Mengenal Bunga Edelweis: Ciri-Ciri dan Asal Mula Penyebutan Namanya

Oleh: Dewi Adhitya S. Koesno - 16 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Bunga Edelweis: ciri-ciri, sejarah dan awal mula pemberian nama bunga.
tirto.id - Bunga Edelweis sedang Trending di Google dan menjadi pembicaraan di media sosial pada Rabu (16/9/2020).

Hal itu karena aksi seorang pendaki wanita yang memetik dengan sengaja bunga Edelweis di kawasan Gunung Lawu.

Tindakan wanita itu sempat direkam seorang pria yang sudah mengingatkan agar tidak memetik bunga Edelweis. Tetapi ia tetap saja melakukannya.


Edelweiss Bunga Abadi


Bunga Edelweis juga dijuluki sebagai bunga abadi, dan bunga ini mengandung hormon etilen yang dapat mencegah kerontokan kelopak bunga. Dengan hormon itu, Edelweis dapat mekar dan bertahan hingga 10 tahun lamanya, bahkan lebih.

Karena disebut sebagai bunga abadi, Edelweis sering dipetik untuk dijadikan suvenir atau kenang-kenangan dan dibawa turun oleh para pendaki. Padahal Edelweis sudah dilarang untuk dipetik karena dikhawatirkan dapat mengancam populasi bunga Edelweis Jawa yang dilindungi

Dikutip dari Balitbangham, larangan memetik bunga Edelweis seperti terdapat dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem, Pasal 33 ayat 1 yang berbunyi Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional.

Jika tetap melakukannya, maka ada ancaman penjara 10 tahun dan denda hingga Rp200 juta seperti tercantum dalam UU No.5 pasal 40 ayat 2.

Ciri-ciri Bunga Edelweis


Menurut situs Indonesia.go.id, Edelweis Jawa (Javanese Edelweiss) atau yang memiliki nama ilmiah Anaphalis Javanica biasanya tumbuh tidak lebih dari 1 meter.

Namun dalam kondisi tertentu, tumbuhan ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 8 meter, dengan batang sebesar kaki manusia.

Bunga Edelweis mampu hidup di atas tanah yang tandus dan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di pegunungan. Bunga-bunga Edelweis tumbuh saat musim hujan berakhir saat sinar matahari sedang insentif, di antara April hingga September.

Jika sudah mekar biasanya bunga ini banyak didatangi oleh sekitar 300-an lebih jenis serangga, yaitu kupu-kupu, lalat, kutu, lebah, tabuhan, dan lain-lain.

Bunga Edelweis Jawa biasanya tumbuh di tempat dengan ketinggian kira-kira 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) ke atas, tergantung suhu udara dan kelembapan.

Asal Mula Bunga Edelweis Jawa


Bunga Edelweis Jawa pertama kali ditemukan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat, Indonesia, oleh ilmuwan asal Jerman bernama Caspar Georg Carl Reinwardt, dan diteliti lebih lanjut oleh Carl Heinrich Schultz pada 1819.

Nama Edelweiss berasal dari bahasa Jerman, edel yang artinya mulia dan weiss artinya putih.

Indonesia memiliki sejumlah pegunungan dengan padang hamparan Edelweiss yang luas. Yaitu, di Gunung Lawu, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Papandayan.

Di Indonesia, khususnya di pegunungannya, juga temukan Edelweis jenis lain, yakni Anaphalis Javanica, yaitu jenis Leontopodium Alpinum yang hanya bisa ditemukan di sepanjang pegunungan Alpen di Eropa dan Gunung Semeru Indonesia.

Bunga Edelweis di Eropa


Sementara di pegunungan Eropa, seperti dilansir House of Switzerland, Edelweis, bunga gunung yang indah dengan kelopak bunga putih berbulu, dan sangat terkait dengan Pegunungan Alpen, sehingga sulit dipercaya bahwa bunga itu awalnya berasal dari Himalaya dan Siberia.

Pada paruh kedua abad ke-19, apa yang oleh ahli botani di Zurich sebelumnya disebut 'bunga wol' menjadi dikenal luas sebagai Edelweis dan mengambil status kultus khusus di Swiss.

Edelweis, Bunga dengan Banyak Kuntum dan Nama


Edelweiss, atau Leontopodium alpinum seperti yang dikenal secara ilmiah, secara teknis bukanlah satu bunga tetapi lebih dari 50 hingga 500 kuntum kecil yang dikelompokkan dalam 2 hingga 12 kepala bunga kuning (capitula), dikelilingi oleh 5 hingga 15 daun putih beludru (bracts) yang disusun dalam bentuk bintang.

Para ilmuwan percaya bunga itu bermigrasi dari Asia ke Pegunungan Alpen selama Zaman Es. Saat ini, dapat ditemukan di banyak negara Alpen di ketinggian (2.000 hingga 3.000 meter), dengan penampakan tertinggi yang tercatat di 3.140 meter tepat di atas Zermatt.

Bunga Edelweis biasanya mekar dari Juli hingga September di bebatuan kapur yang terbuka, tetapi juga dapat ditemukan di tepi padang rumput. Sejak tahun 1990-an telah dibudidayakan di dataran rendah dan semakin banyak ditemukan di taman pribadi.

Terlepas dari penampilannya yang halus, setiap organ bunga dirancang untuk tahan terhadap cuaca ekstrem, mulai dari batang bawah tanah yang tahan angin hingga daun yang mencegah evapotranspirasi hingga struktur mikro pelindung UV dari bracts berbulu.

Ini membuatnya sangat menarik untuk digunakan dalam kosmetik anti penuaan dan tabir surya.

Fitur unik dan penampilan bunga Edelweis telah menginspirasi banyak nama, dimulai dengan penyebutan pertama Wollblume ('bunga wol') oleh naturalis Zurich Konrad Gessner pada abad ke-16.

Kemudian ada pula Klein Löwenfuss ('kaki singa kecil'), étoile du glacier ('bintang gletser'), étoile d'argent ('bintang perak') atau immortelle des Alpes ('bunga abadi Alpen') dan semuanya telah digunakan oleh berbagai ahli botani dan ahli biologi untuk menggambarkan bunga Edelweis.


Baca juga artikel terkait BUNGA EDELWEIS atau tulisan menarik lainnya Dewi Adhitya S. Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dewi Adhitya S. Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight