Menuju konten utama
Kebijakan Moneter

Mengukur Potensi Penguatan Rupiah usai BI Naikkan Suku Bunga 6%

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS yang melemah mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang tengah memanas antara Israel dan Palestina.

Mengukur Potensi Penguatan Rupiah usai BI Naikkan Suku Bunga 6%
Petugas menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Nilai tukar rupiah kembali menembus level Rp15.300 pada perdagangan Selasa (4/10) siang, dimana sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah adalah mulai melandainya nilai dolar AS. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

tirto.id - "Siap-siap rupiah minggu depan menuju puncaknya di Rp16.000 per dolar AS".

Sebuah notifikasi pesan di atas masuk melalui grup WhatsApp (WA). Kabar itu disampaikan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi kepada awak media melalui grup WA yang berisikan 274 orang peserta tergabung di dalamnya.

Analisis perkiraan rupiah tersebut bukan tanpa dasar. Ibrahim melihat, pergerakan rupiah yang melemah mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang tengah memanas antara Israel dan Palestina.

Eskalasi perang membuat para pedagang tetap waspada terhadap aset-aset yang berisiko. Hal ini diperburuk oleh melemahnya pasar obligasi, karena para pedagang bersiap untuk menaikkan suku bunga.

Gejolak di Timur Tengah pasca Iran merekomendasikan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) untuk melakukan embargo minyak ke Israel, juga membuat kondisi di kawasan tersebut memanas. Walaupun OPEC sendiri sebenarnya masih belum merespons.

"Kondisi rupiah terus melemah bahkan mau menuju Rp16.000 akibat geopolitik di Timur Tengah serta cadangan devisa yang terus tergerus," ujarnya kepada wartawan, Kamis (19/10/2023).

Mengacu data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange ditutup sebesar Rp15.815 per dolar AS atau melemah 85,0 poin (0,54 persen) dari penutupan sebelumnya.

Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah hari ini berada di posisi Rp15.838 per dolar AS atau melemah dari posisi hari sebelumnya Rp15.731 per dolar AS.

Kurs Jisdor merupakan representasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari transaksi antarbank di pasar valuta asing, termasuk transaksi dengan bank di luar negeri.

Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah melihat, pelemahan rupiah ini disebabkan banyak faktor. Utamanya, karena dolar menguat di tengah gejolak global akibat adanya perang antara Hamas dan Israel.

"Sementara di sisi lain suku bunga The Fed masih tinggi dan diyakini masih akan naik," ujar dia kepada Tirto, Kamis (19/10/2023).

Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 19-20 September 2023 waktu setempat, bank sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil berada level 5,25 persen-5,50 persen. Namun, suku bunga acuan The Fed diperkirakan masih akan dinaikkan sekali lagi pada tahun ini ke kisaran puncak 5,50 persen-5,75 persen.

"Saya kira BI [Bank Indonesia] tidak akan diam saja. Buktinya, misal BI hari ini menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga saya kira tidak lepas dari tekanan nilai tukar rupiah yang sangat besar. Rupiah sudah menembus Rp15.800. BI tentu tidak ingin rupiah terus melemah," ucap Piter.

BANK INDONESIA NAIKAN SUKU BUNGA ACUAN

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berjalan saat akan menyampaikan keterangan pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (19/1/2023). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/YU

Respons Kebijakan BI dengan Kenaikan Suku Bunga

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Oktober 2023 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75 persen.

"Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkat tingginya ketidakpastian global," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Kamis (19/10/2023).

Untuk mengendalikan mata uang Garuda, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, mikroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk stabilisasi nilai tukar rupiah akan diarahkan melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Stabilisasi nilai tukar juga dilakukan melalui implementasi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen moneter yang pro-market dalam rangka memperkuat upaya pendalaman pasar uang, mendukung upaya menarik portofolio inflows, serta untuk optimalisasi aset SBN yang dimiliki Bank Indonesia sebagai underlying.

Perry memahami bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terjadi saat ini selaras dengan ketidakpastian global yang meningkat berasal dari arah kebijakan bank sentral AS. Pelemahan ini juga terjadi akibat serta eskalasi konflik antara Israel dengan Hamas.

"Perekonomian global melambat dengan ketidakpastian yang semakin meningkat tinggi," ujar Perry.

Imbas dari ketidakpastian global yang meningkat, aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Investor dalam hal ini memilih untuk mengalihkan dananya ke pasar keuangan negara maju yang dinilai lebih stabil, dengan imbal hasil aset yang kian meningkat.

"Berbagai perkembangan tersebut mendorong pembalikan arus modal dari negara emerging market economies ke negara maju ke aset yang lebih likuid, cash is the king," tutur Perry.

Dengan beralihnya dana asing dari emerging markets, indeks dolar AS sebagai mata uang utama terus merangkak naik, di mana per 18 Oktober mencapai 106,21 atau menguat 2,60 persen secara year to date (ytd). Akibatnya, hampir seluruh mata uang dunia melemah, seperti yen Jepang yang anjlok 12,44 persen secara ytd, dolar Australia terkoreksi 6,61 persen, dan euro terdepresiasi 1,40 persen.

Pelemahan juga terjadi terhadap mata uang kawasan Asia Tenggara, seperti ringgit Malaysia terkoreksi 7,23 persen, baht Thailand turun 4,64 persen, dan peso Filipina turun 1,73 persen.

"Dalam periode yang sama, dengan langkah-langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terdepresiasi 1,03 persen ytd, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara di kawasan dan global tersebut," jelas Perry.

RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR

Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Selasa (3/1/2023). Rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp15.601 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.573 per dolar AS akibat dipicu kekhawatiran Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.

Kenaikan Suku Bunga Belum Bisa Redam Pelemahan Rupiah

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, meskipun BI sudah menaikkan suku bunga acuan, pelemahan rupiah masih tidak bisa diredam. Ia bahkan memperkirakan rupiah bisa tembus hingga Rp16.100 per dolar AS.

"Kenapa? karena meskipun BI naikkan suku bunga, 25 basis poin tapi belum mampu juga menutup celah atau selisih antara surat utang AS imbal hasilnya dengan imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia atau SBN," ujar Bhima kepada Tirto, Kamis (19/10/2023).

Bhima menuturkan dengan adanya gap di atas, otomatis membuat investor asing mencari instrumen lain yang berbasis dolar.

Selain itu, pelemahan nilai tukar juga berlanjut akibat adanya tekanan berasal dari defisit migas. Di tengah harga minyak naik, kata Bhima, memaksa Indonesia untuk mengimpor minyak dengan biaya lebih mahal.

Saat ini, harga minyak Brent berjangka diperdagangkan 90,76 dolar AS per barel. Harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS kini berada pada 87,75 dolar AS per barel.

Belum lagi kebutuhan impor pangan terutama beras juga sedang tinggi dan membuat biaya impor mahal. Pada akhirnya membutuhkan valas untuk membeli beras dari luar negeri.

"Dan ini adalah konsekuensi yang cukup buruk. Karena rupiah bisa melemah dari sisi besarnya kebutuhan impor valas," kata Bhima.

Faktor pelemahan lainnya juga tidak lepas dari ekonomi Cina yang tengah mengalami pelemahan. Pertumbuhan ekonomi Cina sebagai mitra dagang besar Indonesia di 2024 diperkirakan hanya berada kisaran 4,6 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi domestik.

"Dan ini membuat kinerja ekspor juga akan tertekan jadi devisa dari ekspornya juga semakin lama semakin terbatas. Cadangan devisa mulai menurun," ujar Bhima.

Dengan kondisi tersebut, kata Bhima, BI harus menaikkan suku bunga acuan secara signifikan misal 50 basis poin. Jika tidak, maka rupiah akan mengalami pelemahan yang cukup dalam sampai akhir tahun.

"Apalagi kalau melihat kebutuhan impor barang barang dan selain itu valas digunakan juga untuk kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang pemerintah dan swasta di akhir tahun ini akan membuat juga Rupiahnya semakin tertekan," jelas Bhima.

Baca juga artikel terkait RUPIAH MELEMAH TERHADAP DOLAR AS atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang