Mendikbud Nadiem: Gelar Bukan Segalanya, Belajar Tak Harus di Kelas

Oleh: Andrian Pratama Taher - 4 Desember 2019
Dibaca Normal 1 menit
Mendikbud Nadiem Makarim menargetkan setiap unit pendidikan bebas dari intervensi pemerintah maupun regulasi atau merdeka dalam belajar.
tirto.id - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menargetkan agar setiap unit pendidikan bebas dari intervensi pemerintah maupun regulasi atau merdeka dalam belajar. Hal itu dilakukan demi memenuhi target Presiden Jokowi terkait kemajuan SDM Indonesia.

"Kemerdekaan belajar itu apa artinya, kemerdekaan belajar itu artinya kemerdekaan di setiap jenjang unit pendidikan," ujar Nadiem saat memberikan sambutan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/12/2019).

Mendikbud menjelaskan pertama, saat ini seharusnya dunia pendidikan memasuki pradigama baru dimana pemerintah memberikan kebebasan, kepercayaan dan otonomi kepada institusi-institusi pendidikan.

Nadiem mengatakan, pemerintah menargetkan agar para mahasiswa yang lulus bisa bertindak, mencapai kesuksesan dan berkarakter.

Selain itu, kata Nadiem, dunia tengah masuk fase tidak menentu. Ia beralasan, gelar tidak lagi menjamin kompetensi, mahasiswa lulus bisa berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, hingga belajar tidak lagi harus di kelas.

"Kalau tidak bisa bicara terbuka mengenai isu-isu ini dan tidak bisa meningkatkan kualitas di dalam pembelajaran perguruan tinggi maupun di sekolah-sekolah ini yang harus kita challenge," kata Nadiem.

Nadiem mencontohkan dirinya merupakan lulusan Hubungan Internasional tetapi ia menjadi pengusaha di bidang teknologi. Oleh karena itu, Nadiem ingin agar para civitas akademik bebas menentukan pilihan, terutama kepada mahasiswa.

"Artinya apa yang kita pelajari apa pun yang kita lakukan, itu sering kali hanya starting poin kita. lalu kenapa kita tidak memberi kemerdekaan mahasiswa kita untuk melakukan berbagai macam hal di luar prodi di luar kelas, di luar kampus. Ini lah namanya kemerdekaan mahasiswa," pungkas Nadiem.

Kedua, kata Nadiem, mengubah paradigma bahwa dosen menggurui dan hanya memberikan ceramah. "Jadi dosen penggerak akan lebih banyak belajar dan menanyakan pertanyaan dari mahasiswanya daripada dia memberikan ceramah mengenai ilmunya. Dosen penggerak akan mencari ilmu baru secara otomatis dan akan mencari orang-orang lain untuk meningkatkan pembelajaran di kelasnya," jelas Nadiem.

"Dosen penggerak kalau melihat mahasiswanya punya kapabilitas melampauinya dia merasa bangga bukan terancam," terangnya.


Baca juga artikel terkait INSTITUSI PENDIDIKAN atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Maya Saputri
DarkLight