Menjadi Tua dan Sebatang Kara

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 29 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Panti sosial adalah imitasi rumah dan keluarga yang janggal.
tirto.id - Sri Alimah masih berkata "beruntung" ketika gempa tektonik berkekuatan 6,3 Magnitude Moment atau 5,9 skala Richter mengguncang kawasan Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Gempa ini meruntuhkan sebagian gedung, merusak 570-an ribu rumah hingga menewaskan 5.700-an jiwa di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Untung waktu gempa saya di jalan, kalau di rumah pasti mati,” ujar perempuan berusia 67 tahun ini.

Masih membekas dalam ingatannya, 28 rumah di daerahnya hancur, termasuk rumahnya sendiri. Sejak itu ia sebatang kara, dan menumpang tinggal di rumah ketua RT. Akhirnya Alimah memutuskan ke Jakarta untuk mencari tumpangan permanen, yakni panti jompo.

Pagi itu Alimah duduk di kasur bercagak besi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 di Jakarta Selatan. Di kasurnya terdapat jam weker, tiga buntalan benang sulam, dua gunting, dan jarum kristik. Kakinya lumpuh. Mobilitasnya bertumpu pada alat bantu walker. Jika jarak lebih dari 10 meter ia akan menggunakan kursi roda.

Satu hal yang Alimah sadari ia akan menghabiskan tenggang akhir hidup di panti itu. Untuk menghilangkan rasa sepi ia kerap merajut boneka untuk gantungan kunci, bercanda dengan teman sebaya, dan mengikuti beragam kegiatan rutin di panti.

“Di sini senang punya banyak kegiatan, temannya banyak,” katanya tersenyum.

Alimah hidup di antara orang-orang yang ditelantarkan keluarga. Orang-orang ini, berusia 60 hingga 90 tahun, membutuhkan pengasuhan, perawatan, pembinaan, dan perlindungan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Mereka rentan menjadi miskin, jadi korban tindak kekerasan, dan penyalahgunaan hukum.

Panti ini dibangun untuk mengimitasi bayang-bayang masa lalu para lansia. Sebab tak ada lagi rumah pengemban memori masa kecil, menjadi dewasa dan mampu bersikap, mendidik anak dan membina keluarga. Di sini mereka tinggal bersama orang yang bernasib sama, dengan pengawasan dari petugas kesehatan dan perawat.

Secara rutin mereka makan bersama di sebuah meja yang dikelilingi kursi-kursi. Ada televisi dan sofa empuk, mesin jahit, kamar mandi di ruangan tidur, serta ruang mencuci dan menjemur pakaian. Mereka diberi pakaian, pemeliharaan kesehatan, pelayanan bimbingan rohani dan psikologi, mengasah keterampilan bermain angklung dan merajut, olahraga, sampai rekreasi.

Elizabeth, ketua satuan pelaksana pembinaan sosial dari panti tersebut, menjelaskan di panti itu tak ada lansia yang dititipkan. Seluruhnya hasil "penjaringan" orang-orang terlantar oleh Petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial. Masing-masing menghadapi pemeriksaan awal. Tahap itu untuk menggali identitas diri serta mengidentifikasi masalah dan kebutuhan.

Setiap lansia akan diverifikasi melalui sistem online administrasi penduduk. Setelahnya akan dibuatkan KTP dan BPJS. Jika seorang lansia berkata memiliki keluarga atau seseorang yang siap menampung, pihak panti akan memverifikasinya. Tapi kebanyakan tak diterima kembali oleh keluarga dengan alasan kondisi ekonomi yang terpuruk dan hubungan keluarga yang renggang dan retak. Pada 2017, ada 28 lansia yang bisa kembali bersama keluarganya.

“Kami menyebut Pulan Gagu kalau tidak ada nama. Jadi ada Pulan Gagu 1, Pulan Gagu 2, dan seterusnya. Di sini baru dua,” ujar Elizabeth.

Kawasan ini seperti kompleks perumahan. Seluruhnya ada 14 ruangan termasuk tiga ruangan khusus untuk lansia yang membutuhkan perawatan khusus. Setiap ruangan diisi 20 tempat tidur. Sisanya ada delapan rumah berisi tiga lansia. Di selasar tiap ruangan ada taman.

Seluruh penghuni ada 300 orang. Karena kapasitas maksimal 240 orang, sebanyak 60 orang dipindahkan ke panti Sasana di daerah Dukuh, Jakarta Timur, yang setiap ruangan diisi 30 orang.

Miftahul Huda, Kepala Seksi Informasi dan Promosi Dinas Sosial DKI Jakarta, mengatakan seluruh panti sosial di Jakarta yang berjumlah 23 unit sudah melebihi kapasitas.

Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, jumlah PNS hanya 21 orang, sisanya 51 personel adalah pekerja harian lepas. Setiap ruangan dijaga satu PNS dan empat pekerja lepas. Nyaris setiap ruangan ada kamera pengawas alias CCTV.

Lansia cepat mengalami kemunduran dari segi fisik, psikis, maupun sosial. Proses degeneratif ini membuat para pegawai kesulitan membedakan lansia terjangkit demensia atau psikotik.

“Kami tidak dibekali ilmu kejiwaan. Biasanya kami panggil psikolog, karena yang psikotik kami rujuk ke Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit untuk rawat jalan,” ujar Elizabeth.

Setiap Selasa, secara rutin Rumah Sakit Duren Sawit mengirimkan mobil penjemput para lansia. Para penyandang psikotik berkadar ringan ditampung di panti ini.

Anda bisa melihat proses menjadi tua di panti ini: ada beberapa lansia membawa seluruh barang, ada yang memakai baju terbalik, ada yang menyanyikan doa, ada yang memarahi sebatang pohon mangga.

Ketika kolega sebaya mereka meninggal, para penghuni panti ramai-ramai melayat ke tempat pemandian jenazah di tengah kompleks. Mereka menangis dan mendoakan rekannya.

Saat berkeliling, rekan kami memotret kegiatan para lansia di teras rumah. Seorang lansia bernama Wiola menyeletuk, “Masuk teve ini?”

“Bukan, ini wartawan tulis,” sanggah Elizabeth.

“Tulis? Oh tanda tangan,” timpal Wiola. Saya dan beberapa lansia lain hanya menjawabnya dengan tawa.

Infografik HL Wajah Minoritas

Rentan Depresi

Kaino, 80 tahun, tengah serius menyulam keset di teras panti. Di tempat tidurnya berjajar foto-foto keluarganya. Rambutnya memutih. Tangan, leher, hingga wajahnya keriput.

“Saya ditarik empat orang, padahal itu lagi nunggu bus,” ujar Kaino menjelaskan proses bagaimana ia diciduk petugas panti sosial pada 2013.

Pria asal Solo ini mengisahkan pada 1949 ia merantau ke Jakarta untuk menjadi pedagang bakso. Satu per satu keluarganya meninggal hingga menjadikannya sebatang kara.

Hingga kini ia terus berusaha menabung untuk mencapai mimpinya keluar dari panti. Setiap keset hasil karyanya dijual Rp25 ribu. Dalam sehari ia mampu membuat 10 keset.

“Saya penginnya bebas, tidak dikurung gini, mau ke jalanan,” keluhnya.

Dalam satu kesempatan, saya mengajak ngobrol Tiena Martiny, yang sejak umur 16 tahun telah menjadi janda. Ia "dirazia" oleh petugas panti pada tiga bulan lalu saat berjualan pernak-pernik di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Usianya kini 70 tahun.

Ia buru-buru membuka lemarinya, mengeluarkan satu tas berisi beberapa buku. Ia membuka salah satu buku sisa-sisa peringatan ke-3 Lembaga Kebudayaan Nasional pada Mei 1964.

“Tiena Martiny menyanyikan lagu 'Gugur Bunga' dan keroncong sentimentil,” ujarnya membaca dirinya sendiri pada bagian halaman buku dengan ejaan lama itu. Ia bercerita saat itu tampil sepanggung dengan Patty Bersaudara, simpatisan Leknas.

Tiena lantas menyanyikan lagu "Gugur Bunga" dengan nada tinggi. Suaranya yang merdu mengisi ruangan yang menyimpan udara bau balsem dan minyak angin.

I have planning after this year ia can out from here,” ujar Tiena dengan bahasa Inggris seadanya. “I like creative in public. I must happy. I want to free is free.”

Tiena rindu bermain kembali dengan kawan-kawannya di jalanan.

Baca juga artikel terkait LANSIA atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight