Menuju konten utama
Periksa Data

Mayoritas Generasi Sandwich Rasakan Dampak ke Kesehatan Mental

Lebih dari 51 persen responden menyebut rasa cemas terkait pemenuhan kebutuhan keluarga mempengaruhi kinerja mereka.

Mayoritas Generasi Sandwich Rasakan Dampak ke Kesehatan Mental
Header Periksa Data Generasi Sandwich. tirto.id/Fuad

tirto.id - Beban finansial yang lebih berat menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi generasi sandwich. Di sisi lain, mereka yang terhimpit untuk menanggung hidup generasi di atas (orangtua) serta generasi bawahnya (anak), juga masih harus menanggung beban psikologis.

Masalah kesehatan mental yang dialami generasi sandwich ini ini tergambar dan menjadi temuan dari survei yang dilakukan Tirto bersama Jakpat. Diketahui sebelumnya, bahwa dari sekitar 1.500 orang responden berusia produktif (antara 15-64 tahun), sekitar setengahnya mengaku sebagai generasi sandwich. Dari jumlah tersebut, mayoritas mengaku adanya pengaruh kondisi menjadi generasi sandwich terhadap kondisi mental mereka.

Dalam jurnalnya, "The 'Sandwich' Generation: Adult Children of the Aging", Dorothy A, Miller Profesor dari Universitas Kentucky --yang juga pertama kali mencetuskan istilah ini-- mengatakan generasi sandwich sangat rentan mengalami banyak tekanan karena merupakan sumber utama penyokong hidup orang tua dan juga anak-anak mereka.

Tekanan psikologis ini berakar dari besarnya tanggung jawab pemenuhan kebutuhan finansial serta jaminan kesehatan untuk anggota keluarga mereka, dibanding orang-orang yang tidak perlu bertanggung jawab atas kebutuhan orang tua mereka atau juga misalnya keluarga tanpa anak.

Organisasi nirlaba, Mental Health America, menyebut setidaknya ada empat pemicu stres yang rentan ditemui generasi sandwich. Mulai dari tidak punya waktu untuk diri sendiri, konflik dalam keluarga, rasa emosi yang kompleks, sampai dengan ekspektasi tinggi yang berujung perasaan gagal dalam menjalankan kewajiban.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih di Indonesia, lantaran menurut proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), dependency ratio di Tanah Air pada tahun 2025 diperikirakan akan mencapai angka 47,2.

Dependency ratio sendiri menggambarkan perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif dengan mereka yang berusia produktif. Ini berarti setiap 100 orang penduduk berusia produktif harus menanggung 47-48 orang lain yang berada di usia non-produktif. Angka ini bisa menjadi gambaran beban dan besaran generasi sandwich di Indonesia.

Lewat kerja sama dengan Jakpat, Tirto merancang sebuah survei untuk melihat berbagai persoalan yang dirasakan generasi sandwich di Indonesia, termasuk terkait kesehatan mental. Jakpat sendiri adalah penyedia layanan survei dengan lebih dari 1,3 juta pengguna di seluruh Indonesia.

Metodologi

Jumlah responden: 1.500 orang

Waktu survei: 11 Oktober 2023

Wilayah riset: Indonesia, tersebar di 33 provinsi

Instrumen penelitian: Kuesioner daring dengan Jakpat sebagai penyedia platform

Jenis sampel: Non-probability sampling (semua responden adalah responden Jakpat dengan profil yang acak

Margin of Error: Di bawah 3 persen

Profil Responden

Dari keseluruhan responden, jumlah laki-laki dan perempuan seimbang jumlahnya. Sementara pembagian berdasar kelompok umur, paling banyak responden datang dari kelompok usia 20-25 tahun (31,67 persen), diikuti dengan 30-35 tahun (21,33 persen), dan 26-29 tahun (19,27 persen). Sisanya sekitar 27 persen responden berusia di atas 36 tahun dengan yang responden tertua berusia 60 tahun.

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation. tirto.id/Quita

Berada di usia produktif, mayoritas responden (51,6 persen) mengaku bekerja di berbagai bidang, paling banyak dari sektor F&B, retail, pemasaran, edukasi, dan manufaktur. Tedapat juga 15,4 persen responden yang merupakan pelajar atau mahasiswa. Sisanya ada 11,3 persen yang berwiraswasta dan 10,3 persen lainnya ibu rumah tangga. Terdapat pula 11.3 persen lainnya yang mengaku saat ini sedang tidak bekerja.

Kebanyakan responden memiliki latar pendidikan SMA/sederajat (53 persen). Sedangkan mereka yang lulusan S1 sebanyak 31,93 persen. Terdapat juga responden yang lulusan D3 sebanyak 6,13 persen. Sisanya lulusan SMP (4,2 persen), S2 (1,93 persen), SD (1,07 persen), dan lain-lain (1,73 persen).

Sebaran responden masih dominan dari Pulau Jawa yang mencapai 80,53 persen. Kebanyakan responden ini tinggal di Jawa Barat (27,6 persen), DKI Jakarta (17,87 persen), Jawa Timur (12,53 persen), dan Jawa Tengah (10,57 persen). Terdapat pula responden dari Pulau Sumatra (9,8 persen), Sulawesi (3,27 persen), Kalimantan (2,67 persen). Sisanya responden tersebar dari wilayah lain di Tanah Air.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya dari total keseluruhan responden ini 50,6 persen di antaranya (759 orang) mengasosiasikan diri sebagai generasi sandwich, yang memiliki tanggungan minimal seorang anak dan seorang kerabat keluarga.

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation. tirto.id/Quita

Menjadi Generasi Sandwich Mempengaruhi Kesehatan Mental

Dari 759 orang responden yang mengaku sebagai generasi sandwich tersebut, hampir 60 persen mengatakan adanya keterkaitan antara posisi sebagai generasi sandwich dengan kesehatan mental mereka.

Sebanyak 39,13 persen responden menjawab bahwa menjadi generasi sandwich berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka, sementara 19,89 persen responden bahkan menjawab sangat berpengaruh.

Di spektrum berseberangan, terdapat 19,5 persen responden yang menjawab kondisi ini tidak berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka dan hanya 3,43 persen yang mengatakan sangat tidak berpengaruh. Terdapat pula 18,05 persen responden yang tidak yakin.

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation. tirto.id/Quita

Fenomena ini pun ditemukan juga di belahan dunia lain. Dalam artikel yang diterbitkan American Psychological Association (APA), disebut bahwa mereka yang secara khusus berada di kelompok umur antara 35-54 tahun --kelompok dengan jumlah generasi sandwich terbanyak-- merasakan lebih stres dibanding kelompok umur lainnya. Hal ini tidak lepas dari posisi mereka yang berada di kondisi harus merawat anak yang tengah bertumbuh dan orang tua yang mulai memasuki masa senja.

Executive Director APA Katherine Nordal menyebut hal ini sangat wajar dialami.

"Kekhawatiran terhadap kesehatan orang tua dan kesejahteraan anak-anak, ditambah urusan finansial untuk menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, serta menabung untuk masa pensiun sendiri, sangat banyak hal yang harus dipikirkan," ujarnya.

Perkara beban finansial yang kemudian merambah ke permasalahan psikis ini kemungkinan juga yang dirasakan generasi sandwich di Indonesia. Lantaran berdasar hasil survei, kebanyakan dari mereka merasa kesulitan mencapai tujuan finansial pribadi. Mereka bahkan mengaku perlu mengubah gaya hidup. Hal ini berdampak ke kesulitan mereka menyisihkan uang untuk dana darurat dan dana pensiun untuk masa depan.

Infografik Riset Mandiri Sandwich Generation

Infografik Riset Mandiri Sandwich Generation. tirto.id/Quita

Lebih lanjut, intensitas rasa cemas atau khawatir terkait upaya memenuhi kebutuhan keluarga juga berbeda-beda antar responden. Mayoritas responden merasa cemas tidak tentu waktu (26,88 persen) dalam upaya memenuhi kebutuhan keluarga.

Terdapat juga responden yang merasa cemas terkait pemenuhan kebutuhan keluarga beberapa kali dalam satu bulan (23,19 persen) dan bahkan setiap hari (22,66 persen), serta beberapa kali dalam sepekan (19,5 persen). Hanya 7,77 persen responden yang mengaku tidak merasa cemas sekali dalam upaya memenuhi kebutuhan keluarga.

Rasa cemas atau khawatir terkait pemenuhan keluarga ini juga memberi pengaruh ke kinerja dalam bekerja. Lebih dari 50 persen responden mengaku hal ini. Rinciannya, 39,71 persen mengaku rasa cemas berpengaruh terhadap kinerja mereka dan 12,14 persen lainnya menjawab sangat berpengaruh.

Terdapat juga 22 persen responden yang tidak yakin adanya pengaruh dari rasa cemas terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga terhadap kinerja mereka. Namun ada juga 24,57 persen responden yang mengaku tidak terpengaruh dan 1,57 persen yang mengaku tak menemukan korelasi antara rasa cemas ini dengan kinerja mereka.

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation

Infografik Riset Mandiri Survei Sandwich Generation. tirto.id/Quita

Hal ini perlu menjadi perhatian sebab berdasar hasil survei juga diketahui kalau kebanyakan generasi sandwich beranggapan perlunya pendapatan tambahan, salah satunya dari pekerjaan lain. Namun, masalahnya, menurut 33,33 persen responden, pendapatan tambahan ini tidak terlalu membantu meringankan beban finansial mereka.

Dalam artikelnya, Dokter Spesialis Psikiatri Rumah Sakit Pondok Indah dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ menjelaskan, generasi sandwich rentan terhadap masalah mental, termasuk di antaranya kelelahan fisik dan mental, gangguan tidur, baik banyak tidur atau kurang tidur, perasaan bersalah, merasa khawatir terus-menerus, hilang minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi, kecemasan, dan depresi.

Menurutnya, menyeimbangkan peran menjadi hal yang sangat penting untuk menekan tingkat stres. Beberapa cara yang disarankan dalam upaya mengelola rasa stres ini dapat dengan meminta bantuan, meluangkan waktu untuk diri sendiri, melakukan pertemuan keluarga, menjaga komunikasi yang baik, dan menikmati momen yang ada saat ini.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Periksa Data, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan lainnya dari Alfons Yoshio Hartanto

tirto.id - Periksa data
Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Farida Susanty