Menuju konten utama

Jejak Mungsolkanas: Masjid Tertua Sembunyi di Gang Kota Bandung

Tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia, yang memakai bahasa Arab, Masjid Mungsolkanas menggunakan akronim dari kalimat berbahasa Sunda.

Jejak Mungsolkanas: Masjid Tertua Sembunyi di Gang Kota Bandung
Suasana di dalam Masjid Mungsolkanas, Jl. Cihampelas, Kota Bandung. Masjid yang didirikan tahun 1869 ini, meninggalkan dua bukti sejarah, yakni sebuah batu dengan ukiran bertuliskan Masjid Mungsolkanas dan Al-Quran yang ditulis tangan oleh sang pendiri. tirto.id/Amad NZ.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - “Ingat enggak kepanjangan Mungsolkanas, apa?” tanya kontributor Tirto kepada seorang anak yang selesai mengaji di Masjid Mungsolkanas, yang berlokasi di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (26/2/2026).

Mangga Urang Ngaos Sholawat Kanggo Kanjeng Nabi Muhammad SAW [Mari kita baca selawat untuk Nabi Muhammad SAW],” jawab anak yang bernama Raka, 12 tahun, itu.

Mendengar Raka mampu menjawab dengan penuh kepercayaan diri, teman-teman sebayanya ikut bangga. Anak-anak berusia belasan tahun itu sedikit merayakan dengan sebuah senyuman.

Tidak seperti kebanyakan masjid di Indonesia, yang memakai nama dari bahasa Arab, nama masjid ini justru menggunakan akronim dari kalimat berbahasa Sunda.

Masjid Mungsolkanas

Suasana di dalam Masjid Mungsolkanas, Jl. Cihampelas, Kota Bandung. Masjid yang didirikan tahun 1869 ini, meninggalkan dua bukti sejarah, yakni sebuah batu dengan ukiran bertuliskan Masjid Mungsolkanas dan Al-Quran yang ditulis tangan oleh sang pendiri. tirto.id/Amad NZ.

Saat Tirto berkunjung ke masjid tersebut, kegiatan mengaji sore sudah berlangsung seusai salat Ashar. Para anak muda dengan khusyu membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Beberapa yang lain mulai melantunkan selawat.

“Di sini sering selawatan bareng. Setiap hari. Beres ngaji dan sebelum ngaji. Kami berselawat itu bukan hanya memuji nabi, tapi membudayakan selawat,” ujar Raka menirukan perkataan yang diucapkan sang guru.

Masjid Mungsolkanas berlokasi di Gang Mama Winata, Jalan Cihampelas, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, beberapa kilometer sebelum memasuki Teras Cihampelas.

Melewati jalan turunan sedikit, sebelah kanan, tampak masjid dengan bagian depan disambut sebuah batu.

Masjid Mungsolkanas

Suasana di dalam Masjid Mungsolkanas, Jl. Cihampelas, Kota Bandung. Masjid yang didirikan tahun 1869 ini, meninggalkan dua bukti sejarah, yakni sebuah batu dengan ukiran bertuliskan Masjid Mungsolkanas dan Al-Quran yang ditulis tangan oleh sang pendiri. tirto.id/Amad NZ.

Sebuah batu hitam besar dengan ukiran nama dan tahun pembangunan masjid, yang terletak di depan pintu masuk. Terukir dalam batu itu Masjid Mungsolkanas berdiri sejak 1869, lalu bertuliskan Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Kanjeng Nabi SAW.

Nama Mungsolkanas memang tidak berasal dari Bahasa Arab yang biasa dipakai masjid-masjid pada umumnya. Masjid ini pun diklaim sebagai masjid tertua yang ada di Kota Bandung.

Salah satu pengurus masjid, Didin, 58 tahun, bahkan mengatakan, tak sedikit orang dihinggapi rasa penasaran dengan penamaan tersebut.

“Setiap orang juga heran, apa arti Mungsolkanas? Ya, bukan dari bahasa Arab. Ini memang singkatan, buat kita umat Muslim untuk selalu berselawat kepada Nabi Muhammad SAW,” ujarnya kepada Tirto di selasar masjid.

Kini bangunan masjid yang pernah menjadi tempat singgah Presiden ke-1 RI, Soekarno, menginap selama berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang masih bernama de Technische Hoogeschool te Bandoeng itu, terlampau kokoh dan hanya menyisakan bukti-bukti sejarah.

Diantaranya batu hitam dengan sebaris ukiran dan sebuah Al-Quran tulisan tangan. Tulisan tangan dari seorang ulama, Kiai Haji Abdulrohim, akrab disapa Mama Aden, sekaligus pendiri Masjid Mungsolkanas.

Masjid Mungsolkanas

Suasana di dalam Masjid Mungsolkanas, Jl. Cihampelas, Kota Bandung. Masjid yang didirikan tahun 1869 ini, meninggalkan dua bukti sejarah, yakni sebuah batu dengan ukiran bertuliskan Masjid Mungsolkanas dan Al-Quran yang ditulis tangan oleh sang pendiri. tirto.id/Amad NZ.

Tak adanya kesan klasik atau tua dari segi bangunan, kata Didin, akibat renovasi yang sempat dilakukan pada 1990-an. Berbeda dengan saat awal pembangunan masjid yang masih berupa berupa rumah panggung sederhana.

“Berbentuk kobong dari bilik kayu. Di depan masjid pada saat itu masih ada air mata di kolam. Namun sekarang selokan tersebut sudah kotor,” katanya.

Berdasarkan catatan pengurus masjid, bangunan Mungsolkanas pertama kali melakukan renovasi pada 1933. Bersamaan dengan pembangunan Masjid Raya Cipaganti oleh pemerintah Belanda.

Lalu proses renovasi masjid secara total terjadi pada 2009, dari yang semula bangunan satu lantai berubah menjadi dua lantai.

“Di dalam Masjid Mungsolkanas tersebut menjadi bukti nyata bagaimana penyebaran Islam berkembang pesat di wilayah Kota Bandung sejak lebih dari satu abad silam,” jelas Sekretaris DKM Mungsolkanas, Utep Rahmat, melalui pesan tertulis diterima Tirto.

“Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid bersejarah ini juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kesehatan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, Masjid Mungsolkanas tak hanya menjadi museum, tetapi tetap hidup sebagai masjid kampung yang aktif. Pengajian anak-anak, pengajian ibu-ibu, pendidikan usia dini, hingga kegiatan Ramadhan masih berjalan rutin di sana.

“Meskipun masuk ke dalam gang kecil, tetapi seperti melangkah ke lorong waktu, kembali ke Bandung yang lebih pelan, lebih ramah, dan lebih bersahaja,” tambahnya.

“Sebagai salah satu masjid tertua di Bandung, Masjid Mungsolkanas bukan hanya bangunan ibadah, tetapi juga penanda sejarah bagaimana Islam tumbuh di kota Bandung,” jelas Utep.

Masjid Mungsolkanas

Suasana di dalam Masjid Mungsolkanas, Jl. Cihampelas, Kota Bandung. Masjid yang didirikan tahun 1869 ini, meninggalkan dua bukti sejarah, yakni sebuah batu dengan ukiran bertuliskan Masjid Mungsolkanas dan Al-Quran yang ditulis tangan oleh sang pendiri. tirto.id/Amad NZ.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Amad NZ

tirto.id - News Plus
Kontributor: Amad NZ
Penulis: Amad NZ
Editor: Bayu Septianto