Menuju konten utama

Mencegah Demam Berdarah dengan Vaksin Dengvaxia

Berbagai cara dilakukan untuk memerangi demam berdarah, tapi penyakit ini bercokol di banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Akhirnya berita baik datang April lalu: vaksin dengue ditemukan.

Mencegah Demam Berdarah dengan Vaksin Dengvaxia
Petugas Puskesmas memperlihatkan stiker Waspada Demam Berdarah Dengue (DBD) saat sosialisasi ke sejumlah desa di Lhokseumawe, Aceh. ANTARA FOTO/Rahmad

tirto.id - Demam Berdarah Dengue (DBD) yang mengancam jiwa telah lama menjangkiti dunia termasuk Indonesia. Dengue hemorrhagic fever ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus DEN-1 hingga DEN-4 yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini ditemukan di lebih dari 120 negara.

Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia dengan angka kejadian dengue lebih dari 120.000 orang. Posisi pertama ditempati Brazil dengan angka kejadian lebih dari 400.000 orang.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia menjadi daerah endemis dengue, karena penyakit ini memang kerap mewabah di wilayah tropis dan subtropis. Kemunculannya pun biasanya meningkat ketika musim penghujan tiba.

Virus yang cepat berkembang ini telah menyebabkan hampir 390 juta orang terinfeksi setiap tahunnya. Data dari Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada 2015, penderita demam berdarah di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 129.179 orang dimana 1.240 diantaranya meninggal dunia.

Dengan tingginya angka itu, pemerintah Indonesia tak tinggal diam. Kementerian Kesehatan melalui dinas-dinas kesehatan di seluruh wilayah Indonesia gencar melakukan program untuk mencegah DBD misalnya dengan “1 Rumah 1 Jumantik”. Gerakan ini merupakan program pemberantasan sarang nyamuk. Masyarakat juga diajak untuk berperan aktif dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk.

“Gerakan ini sudah digaungkan sejak ADD 2015 yang lalu di Indonesia. program ini akan berjalan dengan baik jika adanya dukungan dan peran masyarakat Indonesia,” ujar Direktur Jenderal P2P, Dr H. Mohamad Subuh, MPPM, seperti dilaporkan depkes.go.id.

Selain itu, ada juga Gerakan 3M—menguras penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas. Tindakan pencegahan ini dinilai dapat mengurangi tempat bersarangnya nyamuk. Pemerintah juga melakukan program fogging.

Namun, selama ini program pemerintah bertumpu pada pengendalian nyamuk atau menghindari perkembangbiakan nyamuk. Padahal nyamuk sangat gampang berkembangbiak. Strategi fogging selama ini hanya dilakukan jika wilayah tersebut ada indikasi penularan DBD. Adapun penggunaan obat nyamuk semprot juga belum bisa diandalkan.

Akibatnya, DBD masih terus mencengkeram Indonesia. Hingga akhir Januari 2016 saja, Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan melaporkan ada kejadian luar biasa (KLB) dengue di 12 Kabupaten dan 3 Kota dari 11 Provinsi di Indonesia.

Sepanjang Januari dan Februari 2016, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat mencapai 492 orang, dengan jumlah kematian 25 orang pada Januari 2016. Kejadian pada Februari tercatat sebanyak 116 dengan jumlah kematian 9 orang.

Infografik Demam Berdarah Dengue

Vaksin Dengvaxia

Pada 15 April lalu, WHO mengumumkan adanya vaksis dengue, vaksin pertama yang memberi harapan bagi masyarakat Indonesia dan juga dunia dalam melawan DBD. WHO juga menerbitkan position paper atas vaksin dengue yang isinya merekomendasikan negara-negara endemis untuk mempertimbangkan pengenalan vaksin dengue tersebut.

Nama vaksin yang diresmikan WHO ini adalah Dengvaxia yang telah diteliti oleh Sanofi Pasteur selama 20 tahun. Indonesia dan negara lainnya di Asia Tenggara dan Amerika Selatan turut berpartisipasi dalam risetnya. Penemuan vaksin ini pun dinilai sebagai pencapaian dalam sejarah vaksinologi yang diyakini dapat menekan angka kejadian DBD.

Vaksin ini sekarang sudah hadir di Indonesia setelah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Indonesia pun termasuk dari 12 negara yang menyetujui dalam menggunakan vaksin dengue (Meksiko, Filipina, Brasil, El Salvador, Kosta Rika, Paraguay, Guatemala, Peru, Thailand, Singapura dan Bolivia).

Selain dinyatakan mampu memberi proteksi dari potensi terjangkitnya penyakit DBD, vaksin ini juga dinyatakan aman setelah dilakukannya studi klinis yang melibatkan 30 ribu peserta di dunia, termasuk di Indonesia. Ia bisa digunakan individu berusia 9-16 tahun, dan bisa digunakan oleh orang dewasa.

Hasil studi klinis juga menunjukkan bahwa vaksin ini dapat mencegah 2 dari 3 orang yang terinfeksi demam berdarah dengue. Angka perawatan di rumah sakit pun bisa turun sampai 80 persen dan kasus dengue berat turun sampai 92 persen.

Meski penting dalam mencegah demam berdarah, pengguna harus mewaspadai efek samping yang bisa terjadi. Misalnya nyeri di tempat suntikan, bengkak, dan kemerahan, selain demam, sakit kepala dan nyeri otot.

Meskipun sudah menemukan jalan pencegahan demam berdarah, peneliti utama dari studi klinis fase III Prof Sri Rezeki Hadinegoro, SpA, memperingatkan bahwa divaksinasi tak menjamin seseorang akan terbebas sepenuhnya dari kemungkinan terinveksi virus DEN-1 hingga DEN-4. Kemungkinan untuk terjangkit masih ada, meski lebih kecil dan gejalanya kemungkinan lebih ringan.

Tak hanya vaksin, baru-baru ini ada juga penemuan dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang berhasil menemukan efektivitas buah dan biji pare dalam membunuh jentik nyamuk DBD.

“Dalam buah dan biji pare mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan terpenoid yang cukup tinggi. Keempat senyawa itu memiliki kemampuan untuk membunuh jentik nyamuk,” ungkap mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Diyah Tri Utami, seperti dilaporkan Antara.

Senyawa yang ia sebutkan itu dapat mematik syaraf dan menyerang sistem pernafasan yang bisa mengakibatkan kematian pada hewan-hewan kecil seperti jentik nyamuk. Penggunaan biji pare ini dapat mengurangi penggunaan bahan kimia dalam menekan perkembangbiakan dari nyamuk.

Tapi, meskipun terdapat penelitian baru serta vaksin dalam mengendalikan DBD, menjaga kebersihan tetap harus dilakukan, agar nyamuk pembawa virus tak mudah berkembang biak.

Baca juga artikel terkait VAKSIN DENGUE atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Maulida Sri Handayani