Mempertanyakan Efektivitas Tol Layang Cikampek

Oleh: Suhendra - 22 Juni 2017
Dibaca Normal 1 menit
Tol layang Jakarta-Cikampek diyakini bisa memecah kepadatan kendaraan bila sudah beroperasi 2019 nanti. Persoalannya, sampai kapan infrastruktur boros emisi karbon ini bisa terus mengurai kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek?
tirto.id - Lembaran seng terpacak berderet di bahu jalan, membatasi beton-beton putih menjulang di bahu jalan, yang bersanding kepadatan lalu lintas kendaraan di bahu jalan Tol Jakarta-Cikampek, kawasan Bekasi, Senin sore lalu. Ini pemandangan lazim selama beberapa bulan terakhir, menandakan proyek pelebaran jalan untuk konstruksi Tol Layang Jakarta-Cikampek memasuki tahap persiapan.

Tol layang ini diharapkan mampu mengurangi kapasitas lalu-lalang kendaraan di ruas tol penghubung Jakarta-Bekasi-Cikampek. Kegiatan persiapan konstruksi proyek konsorsium PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Ranggi Sugiron Perkasa ini sudah dimulai sejak awal Maret lalu. Targetnya, tuntas selama 24 bulan atau bisa beroperasi pada April 2019.

Tol layang sepanjang 36,84 km ini membentang dari simpang Cikunir ke Karawang Barat. Pengendara menuju Bandung atau Cikampek tak perlu melewati jalur bawah. Mereka bisa langsung bablas lewat jalur layang.

“Sehingga kalau yang ingin keluar di gerbang tol Bekasi atau Cikarang, bisa lewat jalan tol yang bawah. Jalan tol layang dapat dipergunakan bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan ke tempat-tempat setelah Karawang Barat, sehingga tidak menambah kepadatan di daerah padat seperti Bekasi maupun Cikarang,” kata Iwan Dewantoro, pimpinan proyek PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek, kepada Tirto.

“Ini solusi dari kemacetan yang terjadi di sisa jalan atau bahu jalan,” tambah Iwan.

Kota Baru dan Kemacetan Baru

Proyek tol layang memang bakal menambah kapasitas jumlah kendaraan yang melintasi Tol Jakarta-Cikampek. Namun, di saat bersamaan, efek pembangunan infrastruktur baru akan mempercepat pusat-pusat pertumbuhan baru. Kawasan Karawang Barat, berbatasan dengan Cikarang yang menjadi ujung tol layang, kini dalam pengembangan Kota Baru Meikarta, mega proyek ratusan triliun rupiah milik Grup Lippo.

Baca: Kota Baru dan Mimpi James Riady di Meikarta

Yayat Supriatna, dosen Teknik Planologi dari Universitas Trisakti, mengatakan bahwa proyek Kota Baru Meikarta bisa muncul karena mengikuti pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek dan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Proyek properti James Riady ini menyediakan segala fasilitas pusat hunian, bisnis, pendidikan, dan sebagainya. Ia bakal menambah migrasi baru antara Karawang Barat dan Jakarta.

“Terlihat adanya kecepatan dalam pemanfaatan ruang. Munculnya kota-kota baru seperti Meikarta yang dekat dengan jalan tol itu indikasinya,” ujar Yayat saat dihubungi Tirto.

Yayat tak memungkiri pembangunan jalan tol layang, dalam jangka pendek, berperan membantu mengurangi waktu tempuh perjalanan di Tol Jakarta-Cikampek. Namun, infrastruktur tol baru ini juga harus dibarengi kebijakan lain seperti pembayaran tol nontunai di pintu-pintu keluar-masuk. Tujuannya, memangkas waktu transaksi sehingga kepadatan di pintu tol bisa ditekan.

infografik hl indepth efektivitas tol layang menjawab kemacetan


Menurut Djoko Serijowarno, pemerhati transportasi publik dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, menambah prasarana baru seperti tol layang di jalur Tol Jakarta-Cikampek tidak pernah ada titik akhirnya. Ia bisa mengatasi kepadatan lalu-lintas dalam jangka pendek. Tetapi, lazim dijumpai dalam tiap penambahan jalur baru, pelan-pelan akan dipenuhi dengan kendaraan.

Pembangunan jalan, singkatnya, tak bisa diandalkan untuk jangka panjang. Perlu dukungan transportasi massal yang harusnya lebih diprioritaskan, kata Djoko.

“Kalau sebagai solusi sementara, pembangunan jalan tol layang ini bisa dilakukan karena memang harus sesuai dengan kebutuhan tapi tidak bisa sampai seterusnya,” kata Djoko kepada Tirto.

Pengusaha pengelola dan investor tol pun sadar, jaringan jalan tol tak akan bisa sendirian mengatasi kemacetan lalu lintas di Jabodetabek. Ketua Umum Asosiasi Tol Indonesia Fatchurohman mengatakan bahwa tol layang di Jakarta-Cikampek memang akan lumayan efektif memecah arus kendaraan, tapi sifatnya untuk jangka pendek saja. Ia tak bisa mengelak pertumbuhan kendaraan roda empat sulit dibendung. Jalan tol baru Jakarta-Cikampek dipastikan akan kembali macet dalam beberapa tahun setelah dioperasikan.

“Sebenarnya tidak ada yang mampu mengatasi macet. Pertumbuhan mobil, kan, terus tinggi, rasio berapa pun akan kurang. Karena memang betul, ini bukan solusi jangka panjang. Sudah pasti tidak lebih dari 2-3 tahun hanya efektif mengurai kemacetan,” kata Fatchurohman kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait TOL CIKAMPEK atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Suhendra
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan