Menuju konten utama
Review:

Lirik Lagu Ebiet G. Ade Titip Rindu Buat Ayah dan Maknanya

Lirik lagu Ebiet G. Ade "Titip Rindu Buat Ayah" menceritakan tentang kerinduan anak terhadap orang tua. Berikut ini kisah dan maknanya.

Lirik Lagu Ebiet G. Ade Titip Rindu Buat Ayah dan Maknanya
Lirik lagu Ebiet G. Ade "Titip Rindu Buat Ayah" bisa mengingatkan kita terhadap betapa lelahnya orang tua bekerja. Ini gambar Ebiet G Ade tampil pada acara Synchronize Festival 2017 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/10/2017). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Lirik lagu Ebiet G. Ade “Titip Rindu Buat Ayah” mengingatkan kemuskilan hidup orang tua. Kendati dideskripsikan mengalami kekalahan berkali-kali, orang tua tetap tegar menjalani takdir dan nasibnya.

Permasalahan tentang mengerikannya menjadi tua juga pernah disampaikan Seno Gumira Ajidarma, yakni lewat karya “Menjadi Tua di Jakarta”. Namun demikian, ia lebih spesifik menggambarkan situasi ibukota.

Adapun lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah” Ebiet G. Ade secara khusus memperlihatkan kehidupan sang orang tua. Untuk memahami secara lebih dalam, simak lirik dan makna lagunya sebagai berikut.

Lirik Lagu Titip Rindu Buat Ayah Ebiet G. Ade

Lirik lagu Ebiet G. Ade “Titip Rindu Buat Ayah” bisa Anda nyanyikan ketika merasa kangen kepada orang tua. Makna di balik lirik ini dapat menciptakan suasana haru sekaligus sedih, mengingatkan kita kepada mereka yang lelah bekerja demi kehidupan.

Berikut “Titip Rindu Buat Ayah” lirik.

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah

Keringat mengucur deras

Namun kau tetap tabah

Meski napasmu kadang tersengal

Memikul beban yang makin sarat

Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

Kini kurus dan terbungkuk

Namun semangat tak pernah pudar

Meski langkahmu kadang gemetar

Kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu

Untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari

Kini kurus dan terbungkuk

Namun semangat tak pernah pudar

Meski langkahmu kadang gemetar

Kau tetap setia

Makna Lirik Lagu Ebiet G. Ade Titip Rindu Buat Ayah

Seno mengatakan, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”.

Kendati sama-sama menangkap keresahan itu, lagu Ebiet masih menunjukkan rasa semangat yang bernada sendu. Makna “Titip Rindu Buat Ayah” lirik berkisah di lingkup personal, tentang kedua orang tua, bahkan bisa jadi ayahnya sendiri.

Melalui lirik lagu “Titip Rindu Buat Ayah”, Ebiet mengisahkan pandangan sang anak tentang seorang ayah dengan segala kelelahannya. Bahkan, hingga menimbulkan “nafas tersengal”, tapi tetap tabah menjalani kehidupan.

Pemilihan diksi tentang perubahan fisik menjadi tua berpengaruh terhadap lagu ini, sehingga punya narasi yang kuat. Misalnya “Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari. Kini kurus dan terbungkuk”.

Di sisi lain, lirik lagu ini juga menarasikan perjuangan hidup orang tua yang sudah mengerti tentang asam garam kehidupan. Setelah tersadar akan lika-liku kehidupan bapak, anak ini teringat akan beban kehidupan yang juga harus ia jalani.

Ebiet G. Ade adalah musisi yang punya kepiawaian menulis lirik khas, kendati awalnya tidak pernah terpikirkan untuk menjadi penyanyi. Sebab, niat awal Ebiet adalah ingin menjadi guru agama.

Namun demikian, panggilan musik tetap begitu kuat hingga Ebiet bersekolah di Yogyakarta. Bukan hanya itu, sejak kecil ia memang sudah mempelajari musik dari kakaknya yang bernama Ahmad Mukhodam.

Kehidupan seni Ebiet makin berkembang ketika berumur 17 tahun, tepatnya pada 1971 silam. Kendati masih berusia masa sekolah, Ebiet kerap nongkrong dengan para seniman di Malioboro.

Malioboro dekade 70-an diklaim sebagai ruang publik inklusif, di mana seluruh lapisan masyarakat bisa berkumpul dan berinteraksi. Contohnya para seniman Yogyakarta yang kerap mementaskan karyanya di sana.

Di tempat ini, Ebiet mendapatkan pelajaran sekaligus panggung seni pertamanya. Ebiet juga sempat memperdalam kesusastraan dari tokoh di sana, misalnya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Eko Tunas, Linus Suryai, dan E.H. Kartanegara.

Adapun yang memberikan bimbingan paling utama adalah “Presiden Penyair Malioboro”, Umbu Landu Paranggi. Selain itu, Ebiet juga sempat mempelajari musik dari komponis bernama Kusbini.

Baca juga artikel terkait LIRIK LAGU atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Musik
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Ibnu Azis & Yuda Prinada