Menuju konten utama

Merawat Tradisi Berkemah di Masjid saat Babak Terakhir Ramadhan

Jemaah yang melakukan tradisi berkemah di Masjid Raya Habiburrahman, tak hanya dari Bandung saja, bahkan dari Bandar Lampung.

Merawat Tradisi Berkemah di Masjid saat Babak Terakhir Ramadhan
Jamaah menjalani iktikaf sepanjang 10 malam terakhir Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Raya Habiburrahman, Kota Bandung. tirto.id/Amad NZ.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - “Udah dari jaman SMP. Sekarang berkeluarga bawa anak. Dulu diajak mentor rohis, lalu terbiasa iktikaf di sini. Jadi terbiasa setiap tahun,” kata Anas Maulana di sela-sela memasang tenda di selasar Masjid Raya Habiburrahman, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/3/2026).

Laki-laki berumur 32 tahun itu merupakan satu di antara ribuan umat Islam yang berkemah di selasar masjid. Memasuki ujung Ramadhan, sayup-sayup tadarus Alquran terdengar dari luar surau yang sudah menjalankan tradisi iktikaf sejak 1998.

Puluhan tahun berlalu dan niat pengurus Masjid Raya Habiburrahman untuk membumikan Alquran, masih berlangsung hingga 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini. Saat Tirto berkunjung, ratusan tenda sudah memenuhi selasar masjid yang berada di Jalan Kapten Tata Natanegara, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo ini.

“Salat malam di sini cukup panjang. Sangat baik untuk memaksimalkan ibadah di Masjid Habiburrahman,” ujar warga asli Buah Batu, Kota Bandung itu.

Di tengah malam dalam momentum Lailatul Qadar. Dengan penuh takzim, mereka membaca ayat Alquran, mendengarkan kajian, serta menjalankan salat malam. Ragam usia dan asal daerah, mereka berusaha sebaik mungkin menghabiskan sisa bulan suci.

“Rutin saya lakukan iktikaf di sini. Sudah belasan tahun. Hampir tiap tahun dari semenjak nikah,” ungkap Wikan, seorang warga Jakarta, saat berbincang dengan kontributor Tirto.

Selalu ada yang dirindukan. Itu yang membuat kegiatan iktikaf menjadi rutinitas tahunan baginya. Kesan pertama kali iktikaf di Masjid Raya Habiburrahman adalah suatu momen yang tidak bisa dilupakan Wikan.

Iktikaf Ramadhan di Bandung

Umat Islam melaksanakan shalat malam saat beriktikaf di selasar Masjid Raya Habiburrahman, Bandung, Jawa Barat, Kamis (12/3/2026) dini hari. Sedikitnya 500 tenda dengan jamaah yang berkisar 2000 hingga 4000 orang dari sejumlah daerah di Indonesia melaksanakan ibadah iktikaf di masjid tersebut selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan guna mendapatkan malam Lailatul Qadar yang penuh berkah. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/bar

Konsep mendirikan tenda seperti tengah berkemah di selasar masjid, menurutnya, membuat ia berkesempatan memboyong keluarga untuk menjalani iktikaf.

“Mengajarkan anak-anak supaya dekat dengan masjid. Sepuluh malam terakhir adalah malam luar biasa. Malam Lailatul Qadar. Ini sarana buat sekeluarga sama-sama mendekatkan diri sama Allah,” cerita pria berumur 42 itu.

Ia mengungkapkan setiap tahun keluarga besarnya juga ikut beriktikaf. Mereka pun mendirikan tenda di selasar masjid. Tahun ini keluarga besar Wikan mendirikan tujuh tenda. Ia bersama keluarganya baru saja menginap sejak hari ke-22 ramadhan. Sang dokter gigi ini pun berencana, menyelesaikan iktikaf sampai momen Idul Fitri.

“Beres lebaran nanti mudik ke Jakarta,” lanjutnya sumringah, “alhamdulillah banyak kajian. Mungkin ini waktunya kami lebih fokus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.”

Sama halnya dengan mereka berdua, Yanti, 40 tahun, rutin mendirikan tenda setiap tahun di Masjid Raya Haburrahman. Persis, rutin ‘berkemah’ belasan tahun. Mulai dari menjalani iktikaf sendiri sampai tahun ini ditemani suami.

“Sekarang sudah punya anak pun setiap tahun ke sini, lebih ingin menumbuhkan rasa cinta masjid kepada anak. Lalu memberi memori baik 10 hari terakhir Ramadhan kepada anak-anak,” ujar ibu rumah tangga asal Kabupaten Bandung itu.

Ia memiliki kegiatan sendiri bersama keluarga kecilnya. Seperti setor hafalan dan bacaan Alquran sang anak, ibadah, serta salat malam bersama jemaah lain. Ia pun bersyukur dengan adanya fasilitas tenda, privasi keluarga masih terjaga. Ia lebih nyaman dan bisa fokus ibadah.

“Kalau kegiatan masjid ini seperti biasa, mulai tarawih, salat tahajud dan kajian-kajian Islam setelah salat wajib. Sudah terbiasa iktikaf di sini karena, ya, nyaman,” nilai Yanti.

Setiap Tahun Jemaah Makin Bertambah

Ketua Panitia Itikaf Masjid Raya Habiburrahman, Satya Krisnawan bercerita, tradisi yang dimunculkan sejak 1998 ini, semakin tahun semakin bertambah jumlah para jemaah. Tak hanya sekitar Bandung Raya, kali ini terdapat jemaah iktikaf yang berasal dari Bandar Lampung.

“Terus ada dari Bogor, Depok, Purwakarta, Subang, Sumedang, Tasik, Garut. Itu yang di luar Bandung. Utamanya memang Bandung Raya,” ujar Satya saat ditemui kontributor Tirto di ruang kerjanya, Sabtu (14/3/2026).

Berdasarkan data sementara pengurus, lanjut Satya, ada sekira 500-an lebih tenda yang sudah didirikan di selasar Masjid Raya Habiburrahman. Dengan perkiraan ada sebanyak 1.000 sampai 2.000 jemaah dalam kegiatan iktikaf pada tahun ini.

Menurutnya, semangat iktikaf jemaah kali ini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Terlihat dari antusias jumlah pendaftar. Jumlah jemaah kemungkinan besar bakal terus bertambah. Puncaknya ialah beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

“Di puncak-puncaknya bisa 4.000 jemaah. Kapasitas di sini kalau semua dioptimalkan bisa sampai 7.000. Apalagi mendekati malam ganjil Ramadhan itu bisa sampai 5.000- 7.000 orang,” sambungnya.

Iktikaf Masjid Raya Habiburrahman

Jamaah menjalani iktikaf sepanjang 10 malam terakhir Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Raya Habiburrahman, Kota Bandung. tirto.id/Amad NZ.

Kendati demikian, ia memastikan ketersediaan fasilitas dan antisipasi apabila terjadi lonjakan jamaah sudah disiapkan pengurus. Di antaranya penyediaan posko kesehatan hingga penambahan 10 toilet guna memenuhi layanan para jemaah iktikaf.

“Jadi kalau ada jemaah yang kecapekan, kelelahan, segala macam. Kami ada posko kesehatan dan kami siapkan nanti mobil kalau ada kondisi emergensi harus dibawa ke UGD,” ujarnya.

Awal Mula Tradisi Berkemah

“Niat awalnya adalah pada 10 hari terakhir iktikaf ini, kita me-charge, istilahnya supaya kembali ke fitrah itu. Kita konsepnya membumikan Alqur'an,” ucap Satya kala menjelaskan alasan pengurus Masjid Raya Habiburrahman memulai kegiatan iktikaf sejak 1998.

Jamaah yang menjalani iktikaf bukan hanya ragam usia dan asal daerah semata, melainkan juga sejumlah pejabat sempat ikut menjemput Malam Lailatul Qadar dengan berkemah di selasar masjid itu.

“Dulu zaman Kang Aher [Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat periode 2008-2018] itu di malam 27 Ramadhan beliau selalu hadir di sini. Sama Kang Oded [Oded Muhammad Danial, Wali Kota Bandung periode 2018–2023]. Beliau dan keluarganya pesan kavling. Mendirikan tenda untuk keluarganya,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, sepanjang kegiatan tersebut, diharapkan jemaah berinteraksi setiap hari dengan Alquran dalam waktu 24 jam selama 10 hari terakhir Ramadhan. Panitia iktikaf pun menyiapkan sejumlah agenda untuk memaksimalkan malam menuju Lailatul Qadar itu.

Kegiatannya, lanjut Satya, diisi dengan kajian-kajian tematik. Bada zuhur kajian mengenai hidup berkah dengan Al-Qur'an, ada Ustadz Budi Prayitno. Kemudian setelah itu, terdapat kajian saat memasuki salat Asar.

“Kalau asar temporer, ada syekh dari Palestina. Kami mengingatkan jamaah terkait dengan penderitaan saudara-saudara kita yang mengalami penindasan dari Zionis, tapi enggak tiap hari. Kami ada 4 sesi kajian untuk tiap asar,” lanjutnya.

Iktikaf Masjid Raya Habiburrahman

Jamaah menjalani iktikaf sepanjang 10 malam terakhir Ramadhan 1447 Hijriah di Masjid Raya Habiburrahman, Kota Bandung. tirto.id/Amad NZ.

Lalu kala memasuki waktu Maghrib, diawali dengan salat, buka puasa bersama, kajian singkat dan diakhiri dengan salat tarawih. Saat melaksanakan tarawih, jemaah disertai membaca Alquran selama satu juz, mulai dari jam 8 sampai kurang lebih setengah 10 malam.

“Setelah itu jemaah kami harapkan untuk rehat, tidur. Lampu-lampu utama kami matikan supaya juga suasana kita bikin tenang. Dibangunkan jam 12,” papar Satya.

Tengah malam tiba. Jemaah bersiap untuk qiyamul lail. Mereka menjalankan segala bentuk ibadah. Di antaranya membaca Alquran sebanyak dua juz.

Satya berharap dengan setiap satu hari menyelesaikan satu juz, jemaah selama iktikaf hingga selesai pada akhir Ramadhan, mampu khatam 30 juz.

“Baca Quran dari setengah 1 sampai setengah 4, setelah itu jemaah sahur. Lalu memasuki salat subuh dan setelahnya jemaah kembali mendapatkan kajian,” ujarnya.

“Kajian subuh mengingatkan lagi ke jemaah untuk meraih kesempurnaan bulan puasa. Dan memperbaiki akhlak kita selama itu. Jadi ini terus-terusan sampai 10 hari. Harapannya Idul Fitri itu kita kembali menjadi insan yang fitri,” ucap Satya.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Amad NZ

tirto.id - News Plus
Kontributor: Amad NZ
Penulis: Amad NZ
Editor: Bayu Septianto