STOP PRESS! Pejabat Pajak Handang Soekarno Divonis 10 Tahun Penjara

Mengapa Orang-Orang Kaya di Asia Membeli Lukisan Mahal?

Mengapa Orang-Orang Kaya di Asia Membeli Lukisan Mahal?
Liu Yiqian, salah satu kolektor lukisan mahal. FOTO/AFP
Reporter: Arman Dhani
11 Juli, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Ada alasan mengapa orang-orang kaya membeli lukisan dengan harga yang luar biasa mahal.
tirto.id - Balai lelang Christie baru baru ini menjual lukisan impresionis Max Beckmann dengan nilai $45,8 juta kepada seorang kolektor di Asia. Ini menjadi lukisan lain yang dibeli oleh kolektor asal Asia. Sebelumnya, miliuner asal Jepang Yusaku Maezawa membeli lukisan karya Jean-Michel Basquiat dengan harga $110,5 juta. Selain Maezawa, ada pula Soichiro Fukutake dari Benesse Holdings dan Hikonobu Ise dari Ise Group Inc. yang menjadi patron bagi banyak seniman di Asia.

Mengapa banyak sekali miliuner di Asia yang menjadi kolektor karya seni? Mungkin Farah Wardani, asisten direktur untuk Resource Centre National Gallery Singapore, bisa memberikan sedikit gambaran tentang fenomena ini. Menurutnya, ekosistem seni rupa Asia booming terutama sejak krisis keuangan Eropa-AS 2006-2008 dan naiknya Cina serta Korea sebagai kekuatan ekonomi. Banyak nouveau riche alias Orang Kaya Baru (OKB) dan pembentukan kelas menengah baru di Cina, Korea, Malaysia, Singapura, dan juga Indonesia.

“Seni rupa dilihat sebagai salah satu sektor yang menarik bagi kasta baru ini, selain memiliki nilai budaya [menjadi patron], juga nilai ekonomi [investasi]. Sejak ini juga ada tren baru yaitu namanya Global Art, yang sebenernya lebih menandai tren perkembangan mobilitas dunia seni rupa yang menjadi semakin ‘internasional’,” katanya.

Selain faktor kebangkitan ekonomi Asia, ada pula pengaruh perkembangan teknologi, informasi dan media, serta transportasi yang semakin mudah dan murah. Ekosistem seni rupa sekarang terbentuk dari jejaring patron, pelaku, kolektor, pekerja, dan seniman, dengan ajang-ajang seperti art fair, biennale, festival, dan even seni reguler lainnya. Farah berpendapat tren seni global hari ini tidak jauh beda dengan tren lari.

Secara sederhana, orang yang memiliki kesenangan serupa akan mampu bikin komunitasnya sendiri, jika event itu ada di luar negeri ia akan datang, lantas ia akan membikin jejaring.

“Dengan kemeriahan dan kemudahan seperti inilah kolektor-kolektor paling papan atas saling berkompetisi untuk mengklaim yang ‘terbaik’. Salah satunya mendapatkan karya yang sudah dianggap kelas dunia, semahal apa pun,” kata Farah.

Farah tidak salah. Sheikha al Mayassa binti Hamad al Thani dari Qatar, misalnya, adalah salah satu sosok paling berpengaruh dalam seni rupa di Arab. Oleh Forbes ia dijuluki sebagai ratu seni tak terkalahkan. Sheikha al Mayassa adalah adik dari penguasa Qatar dan seorang kolektor yang tekun. Ia memimpin museum Qatar, bertugas melakukan akuisisi karya seni atas nama negara dan museum itu.

Setiap tahun, ia mendapatkan anggaran satu miliar dolar untuk pembelian karya seni. Koleksi seninya misalnya lukisan Damien Hirst, Andy Warhol, dan Mark Rothko. Ia juga mengoleksi karya seni dari seniman Arab seperti Jewad Selim, Mahmoud Moukhtar, Faraj Duham, dan Ali Hassan. Sheikha al Mayassa berupaya menjadikan Qatar sebagai tujuan seni terbaik di Arab, bahkan di Asia. Ia menjanjikan karya-karya seni paling penting dalam sejarah Islam dan Arab bisa dinikmati berdampingan dengan seni rupa karya seniman Barat.

Farah menilai banyak kolektor papan atas di Asia, yang kebanyakan adalah miliuner dan memiliki galeri pribadi, menjadikan karya kelas dunia sebagai bukti dan simbol status. “Ya selain mahalnya juga ada perasaan memiliki benda bersejarah atau menjadi patron budaya global itu tadi, memantapkan kedudukan. Jadi lukisan itu seperti piala,” katanya.

Tren ini sebenarnya telah dimulai oleh Jepang sejak 1990an, seperti saat lukisan van Gogh dibeli oleh pengusaha Jepang dengan harga mahal. Tren ini dilanjutkan setidaknya oleh beberapa miliuner seperti Yusaku Maezawa.

Keberadaan balai lelang juga menjadi penting bagi banyak kolektor karya seni di Asia. Balai lelang menjadi pusat penjualan barang-barang seni mahal dari seniman di Eropa, Amerika, dan Asia sendiri. Termasuk di dalamnya barang antik, perhiasan langka, lukisan, benda purbakala, pusaka kerajaan, sampai harta karun. Balai lelang seperti Christie's atau Sotheby's mendapatkan reputasi dari sana.

“Christie’s cukup ketat dalam menjaga reputasinya. Walau pernah ada selentingan menjual barang palsu ini-itu, tapi selentingan enggak pernah sampai merusak reputasinya,” kata Farah.

Farah menyebut bahwa keberadaan balai lelang dengan reputasi baik akan terus menumbuhkan kolektor baru. Mereka punya pasar baru yang lebih luas karena pertumbuhan ekonomi melahirkan orang kaya baru dan memiliki ketertarikan terhadap karya seni.

Pierre Chen dari Taiwan misalnya, terhitung masih sangat muda tapi telah memimpin Yageo, perusahaan penyedia komponen elektronik di Taiwan. Ia memiliki koleksi lukisan dari Francis Bacon, Gerhard Richter, Mark Rothko, Willem de Kooning, Peter Doig, hingga Thomas Struth.

Mengapa Orang-Orang Kaya di Asia Membeli Lukisan Mahal?

Bagaimana Balai Lelang Bekerja

Jika anda penasaran bagaimana balai lelang bisa menjual karya seni penting dan menjamin keasliannya, Farah menjelaskan beberapa tahapan yang ia ketahui. Jika Anda memiliki karya seni penting dari seniman terkenal, sebut saja Paul Gauguin, maka petugas dari balai lelang akan datang untuk melihat dan menilai karya itu.

“Juru lelang atau auctioneer biasanya punya tim spesialis sendiri, bisa melibatkan kurator, bisa tidak, yang nanti ke mana-mana buat mengumpulkan karya. Proses awalnya sesimpel itu tapi kemudian yang paling penting adalah proses pencatatan tentang provenance (penelusuran asal usul dan otentitas) dari karya tersebut,” jelas Farah.

Pencatatan provenance penting untuk mengetahui si kolektor ini punya karyanya asalnya bagaimana, apakah warisan keluarga atau sumber lain. Jika karya itu didapat dari orang lain, siapa orang yang dulu memilikinya, hingga informasi paling detil. Faktor ini yang bisa menjamin keaslian karya tersebut. Pengarsipan dan dokumentasi seniman dan karya juga sangat penting. 

“Kalau karya-karya yang nggak terlalu lama sih provenance-nya mungkin simpel saja ya. Tapi bayangkan kalau karya seni ratusan tahun, atau permata/perhiasan yang juga sudah berabad-abad, nah ini mereka akan mempekerjakan ahli (biasanya sejarawan atau pakar) untuk menuliskan provenance history karya itu,” jelas Farah.

Provenance analysis ini juga metode yang sama yang dipakai museum-museum internasional untuk menjustifikasi akuisisi/pembelian karya dan merupakan materi mutlak untuk dimasukkan ke dalam database koleksi. Sejarah harga juga termasuk ke dalam provenance. Misalnya dulu sebuah karya dibeli oleh kolektor A, 30 tahun lalu, dengan harga x, lalu ia dijual lagi ke kolektor B, tahun sekian, harganya naik lagi.

“[Penilaian] gitu terus sampai dilelang. Harga jual terakhir yang menentukan bukaan harga untuk bidding," terang Farah.

Selain mempercayakan kepada kurator, balai lelang atau kolektor kerap kali lebih percaya pewaris atau anggota keluarga untuk menilai keaslian karya. Terutama di Asia Tenggara yang sistem legalitasnya untuk mendukung Artists Estates (penjaga legacy seniman, bisa keluarga atau yayasan) belum jelas. Padahal, menurut Farah, negara dengan apresiasi seni baik biasanya mendukung dan mengayomi lembaga penjamin keaslian ini melalui museum sebagai institusi tertinggi dalam memberi nilai sejarah karya/benda.

Baca juga artikel terkait LUKISAN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - dan/msh)

Keyword