetak yang memuat komik Mickey.

Lewat tulisan “Mickey Mouse Emerges as Economist”, L.H. Robbins menyebut divisi lisensi Disney ialah salah satu divisi tersibuk. Pada 1935, Disney telah memberi lisensi Mickey Mouse kepada 80 perusahaan di Amerika Serikat, 15 di Kanada, 15 di Australia. Perusahaan ini juga membuka cabang di beberapa negara seperti Paris, Kopenhagen, Barcelona, dan Lisbon.

“Penjualan komoditas terus meningkat seiring dengan produksi film baru. Buku Mickey Mouse terjual 2,4 juta eksemplar. Di pusat perbelanjaan, anak-anak menenteng tas Mickey yang berisi sabun, permen, kartu, sisir, jam, botol minum bergambar Mickey. Di kios makanan, mereka makan di meja bergambar Mickey sambil menyantap biskuit Mickey sambil mendengar lagu Mickey dari radio,” tulis Robbins.

Sementara itu di kantor, Disney melarang karyawan untuk lembur. Ia memastikan para pekerja bisa duduk di kursi malas yang nyaman agar mampu menghasilkan ide segar. Di kantor itu ada 40 animator, 45 asisten animator, 30 orang untuk mengecat latar gambar, staf suara, fotografer, dan ahli kimia. Dalam waktu lima tahun setelah film Mickey ditayangkan, Disney mempekerjakan 187 orang.


Lisensi saja belum cukup. Disney membentuk Mickey Mouse Club pada 1930. Artikel “The Mickey in Macy’s Window: Childhood, Consumerism, and Disney Animation” menyebut bahwa klub untuk anak-anak penggemar Mickey tersebut memberi ruang bagi anggotanya untuk menunjukkan talenta. Acara pertemuan diisi dengan berbagai kontes seperti kontes mendandani boneka atau kontes membuat mainan pesawat. Pada akhir 1930, 150 bioskop di Amerika memiliki Mickey Mouse Club.

Keberadaan klub ini tergantung kondisi keuangan Disney. Pada akhir 1980-an, Mickey Mouse Club (MMC) ditayangkan di stasiun televisi Disney Channel. Acara tersebut jadi cikal bakal lahirnya selebritas terkenal. Sebelum jadi penyanyi dan bintang film; sosok Britney Spears, Ryan Gosling, Christina Aguilera, dan Justin Timberlake jadi bintang di acara ini.

Akhir bulan lalu tayangan Carpool Karaoke yang dipandu James Corden menampilkan Christina Aguilera. Saat jeda lagu, mereka membahas pria yang pernah Aguilera taksir di masa kecil. Ternyata pria itu ialah Ryan Gosling, orang yang ia kenal di Mickey Mouse Club. Sebuah ingatan tentang Mickey yang membekas dengan cara berbeda.

Baca juga artikel terkait WALT DISNEY atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight