tirto.id - Jemaah khidmat mendengarkan Koko Rahmat. Ia tidak menjelaskan dalil panjang, melainkan metafora sederhana tentang bersihnya hati.
Di tangannya, dua gelas plastik.
Di depannya, dua ember berisi air.
“Jika kita tak salat dan berbuat baik, maka yang terjadi seperti air keruh ini, bidadari-bidadara. Tapi kalau kita berbuat baik, air keruh itu perlahan-lahan bersih seperti ini, “ katanya, menunjuk dua gelas plastik yang dia genggam.
Koko kerap menyapa jemaahnya dengan panggilan bidadari dan bidadara. Selain berupaya akrab, penjelasannya juga terkesan sederhana, meski sesekali keras menegur orang yang mengobrol saat ia tengah menjelaskan.
Sore menjelang Magrib di Masjid Lautze 2 Bandung, tausiah dimulai bukan dengan dalil panjang, melainkan metafora sederhana tentang hati.
***
Ramadhan hari kelima, saya tiba di tikungan Jalan Tamblong, Kota Bandung. Awalnya saya dan kawan hanya berniat ngabuburit, mencari takjil, menunggu waktu berbuka. Namun, suara tausiah dari pengeras masjid membuat saya memutar arah.
Rasa penasaran datang setelah kawan yang menumpang di jok belakang sepeda motor, melihat kerumunan orang di bangunan berwarna merah, menyerupai ruko, dengan lampion menggantung di depannya.
Akhirnya kami berputar menuju Jalan Braga, lalu kembali lagi ke Tamblong. Menikung ke sisi kanan jalan, tepat di depan Monumen Sepak Bola, majelis itu berlangsung.
Majelis kajian sore itu tak melingkar seperti biasanya, melainkan menjajar. Jemaah laki-laki duduk di sebelah kanan, perempuan di sebelah kiri. Dari tukang parkir hingga penjaja kopi keliling duduk takzim mendengarkan tausiah. Sesekali terdengar bisik-bisik kecil, yang segera ditegur Koko Rahmat.
Kajian digelar di pelataran masjid. Bangunannya mencolok merah menyala, lampion menggantung, huruf Tionghoa terpasang di atas pintu. Kegiatan itu rutin diadakan setiap Ramadhan, dikenal sebagai 'Takjil on Street'.
Pengajian dibarengi dengan pembagian makanan berbuka. Takjil tak hanya dibagikan kepada jemaah, tetapi juga kepada orang-orang yang melintas di sekitar masjid.
Milka (49) hampir tak pernah absen. Sudah dua tahun terakhir ia rutin mengikuti kajian itu. Di sela aktivitasnya berjualan kopi keliling, ibu dua anak asal Lengkong tersebut selalu menyempatkan diri datang ke Jalan Tamblong.
“Nyaman di sini, hatinya sreg,” kata Milka pada kontributor Tirto, Senin (23/2/2026).
Sambil menenteng termos dan dagangan kopi, Milka mengaku selalu merasakan sesuatu yang berbeda setiap kali duduk mendengarkan tausiah di situ. Ilmu yang disampaikan, katanya, tak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi terasa sampai hati. “Ke hati langsung meresap,” ujarnya.
Buat Milka, rutinitas mengaji menjadi jeda yang menenangkan di tengah kerasnya perjuangan mencari nafkah.

Berbeda dengan Fadil (23), yang mampir hari itu untuk merasakan takjil. "Sebagai penyelamat kecil," katanya.
Sudah hampir setahun ia berjualan kopi keliling. Sering kali, ketika azan Magrib berkumandang, ia masih berada di jalan. “Kalau lagi di jalan, belum sempat pulang. Disuruh berhenti dulu, makan dulu. Ya alhamdulillah, kebantu.”
Bagi Fadil, menerima takjil bukan semata mendapatkan makanan berbuka. Ia merasakan kebersamaan dan kehangatan sebagai momentum sederhana yang memberinya tenaga untuk melanjutkan aktivitas.
“Bisa buka puasa bersama. Syukur-syukurlah, alhamdulillah.”
'Takjil on Street' Sasar Mereka yang "Terpaksa" Berbuka di Jalan
Kegiatan 'Takjil On Street' di Masjid Lautze 2 adalah inisiatif untuk mendekatkan diri ke masyarakat. Dewan Masjid Lautze 2, Oting Hambali, mengatakan pembagian takjil kepada musafir; baik pengemudi ojek online, sopir angkutan umum, pekerja kantoran, atau bahkan pejalan kaki yang kebetulan melintas, merupakan kebaikan kecil yang ingin dihadirkan ke jalanan.
“Minimal di motor mereka ada air, takjil di sini bukan program musiman. Ini cara kami hadir di masyarakat. Kami hanya ingin kebaikan kecil tetap hidup di jalanan,” kata lelaki yang akrab disapa Abah Oting, saat ditemui bercerita ke awak media, Senin (23/2/2026).
Abah Oting menceritakan, program ini berlangsung sejak Ramadhan tahun 2021. Hingga Ramadhan tahun ini, setiap hari mereka membagikan lebih dari 1.000 porsi bekal untuk berbuka puasa.

Abah Oting menyebut baginya bukan jumlah yang penting, namun bentuk perhatian. Masjid Lautze 2 ingin konsisten hadir dengan menghadirkan kebaikan kecil di jalanan.
“Kita konsisten saja. Menurut saya, nanti akan ada hari ketika tidak ada lagi musafir, tidak ada pengemis. Kalau semua orang sudah mampu, kita mau bagi ke siapa?,” ujar Abah Oting.
Di luar bulan suci Ramadhan, denyut ketenangan mendekati sang Maha Pengasih tak padam. Abah Oting menyebut, masjid tetap hidup oleh pengajian rutin, kelas tafsir, dan pembinaan mualaf.
Hari Kamis untuk warga sekitar, hari Minggu untuk mereka yang baru mengikrarkan syahadat. Ada yang belajar membaca Al-Qur’an dari nol hingga mendalami akidah.
“Hari Minggu khusus pembinaan mualaf, meskipun jemaah lain juga ikut. Ada pengajian Al-Qur'an, tafsir, belajar dari dasar, sampai ke akidah,” jelas Abah Oting.
Sejarah Masjid Lautze 2
Masjid Lautze 2 dibangun Januari tahun 1997. Bangunan ini didirikan oleh Muslim keturunan Tionghoa, Haji Ali Karim. Perjalanan masjid cukup panjang, Abah Oting menyebut masjid ini awalnya bangunan kecil di Jalan Tamblong nomor 27.Secara konsep, desain bangunan mengikuti jejak Masjid Lautze 1 di Jakarta, terdapat ruang pembinaan, dialog, dan pendampingan bagi non-Muslim yang ingin mengenal Islam.
Tahun 2017 menjadi titik balik renovasi. Dua bangunan di sekitar, bangunan nomor 25 dan 29 dibeli. Dinding-dinding ditembus, ruang diperluas, jumlah jemaah pun perlahan ikut bertambah.

Bangunan yang semula sederhana perlahan menjelma menjadi pusat kegiatan yang nyaris tak pernah benar-benar kosong.
“Belakangan, ada yang numpang salat, lalu berkembang. Grup kami mulai aktif tahun 2017. Pertama beli nomor 27, renovasi. Tadinya seperti musala kecil. Lalu berkembang ke nomor 25, direnovasi juga, kemudian ditembuskan lagi ke nomor 29,” cerita Abah Oting.
Dia juga menekankan, Masjid Lautze tidak hanya melakukan pembinaan ke teman-teman Tionghoa. Jemaah mualaf datang dari berbagai ragam latar dan juga luar negeri. Beberapa datang dari Prancis, Amerika Serikat, dan bahkan Jeddah.
“Yang ikrar syahadat di sini ada dari Prancis, ada dari Amerika Serikat, ada juga dari Jeddah. Ada yang Chinese, banyak juga, tapi bukan khusus Tionghoa,” ucap Abah Oting.
Rumah Kedua Mualaf
Masjid Lautze 2 Bandung menjadi rumah kedua juga bagi mereka yang melakukan perjumpaan dengan Allah SWT dan kemudian mengucapkan syahadat. Abah Oting mengatakan, Januari 2026, ada 47 orang mengikrarkan syahadat. Totalnya tahun 2025 lalu, sekitar 350 orang.
Mereka yang ingin belajar agama Islam di Masjid Lautze 2, tidak hanya dari Kota Bandung. Oleh karenanya, tak jarang Dewan Masjid lantas mengarahkan pembinaan ke masjid terdekat dari calon umat.
"Tapi karena banyak yang dari jauh, misalnya dari Rancaekek, ada juga dari Lampung, biasanya kami serahkan pembinaannya ke masjid terdekat. Kalau yang bisa datang ke sini, ya kami terbuka,” bebernya.
Abah juga menyebut pengelolaan di Masjid Lautze 2 tak sepenuhnya diisi oleh mereka yang baru memeluk Islam. Sebagian dari mereka adalah Muslim dari lahir. “Sebagian iya [mualaf], tapi [misalnya] bendahara bukan mualaf,” katanya.
Islam, kata Abah Oting, bukan soal perdebatan sekte atau fanatisme mazhab. Islam datang melalui konsep rahmatan lil alamin yakni ketentraman yang dibuktikan dengan hati.
Ia juga mengatakan, siapapun boleh datang ke Masjid Lautze 2 Bandung. Masjid tidak menutup pintu bagi mereka yang sekadar ingin bertamu.
“Karena bisa dibuktikan dengan hati. Kami tidak bicara sekte, tidak fanatik mazhab. Siapapun boleh datang. Kalau mau ibadah, ya tentu harus Islam dulu. Tapi kalau sekadar meninjau, melihat-lihat, dipersilakan,” terangnya.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































